Pulang [04: Pernikahan]


Adakah pernikahan merupakan eufimisme dari pelarian? Atau semacam jalan pintas? Ya, daripada terjebak dalam hubungan terlarang, terjerembab ke area perzinahan… atau bahkan sudah terlanjur-daripada harus menanggung malu…?

Hushhh… jangan berpraduga sekenanya! Khususnya bagi warga kampung ini (dan di tempat mana juga), pernikahan adalah sesuatu yang teramat sakral, cukup diagungkan dan dianggap sebagai peristiwa sejarah yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Alih-alih pernikahan adalah sunnah Rasul.

Memang benar, alasan sebagian orang tua lekas menikahkan anak-anak mereka, tak lain dan tak bukan sebab takut ‘kecolongan’. Apa pun alasannya, mestinya pernikahan memang diletakkan di satu tempat teristimewa.

Tidak terasa, waktu sedemikian cepat berlalu. Kemarin, saya dan kamu masih berebut mainan, makanan, gambar-gambar, chanel TV; bahkan bertengkar gara-gara aturan dan tata cara sebuah permainan. Seperti baru kemarin, kamu mengajari saya beberapa hal: bersiul, merokok, mendekati dan merayu perempuan, hingga bermasturbasi di kamar mandi. Bahkan terasa baru semalam, kamu memperkenalkan VCD porno untuk pertama kalinya kepada saya, dan mengajak menonton bersama.

Banyak hal yang kamu ajarkan, yang kamu perkenalkan. Kamu selalu sok tahu dalam segala hal sebab usiamu tiga tahun lebih tua dari saya. Kamu seolah berhak mengatur saya. Tetapi saya lebih berhak memilah-milah pilihan saya. Dan bersepupu denganmu terasa menyenangkan meski tidak terlalu banyak waktu yang kita bersama lewatkan. Kamu cenderung senang bergaul dan kongkow-kongkow dengan teman-temanmu, sementara saya lebih suka menyendiri di rumah sambil menonton TV.

Serasa kemarin kita masih cengengesan dengan muka penuh harap mendapatkan banyak recehan dari hasil saweran pengantin tetangga sebelah. Tidak pernah terpikirkan dirimu akan secepat ini berpindah posisi menjadi pengantin itu.

Selamat menikah, selamat menempuh hidup baru, wahai sepupu. Semoga bisa membedakan dirimu yang dulu dengan yang sekarang. Caramu berpikir dan bertindak. Caramu menyikapi segala persoalan. Caramu mencintai dan menyayanginya.

Jangan pernah ada kata menyesal. Jangan ada pemikiran untuk sebuah perpisahan. Sebab semua orang akan menyesalkan perpisahanmu. Sebab semua orang pernah kerepotan mengurusi pernikahanmu: orangtuamu yang setengah mati mendanai dari urusan dekorasi, katering, seserahan hingga uang saweran; sanak keluargamu yang rela cuti panjang dan membolos sekolah/kuliah demi menyaksikan dirimu mengucap ikrar sehidup semati dengan perempuan pilihanmu-pilihan orangtuamu; para tetangga yang bersedia menyumbang tenaga; dan orang-orang lainnya yang turut direpotkan juga.

Betapa semua orang menyayangimu, wahai sepupu. Lihatlah, rumah ini hiruk pikuk saudara-saudaramu: paman-bibimu, keponakan-sepupumu yang bahkan tak sempat pulang di hari Lebaran atau perayaan-perayaan besar, kecuali pada pernikahanmu. Dan betapa gadis itu teramat mencintaimu, wahai sepupu. Lihatlah, senyumannya begitu tulus. Anggukkannya sangat bersemangat meski tak cukup banyak yang kau bawa dalam seserahan itu. Jangan lantaran gadis itu masih terlalu dini untuk usia pernikahan, lantas kamu meragukannya. Bukankah di sini, akan selulusan SMP seperti dia pun sudah layak untuk dipinang, diusung ke pelaminan? Jamak saja. Dan bukankah kamu juga mencintainya?

Oh, kamu hanya sedikit tegang. Santai saja, sepupu. Atmosfer pernikahan memang demikian. Sebab pernikahan sepertihalnya peristiwa kelahiran dan kematian.

Semalam, “pesta bujang” yang kamu adakan dengan teman-temanmu kurang seru, wahai sepupu. Semoga nanti malam, “pesta pengantin”-mu akan jauh lebih seru dan menjadi malam pertama yang tak terlupakan. J

Ah, pernikahan… terbayang jika hari itu kemudian menyapa saya. Gerangan akan seperti apa…***

[Selasa, 18 Desember 2007 {sekitar pukul 8 pagi}]

Iklan

One thought on “Pulang [04: Pernikahan]

  1. wow enak banget dun, melihat anak bertumbuh, mencermati setiap perkembangannya, dan panggilan merdunya…’ayah’, ‘ibu’, ‘gendong’…. amanah Allah yang mengirim kebahagiaan bagi orang2 yang berhati, yang berangkat dari niat yang tulus….

    sukses buat kamu….
    tulisanmu bagus… mungkin saya akan sering berkunjung ke sini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s