Huh,


Bete aja, ternyata saya salah menerjemahkan kalimat ini “Paket 2 Jam: Rp.5000/2 jam (07.00-15.00)”

Saya login sekitar pukul 14-an, dan tiba-tiba saja komputer (net) mati tepat jam3. Ternyata, paket HABIS, sudara-sudara…. hixhix…

*merasa bodoh*

One thought on “Huh,

  1. 5. Oh, No! We in Traped!

    Koridor ruangan sekolah yang tadinya sepi. Kini gaduh dengan suara hentakan kaki-kaki penasaran yang ingin melihat kejadian yang sebenarnya. Menemukan mayat di sekolah nampaknya lebih terdengar realistis daripada isu tentang hantu toilet yang bodoh di sekolah itu. Semuanya saling berlomba untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tak terkecuali Edo yang sebenarnya sangat bertanggung jawab atas semua kejadian itu.

    Edo langsung melesat keluar kelas tanpa mempedulikan teriakan guru matematikanya itu. Persetan dengan orang tua itu. Yang penting dia harus segera tiba di lokasi itu untuk menetralkan suasana disana.

    Kedua kakinya melesat bagai busur panah. Dia harus segera tiba disana secepat mungkin sebelum orang lain tahu apa yang terjadi. Kebetulan kelas Edo sekarang berada paling dekat dengan TKP. Jadi, dia bisa menjadi orang pertama yang menjadi saksi kejadian itu, setelah anak laki-laki yang berteriak tadi tentunya.

    Setelah menukik ke kanan melewati koridor itu dia berpapasan dengan anak laki-laki yang berteriak tadi. Wajahnya pucat ketakutan seperti baru saja melihat hantu. Mimik mukanya menunjukkan bahwa dia benar-benar panik ketika melihat kejadian itu. Ketika melihat Edo datang, wajahnya mulai berbinar. Seakan-akan dia bisa membagi ketakutannya pada Edo.

    “Tolong! Ada ma-mayat disana! Gadis itu yang membunuhnya!” lapor anak laki-laki itu terbata-bata sambil mencengkeram kedua lengan Edo. Edo kemudian berbalik menenangkan anak itu.

    “Tenang-tenang. Mungkin kamu hanya berhalusinasi. Lagipula disana kan banyak hantunya. Barangkali kamu baru saja melihat hantu murid yang meninggal lima tahun yang lalu disana,” ucap Edo menenangkan.

    “Te-tetapi, tadi aku benar-benar melihat gadis itu! Dia berada di depan toilet itu dengan sesosok mayat di depannya! Aku tidak salah! Mataku tak mungkin salah! Aku harus laporkan kejadian ini!” ucap anak itu panik.

    Edo semakin bingung dibuatnya. Andai saja anak ini semakin membuat kegaduhan di toilet ini. Pasti kasusnya makin panjang karena pihak sekolah ikut campur dalam urusan ini. Apalagi yang dimaksud mayat oleh anak itu adalah Rock yang barusan dia hajar di dalam toilet tadi. Tak mungkinlah dia mati hanya karena satu pukulan di perutnya saja.

    Anak itu semakin panik! Dia semakin kebingungan walaupun Edo telah mencoba menenangkannya. Akhirnya, Edo melepaskan cengkramannya dan anak itu kembali ke lorong dan berteriak-teriak seperti orang kerasukan. Edo tak tahu apa yang harus dia lakukan. Jujur saja keadaannya sekarang tak kalah paniknya dengan anak tadi. Sekarang dia harus cepat bertindak sebelum semuanya berubah menjadi kacau.

    Edo berpikir sejenak untuk mencari cara meluruskan semua kejadian ini. Akhirnya, dia menemukan cara! Segera kakinya kembali melesat bagai angin ke arah toilet itu. Sesampainya disana dia menemukan Niwa dengan posisi mengarahkan sebuah pistol ke arah Rock!

    “What?! Darimana dia mendapatkan benda konyol itu?!” pekik Edo dalam hati. Pantas saja kalau anak tadi melaporkan ada pembunuhan.

    “Niwa? Apa yang sedang kamu lakukan?!” seru Edo kaget. Dia kemudian segera masuk ke dalam toilet itu dan menutup pintunya agar tak ada orang yang dapat melihatnya. Setelah itu dia menguncinya dari dalam.

    “E-edo?! Kamu ngapain disini? Uhm, aku-aku hanya tidak sengaja memukulnya dengan pistol ketika tiba-tiba dia dengan kotornya menyentuh kakiku. Karena, tadi aku kira dia hantu atau semacamnya,” aku Niwa panik.

    “Tapi, kamu tidak sampai menembaknya kan?”

    “Ti-tidak! Jangan sembarangan! Aku tak mungkin menembaknya. Aku hanya memukulnya kok!” jawab Niwa.

    “Darimana kau mendapatkan pistol itu? Ini negara hukum! Kau bisa dipenjara gara-gara membawa benda itu di tempat umum!” teriak Edo tak kalah panik.

