Hujan Lagi Hujan Lagi…!!!


hujanlagihujanlagi1.jpg

Saya memang tidak pernah suka hujan. Apa istimewanya? Bahkan waktu masih bisa bugil di halaman tanpa sedikit risih pun, saya lebih memilih melukis hujan, sendirian, daripada bergabung dengan teman-teman bermain hujan. Apalagi, selalu tidak ada yang lebih sakti dari kata-kata Mama: “Jangan main hujan, nanti sakit!” Dan saya tidak pernah menyesal dengan keputusan menjadi seorang Anak Mami yang baik.

Seseorang bilang, ia sangat menyukai hujan. Ia tak pernah membeberkan alasan kecuali hanya sedikit pemaparan betapa indahnya hujan. Betapa dramatisnya langit yang gelap mengutus pasukan air untuk menusuk-nusuk bumi. Alangkah syahdunya angin membawa nuansa kelabu ke sekitar penglihatan, dingin yang menyayat, dan melodi air yang menimpa benda-benda. Bahkan ia sampai menangkap detil tentang wiper yang berdetak ke kanan-kiri, daun-daun yang menempel di pintu mobil, sampah-sampah yang meluap dari selokan.

Saya pernah mencoba untuk belajar menyukai hujan. Tetapi, sampai sekarang saya tidak (atau belum?) menemukan apa istimewanya hujan. Bahkan lebih banyak ‘kesukaran’ yang saya alami ketika hujan: sulit bepergian (sebab saya tidak punya kendaraan yang memungkinkan digunakan waktu hujan, dan jarak dari rumah menuju tempat pemberhentian angkutan umum pun cukup jauh), tidak kuat menahan dingin, hingga tidak bisa (baca: tidak berani) menyalakan TV, komputer dan beberapa alat elektronik lain yang KONON bisa rusak dan hancur gara-gara petir.

Selain itu juga, hujan berdampak pada kecemasan dan kekhawatiran: takut kebanjiran, takut rumah bocor, takut ketiban pohon, takut tersambar petir, takut kebasahan lalu masuk angin dan meriang, takut terjadi kecelakaan di perjalanan, takut inilah-itulah.

Kenapa, sih, harus turun hujan?

Mungkin pertimbangannya; “mau dibawa ke mana bisnis payung, jas hujan, cat anti air dan sebagainya”.

Tetapi, semua bisnis itu tidak akan ada kalau hujan tidak pernah turun.

Lalu, bagaimana dengan siklus air? Bagaimana bisa debit air bertambah kalau manusia semakin bertambah dan serakah?

Memangnya Tuhan tidak punya cara lain? Kenapa harus hujan?

Menurutmu? Ada cara yang lebih baik?

Ah, kenapa tanya saya? Tuhan, kan, lebih tahu segalanya. Mahatahu, bahkan.

Ya, Tuhan memang Mahatahu. Dan kamu MahaTidakTahu dan Maha SokTahu. Jadi, diam saja! Jangan banyak bicara yang tidak jelas, yang belum kamu tahu apa maksud di balik semua itu. Terima saja, syukurilah segala nikmat dan karunia-Nya.

Ya, kamu benar. Tetapi, tetap saja saya tidak suka hujan.

Boleh, kan, Tuhan?***

 

[Jumat, 01 Februari 2008 15:58:41]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s