Antara Mimpi dan Tragedi


Seharusnya saya tetap percaya bahwa fasilitas mimpi masih digunakan Tuhan sebagai media penitipan pesan. Mungkin karena selama ini saya merasa terlalu bodoh untuk meyakininya setelah banyak episode konyol yang terjadi akibat mimpi.

Dulu, saya pernah bermimpi ‘aneh’ dan berlanjut selama tiga kali berturut-turut:
1. Saya mimpi bertemu dengan kakek dan saudara perempuan yang sudah meninggal. Di sana, mereka memberi saya sebuah hadiah berupa baju berwarna putih. Tetapi kakek saya tiba-tiba melarang saya mengenakannya dan menyuruh saya pulang.
2. Saya mimpi masuk ke sebuah bangunan serba putih dan berlantai banyak. Awalnya saya menikmatinya sampai kemudian saya sadar: saya tidak bisa keluar dan di sana saya sendirian.
3. Saya mimpi mendapati KTP saya akan segera habis masa berlakunya pada 24 April 2006–sekitar sebulan dari jarak saya bermimpi.

Dari serangkaian mimpi itu, saya pun berkesimpulan bahwa saya akan MENINGGAL pada tanggal kadaluarsa KTP seperti yang disebutkan dalam mimpi terakhir. Walhasil, selama sebulan itu saya benar-benar paranoid. Dengan berwajah penuh harap-cemas, saya menceritakannya kepada keluarga dan teman-teman tercinta. Dan meminta maaf kepada mereka agar saya dapat PERGI dengan tenang.

Saya pikir, jika kita mengetahui kapan kita akan mati, kita akan bersiap-siap dengan segala amal ibadah dan pertaubatan dari segala dosa. Tetapi ternyata, justru malah ketakutan yang luar biasa.

Dan tentu saja, saat menghadapi tanggal 24 April di tahun berikutnya, saya pun kembali ketakutan: jangan-jangan itulah tanggal kematian saya???

Dan, kemarin malam (Sabtu, 16 Pebruari 2008), saya kembali bermimpi tentang semacam petunjuk suatu kejadian: menyaksikan acara HAJATAN di rumah saudara di Tasik. Konon, ini alamat akan terjadi suatu bencana semacam ada saudara yang sakit atau bahkan meninggal.

Saat terbangun, saya sangat-sangat ketakutan. Pasalnya, tepat di hari itu, Bapak akan melakukan perjalanan jauh ke Tasik, mengantarkan sepupu yang hampir seminggu menginap di sini.

Seharusnya saya menceritakan mimpi itu. Terserah, mau dianggap terlalu percaya mitos atau apa, yang penting saya mengatakannya. Saya takut jika tidak dikatakan, mimpi itu akan menjadi petunjuk yang benar-benar nyata. Tetapi, entah kenapa, saya seperti tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkannya.

Dan berangkatlah Bapak bersama sepupu saya dengan Supra Fit yang setia dengan Bapak sejak lima tahun lalu. Maka, yang saya lakukan selanjutnya adalah berdoa usai shalat Subuh; memohon perlindungan dan keselamatan bagi Bapak dan sepupu saya selama di perjalanan.

Segalanya berjalan normal sampai tiga jam kemudian, ada sebuah SMS yang menyatakan bahwa Bapak dan sepupu saya mengalami KECELAKAAN di daerah Malangbong. Semua keluarga di sini terkejut dan panik dibuatnya, bahkan tetangga pun berdatangan ke rumah karena mendengar beberapa jerit tangisan. Sementara, saya yang tengah duduk di depan monitor tak mampu lagi menggerakkan jemari di atas tuts keyboard. Pikiran saya berkecamuk tak karuan. Berputar-putar di sekitar Mimpi, Tafsir Mimpi dan Tragedi yang terjadi. Bilakah semua ini….???

Bapak….???***

[Minggu, 17 Februari 2008 15:24:27]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s