    “Aku membawa surat-suratnya kok!” ujar Niwa tak mau kalah.

    “Bukan itu masalahnya! Kita akan dituduh membunuh anak itu karena kamu membawa senjata api!” sahut Edo makin panas.

    “Tapi, dia tidak mati kan? Dia hanya pingsan!” kata Niwa beralasan. Dia tak mau disalahkan karena membawa benda itu. Papa-lah yang seharusnya disalahkan karena memberikan benda konyol ini kepadanya.

    “Terserahlah!”

    Edo semakin frustasi ketika berdebat dengan Niwa. Nampaknya anak itu memang sangat keras kepala karena merasa dia tak bersalah. Dan nampaknya dia benar. Edo-lah yang menyebabkan Niwa masuk ke dalam toilet ini dan membiarkan semua ini terjadi. Ini semua benar-benar di luar rencana.

    Edo menyandarkan punggungnya pada dinding dingin toilet itu. Dia menarik nafasnya sambil mencoba berpikir positif atas semua kejadian ini. Dia menarik nafasnya kemudian kembali berpikir. Untunglah Niwa tidak benar-benar membunuh Rock. Jikalau sampai terjadi, mereka akan tersangkut masalah yang besar! Bisa-bisa mereka dikeluarkan dari sekolah!

    “Tenang-tenang-tenang…,” gumam Edo. Dia mencoba menghipnotis dirinya sendiri untuk berpikir jernih agar bisa keluar dari situasi ini.

    Sementara itu, Niwa tertunduk sambil memperhatikan seonggok daging yang ada di bawahnya. Matanya meneliti setiap lekuk wajah anak itu.

    “Edo, kamu kenal anak ini?” tanya Niwa, “sepertinya aku kenal deh tampangnya.”

    “Tentu saja. Dia kan jongosnya Gilbert, yang tadi siang menggodamu tadi,” sahut Edo cuek.

    Niwa terkesiap dengan kejadian tadi pagi. Dia benar-benar muak dengan perlakuan Gilbert dan kawan-kawannya. Sampai akhirnya dia diselamatkan oleh Joe dan pemuda tadi pagi.

    “Eh, jangan-jangan Edo adalah pemuda yang tadi menyelamatkannya!” gumam Niwa dalam hati.

    Diam-diam Niwa mengagumi sosok Edo. Tapi, bayangan itu segera ditepisnya seketika ia ingat kalau yang menyebabkan dirinya terjebak di toilet ini bersama Rock di toilet yang terkapar disana adalah Edo. Seharusnya, Edo memberi tahu jalan ke kelas barunya. Bukan ke toilet cowok bersama orang yang tak jelas di dekat kakinya ini! Semua yang terjadi disini adalah akibat ulah Edo! Yah, Edo-lah yang paling bertanggung jawab atas semua ini atas dirinya!

    Tapi, kelihatannya bertengkar saat ini bukanlah pilihan yang tepat. Dia harus mencari alibi untuk membebaskan mereka dari keadaan ini.

    “DOK-DOK!!!” Tiba-tiba terdengar suara gedoran pintu dari luar. Sepertinya, anak cowok yang panik tadi berhasil mengumpulkan masalah bagi Edo dan Niwa.

    Di luar toilet itu sudah ada lusinan orang yang mencoba mendobrak masuk melalui toilet itu. Anak yang berteriak-teriak tadi juga ada disana. Semua orang disana tampak penasaran, curiga, sekaligus panik! Desas-desus mulai diperbincangkan. Tentang isu hantu maupun penyusup sampai teroris semua diperbincangkan. Semuanya berharap-harap cemas menyaksikan kejadian menegangkan itu dari luar.

    “Hai! Yang berada di dalam! Segera keluar atau kami akan dobrak pintu ini dari luar!” ancam sang Kepala sekolah dari luar.

    Keadaan pun semakin riuh! Semua mata tertuju pada kasus yang boleh dibilang langka dalam sekolah itu. Petugas keamanan pun sekarang mulai mengambil linggis untuk mencongkel paksa pintu tersebut.

    ***

    Sementara itu di dalam toilet,

    “Bagaimana ini, Do? Masa depanku bisa hancur disini!” kata Niwa panik.

    Edo tak menjawab. Dia juga bingung menghadapi kejadian tersebut. Tapi, tiba-tiba dia melihat secercah cahaya dari balik jendela toilet. Dia mendapatkan ide!

    “Lemparkan pistolmu keluar jendela itu!” perintah Edo.

    “Tapi, jendela itu tidak bisa dibuka. Bagaimana kalau….”

    “CEPAT LEMPARKAN!!!” bentak Edo. Niwa tak berani lagi menentangnya. Segera ia melempar pistol itu keluar sekencang-kencangnya. Lalu. . . .

    “PRANG!!!”

    Terdengar keras sekali suara kaca yang pecah.

