Truth or Dare


 up_to_something_by_ginnyhaha.jpg
Kami menyebutnya Jujur-Berani; permainan yang cukup menantang mental dan nyali. Tidak membutuhkan peralatan apa-apa, kecuali hanya para pemainnya itu sendiri-dan kejujuran juga keberaniannya. Terakhir kali, waktu kelas 3 SMA saya melakukannya.
Peraturannya sedikit diubah; biasanya ada dua pilihan: jujur (menjawab pertanyaan) atau berani (melakukan tantangan), tetapi kali ini lebih ke JUJUR dan BERANI JUJUR.

Sore itu, sambil menunggu seorang dosen yang menjanjikan sebuah pertemuan di luar jam kuliah, seorang teman secara spontan mengusulkannya, “Kita Jujur-Berani, yuk!”

Kami berdelapan pun tak berpikir untuk menolak. Saya sendiri hanya ingin bernostalgia saja. Sedikit bersenang-senang mengisi waktu menunggu yang membosankan.

O iya, ternyata, permainan ini memerlukan sebuah BOTOL. Bisa saja, sih, tanpa botol. Hanya saja, atas inisiatif saya-yang selalu terinjeksi paham-paham dalam film yang saya tonton, biar kesan Truth or Dare-nya berasa, ya harus memakai botol.

Diputarlah… dan kepala botol untuk pertama kalinya menunjuk kepada seorang lelaki-yang bertubuh lebih besar dari kami (lelaki) berempat;

Ah, saking standarnya pertanyaan untuknya, saya sampai sulit mengingatnya.

Kepala botol kedua terarah pada seorang perempuan di sampingnya;

“Siapa cowok yang kamu kagumi (baca: sukai) di kampus?” alah, pertanyaan yang standar, yang sejak SMA dulu saya dengar. Kenapa, ya, sudah sebesar sekarang, mereka masih saja menanyakan hal yang demikian? *ekspresi geleng kepala kiri-kanan*

Dan perempuan itu menunjuk salah seorang lelaki diantara kami berempat sebagai sang LELAKI yang ia “kagumi”. Bukan lelaki tadi, bukan juga saya. Tetapi seorang lelaki yang entah dengan cara apa selalu bisa meyakinkan kami bahwa ia adalah seseorang yang “kharismatik”.

Lalu, kepala botol selanjutnya mengarah kepada lelaki yang baru saja disebut si perempuan.

“Siapa cewek yang kamu kagumi (baca: sukai) di kampus?” haduh, halah, pertanyaannya selaluuuu standar. Sayang, saya bukan orang yang pandai membuat pertanyaan spontan. Jadi, ya, ikut pertanyaan mereka sajalah.

Kejadiannya hampir sama dengan yang sebelumnya, lelaki itu menunjuk seorang perempuan diantara empat yang ada. Bukan perempuan tadi, melainkan seorang perempuan yang kini bahkan sudah mengancang-ancang pernikahan dengan kekasihnya.

Selanjutnya, kepala botol mengarah kepada seorang perempuan-bukan perempuan yang baru saja ditunjuk si lelaki, tetapi perempuan yang selama ini disebut-sebut sebagai ‘istri’(-istrian) dari si lelaki.

Dan… O my God! Pertanyaannya masih STANDAR!!! Dan jawaban sang perempuan tidak cukup mengejutkan, sebab sebelumnya ia pernah menceritakannya pada saya.

Lalu, kepala botol keempat menunjuk perempuan lain-sahabat dekat perempuan barusan.

“Kamu pernah curiga cowok kamu berselingkuh, tetapi kamu sendiri pernah selingkuh?” WAH, pertanyaan ini cukup menggelitik.

Dan di luar dugaan, dengan ekspresi malu dan sedikit ragu, perempuan itu menjawab, “Ya, pernah.”

“Dengan siapa?” lanjut sang penanya.

“Hm…” ia nampak segan untuk menyebut namanya. Sampai kemudian ia menjawab… “Dengan seseorang yang ada di sini…”

GLEG!!! Ia bilang, ia pernah ‘selingkuh’ dengan seorang lelaki yang mendapat kesempatan pertama dalam permainan ini!!!

Oow… wajah mereka bahkan tak beriak sedikitpun, alih-alih ada bias bersalah dan dosa. Padahal, semua orang tahu, perempuan itu sudah berkekasih sejak awal masuk kuliah dengan seorang mahasiswa di lain kampus, sedangkan si lelaki sudah hampir menikah (atau bahkan SUDAH?).

Tetapi semua berjalan (seolah) biasa-biasa saja. Dan saya sendiripun tidak mau membesar-besarkannya. Lagipula, sekarang mereka sudah tidak menjalin hubungan lagi.

Kepala botol selanjutnya tertuju pada seorang perempuan diantara saya dengan perempuan tadi. Dan, ah, lagi-lagi saya sukar mengingatnya. Jadi, lupakan saja. Kurang menarik, mungkin.

Dan… selanjutnya, sang botol menunjuk saya. SAYA.

Ah, untungnya pertanyaan STANDAR itu lagi; “Siapa cewek yang kamu…”

Ah, BASI!!!***

[Minggu, 10 Februari 2008 13:30:02]

One thought on “Truth or Dare

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s