Sebuah Penyelesaian


sam______teaching___by_freakette.jpgKetakutan saya terjadi juga. Senin siang (25/2), sekitar pukul 11.00, seorang petugas kampus menelpon saya perihal masalah UJIAN YANG DIKOSONGKAN tempo hari (kamis, 21 Februari). Ia menyuruh saya datang ke kampus untuk dimintai keterangan sekaligus memberi penjelasan tentang masalah tersebut di hadapan dosen wali kami dan dosen matakuliah yang bersangkutan. Dengan beberapa alasan, saya menolak datang.

Ya, bisa dibilang ini adalah masalah yang kedua kalinya. Tahun lalu, saya dan teman-teman yang merasa sedikit dirugikan pernah melakukan tuntutan kepada pihak kampus yang berwenang. Dan dalam forum itu, saya terlalu banyak berbicara, berkomentar, berkoar-koar tentang unek-unek yang saya rasakan, keluhan yang terlalu berat untuk dipendam dan tentunya KEKECEWAAN. Saya akui, saya cukup emosi saat itu. Sampai akhirnya saya terkesan sebagai satu-satunya sosok yang frontal dan bahkan mungkin dicurigai sebagai sang provokator. Padahal, demi Tuhan, saya hanya seseorang yang sedang menyuarakan isi hati saya sendiri tanpa pernah meracuni pihak lain. Dan demi Tuhan, jiwa persuasif saya tidak terlalu baik.

Hari Selasa (26/2), sekali lagi saya diminta datang menghadap dosen wali. Pagi-pagi. Saya kepagian dan mengisi waktu di kost-an teman hingga pukul sembilan. Saat ke kampus, petugas bilang bahwa dosen wali yang saya tunggu sedang pergi presentasi ke Sumedang. Ah.

Dan pada hari Rabu (27/2) semua anak konsentrasi Multimedia disatukan di dalam ruangan, berhadapan dengan dosen wali dan dosen matakuliah Multimedia. Nampak ketegangan di wajah kami, termasuk saya sendiri. Ya, maklumlah kami hanya sekitar dua puluh mahasiswa yang harus berhadapan untuk beradu argumen dengan dua orang dosen yang cukup luar biasa. Dan dari sekitar dua puluh itu, hanya satu-dua orang diantara kami yang bisa bersuara.

Saya sendiri…?

Ah, malas. Untuk saat ini, saya lebih suka menjadi pendengar setia. Memilih diam seribu kata. Saya tidak tahu apakah mereka mengharapkan saya bicara–seperti dulu. Tidak. Saya tidak mau. Sudahlah, saya menyerah. Cukup pasrah. Dan saya memang tidak pernah suka berdebat. Apa gunanya?

Tak ada yang angkat suara, pada awalnya, kecuali mereka berdua: Dosen wali—yang saya tidak pernah bisa memahami keberpihakannya pada siapa dan objektif atau subjektifkah ia, dan dosen matakuliah Multimedia—yang konon hebat, menangani banyak proyek dan berperan sebagai kontributor penting di salah satu TV lokal Bandung tetapi sedikit manfaat yang bisa ia berikan pada kami.

Asyik sekali menyimak mereka berdua, melihat raut mukanya yang datar seolah tanpa ekspresi ketegangan bahkan kemarahan, mendengar kata-kata yang saking diplomatisnya sampai-sampai meniadakan kesan pembelaan diri dan tindakan saling melempar kesalahan satu sama lain. Kerenlah! Plok… plok… plok… *tepuk tangan*

Dan saya benar-benar SANGAT PUAS saat terdengar dering hand phone berkali-kali. Hand phone siapa lagi yang tak pernah di-silence saat jam kuliah selain hand phone sang Bapak Dosen Hebat itu. Kalau sang dosen wali masih menganggap kami mengada-ada tentang hal itu, ia sungguh kelewatan.

Kemudian, seorang perwakilan dari kami angkat bicara. Lewat mulutnya, meluncur kata-kata yang tak kalah diplomatisnya. Dan perinciannya cukup mewakili unek-unek kami semua, mewakili KEPENGECUTAN kami semua.

Dan akhirnya… ya, alhamdulillah… terjadi kesepakatan yang—apa boleh buat, mungkin inilah jalan terbaik satu-satunya: penambahan materi kuliah selama dua hari yang rencananya dipadatkan dari jam 8.30 sampai dengan 16.00. Let see. Semoga ini menjadi penyelesaian yang benar-benar bijaksana.***

2 thoughts on “Sebuah Penyelesaian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s