    Semua orang terhenyak mendengarkan suara itu. Suasana tiba-tiba menjadi sunyi. Hening. Ada kejadian yang lebih mencengangkan lagi. Pak Handoko selaku kepala sekolah langsung memberikan perintah kepada bagian keamanan dan seluruh murid disana.

    “Anak-anak! Cepat bubar! Pembunuh itu kabur melalui jendela! Lekas kejar dan tangkap mereka!” perintahnya.

    Seketika kerumunan massa itu langsung bubar dan mulai berlarian keluar sekolah guna menangkap pembunuh itu. Walaupun, pembunuh itu membawa senjata. Namun, jika hanya seorang gadis seperti yang diceritakan anak tadi. Itu hanyalah masalah mudah untuk meringkusnya.

    Edo menempelkan telinganya tepat di daun pintu tersebut. Terdengar suara gaduh itu semakin menjauh darinya. Mungkin mereka mengira kalau tersangka sudah kabur melalui jendela toilet berlantai dua ini.

    Edo kemudian memberikan kode kepada Niwa untuk mendekatinya. Dia lalu menggenggam tangan Niwa. Terasa halus permukaannya membuat Edo sedikit terkesan. Lalu, dia menarik Niwa ke dekatnya agar bisa membisikkan sesuatu.

    “Sepertinya, keadaan sudah aman. Aku dulu yang keluar. Nanti, baru kamu,” ucap Edo.

    Edo mulai menyentuh knop pintu itu. Jantungnya berdegup kencang ketika mengayunkan knop tersebut. Kepalanya dia julurkan di antara celah itu dan sepertinya benar! Keadaan sudah sepi karena semua siswa berlari keluar sekolah.

    Edo memberi kode kepada Niwa bahwa keadaan sudah aman dengan jarinya. Dia membuka lebih lebar celah tersebut kemudian menarik Niwa keluar dari toilet itu. Keduanya kemudian segera berlari dari tempat itu. Niwa segera menarik tas sandangnya dan pergi bersama Edo. Secara tidak sadar tangannya masih digenggam oleh Edo. Niwa memperhatikan tangannya yang sedang berada dalam kepalan tangan Edo. Tampaknya, Edo tak mau melepaskan dirinya untuk saat ini. Muka Niwa tiba-tiba berubah merona merah. Dia tak tahu apa sebabnya. Namun, sepertinya dongeng pangeran itu hendak menjadi kenyataan dalam hidupnya.

    Mereka kemudian menuruni tangga dan menurunkan ritme langkah mereka. Sepertinya keadaan sudah mulai aman.

    “Kau tak apa Niwa?” tanya Edo menanyakan keadaannya. Niwa tersadar akan lamunannya barusan.

    “Ehm, a-aku baik-baik saja sampai kau melepaskan tanganku,” sahut Niwa. Edo yang baru saja sadar kalau tangan mulus itu masih ada di genggamannya buru-buru melepaskannya. “Oh, maaf!”

    Edo cepat-cepat menarik tangannya. Suasana tiba-tiba berubah sunyi. Entah perasaan apa yang baru saja terjadi diantara sanubari mereka berdua. Namun, nampaknya emosi itu segera berubah seiring dengan kisah mereka tadi.

    “Uhm, yuk kita masuk kelas. Keliatannya bakal dicariin guru tuh!” ucap Edo mencairkan suasana yang sempat beku tersebut.

    “Uhm, oh-yeah! Yuk!” jawab Niwa. Dia merasa jadi kikuk setelah melepaskan tangannya tadi. Pikirannya kalut dengan semua kejadian yang baru saja ia alami.

    Tiba-tiba saja ada kegaduhan dari arah depan. Sepertinya orang-orang tadi baru saja mengetahui kalau mereka ditipu oleh suara kaca pecah tadi. Buru-buru Edo mendorang Niwa untuk segera ke atas. Tapi, ups! Kaki Edo menginjak tali sepatunya sendiri. Dia tak bisa menguasai keseimbangan tubuhnya dan kemudian jatuh menimpa Niwa!

    Bruk!

    Keduanya terjerembab bersama di atas tangga dalam keadaan Edo berada di atas tubuh Niwa. Sesaat mereka bertatapan dengan jarak yang sangat dekat. Rentang antara wajah Edo dan Niwa hanya lima belas centimeter. Membuat suatu perasaan yang tidak karuan di antara mereka. Hati mereka pun berdetak lebih kencang. Darah seakan mengalir lebih cepat. Entah emosi apa yang menguasai mereka berdua. Waktu seakan membeku meninggalkan mereka berdua.

    “Ehem! Maaf mengganggu keasyikan kalian berdua. Tapi, sayang tempat ini bukan ajang prostitusi,” kata seseorang.

    Mata mereka berdua langsung tertuju kepada pemilik suara itu.

    “Celaka! Kepala Sekolah!!!” pekik Niwa dan Edo bersamaan dalam hati.

    -to be continue-

    –Seperti, apa kelanjutannya? Bang dadun yang lanjutin! Semangat ya Bang!–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s