Ah, Cari Perkara Saja…!


Cinta benar, “Bila emosi mengalahkan logika; terbukti, kan, banyak ruginya?”

Apa gunanya penggalan kalimat dalam film “Ada Apa dengan Cinta?” itu? Toh ternyata, saya pun tak bisa menguasai emosi atas diri saya sendiri. Ya, mereka tak pernah tahu kalimat itu–dan tak pernah menonton(film)nya. Pantas, mereka langsung meledak ketika ‘tersunut’ lembaran soal ujian yang (bagi mereka) tidak pernah diajarkan.

Bukan masalah “Kita sebagai mahasiswa harus mencari–mengeksplorasi sendiri materi-materi kuliah yang tidak diajarkan dosen sepenuhnya.” Melainkan tentang “Hei, bukankah hari ini kita ujian jam 10:30 dan kenapa baru dimulai jam 11:10? Dan, hei, tahukah kamu bahwa ternyata penyebab keterlambatan itu adalah: sang dosen yang belum menyerahkan soal berhalangan datang karena, ehm, KESIBUKAN!”

Ya, ini semua tentang KEKECEWAAN kami, sebenarnya.

Bayangkan, setiap hari Kamis, kami harus menelan kekecewaan; menunggu ia seharian di kelas dan di lab, yang akhirnya ia tak kunjung datang. Dan sekalipun ia datang, ia tak pernah serius mengajar ataupun memberi tugas. Kerjaannya menelpon, menerima telpon dan mengSMS seseorang di hadapan kami semua–tanpa sedikitpun perasan bersalah.

Siapa yang patut dipersalahkan kalau akhirnya kelas MULTIMEDIA menjadi KOSONG di setiap jam kuliahnya?

Dan siapa yang paling pantas dianggap KURANG AJAR jika akhirnya soal ujian dikembalikan dengan kertas jawaban yang hanya diisi identitas, tanpa coretan lain?

Mereka benar-benar sudah hilang sabar. Memberitahu saya bahwa kami semua satu bagian yang sama, tak boleh putih ataupun hitam sendirian. Dan tak ada gunanya juga menjadi seorang jujur dan teladan di tengah panas hari yang tak alang kepalang. Ya, meski dengan perasaan gusar, saya pun menyerahkan lembar jawaban yang belum saya tulisi kecuali identitas diri. Dan meskipun saya tahu, ini bukan jalan keluar melainkan tindakan CARI PERKARA semata.

Tunggu esok atau lusa, masalah ini akan semakin runyam. Janganlah sampai membayangkan bagaimana nasib kita kelak saat Sidang Tugas Akhir yang salah satu dosen pengujinya adalah DIA.***

PS: Saya pikir, DIAM adalah EMAS. Maka, saya akan berusaha DIAM jika nanti masalah ini dibicarakan di RUANG PANAS dengan pihak-pihak terkait. Tidak mau ambil pusing memikirkan sanggahan dan bantahan. Ah… terserahlah.

[Kamis, 21 Februari 2008 20:02:14]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s