Pulang [03: Tak Lagi Sama]


Ada yang tak berubah, tetapi begitu banyak hal yang sudah nampak tak lagi sama.

Wajah rumah ini kian memucat. Tubuhnya kian rapuh. Pesonanya semakin memudar.

Nenek semakin kelihatan tua. Giginya yang rapi dan bagus sudah mulai tanggal sebab setahun lalu pernah jatuh tersungkur di pematang ketika mendapat giliran pengairan untuk sawahnya. Kulitnya semakin mengeriput dan rambutnya tinggal selembar dua lembar yang kehitaman. Semakin ringkih, rikuh dan melengkung. Tetapi untungnya beliau belum pikun.

Kolam di belakang rumah sudah berubah menjadi kebun jagung dan singkong.

Di sekeliling pun tumbuh meranggas daun-daun hijau yang meninggi, menutupi pandangan ke seberang, ke arah rumah tetangga yang juga masih terikat saudara: rumah seorang gadis kecil, teman sepermainan yang kini kabarnya sudah menikah dan melahirkan seorang bayi perempuan mungil.

Ada juga rumah tetangga yang kini berganti penghuni. Sebab penghuni sebelumnya (tetangga yang dulu) satu sudah meninggal dan satu lagi gila, sementara anak-anaknya diungsikan ke rumah nenek-kakeknya di lain kampung.

Ada sebuah rumah tua yang nampak menyeramkan. Padahal dulu rumah itu selalu ramai dengan anak kecil yang bermain dan penghuninya yang cerewet. Bahkan pohon mangga dan jambu di sekeliling rumahnya sudah raib, menyusul kematian para pemiliknya. Yang satu meninggal sebab usianya yang menua. Dan satu lagi meninggal sebab tiba-tiba sakit kepala yang tak alang kepalang.

Sebuah rumah pun menghilang sebab salah satu pemiliknya meninggal. Hilang pula kolam-kolam ikan-tempat memancing sekaligus bermain bagi anak-anak kecil, tanaman-tanaman hias, tempat yang nyaman dan kerap dipenuhi banyak makanan. Hanya menyisakan sebuah kamar mandi umum yang hingga kini masih digunakan.

Ciakar sedemikian menjadi hutan. Para penghuninya pun berangsur menghilang sebab kematian dan migrasi ke kota besar.

Dan yang masih tinggal, sedemikian mengalami perubahan.

Wajah-wajah lugu nan polos itu berubah menjadi paras cantik dan tampan, khas bunga dan kumbang desa. Yang perempuan tumbuh menjadi gadis cantik berkulit terang-minimal sawo matang manis. Dan yang lelaki tumbuh menjadi pemuda tampan berbadan proporsional. Berani diadu, mereka tidak kalah dengan wajah-wajah remaja kota. Hanya sayang, mereka terlalu istimewa untuk dapat bersentuhan dengan dinamika kehidupan. Sepertinya tidak ada niatan untuk mengubah garis hidupnya yang telah dipilihkan dan dicontohkan para pendahulu mereka: lahir, besar, sekolah (bahkan bagi kebanyakan orang, ini dianggap tidak penting), bekerja (untuk kaum lelaki [saja], dominannya berdagang di Tanah Abang) kemudian menikah dan punya anak.

Terkadang, potensi yang mereka miliki menjadi sedemikian dalam, terpendam bahkan tak terungkap sebab pola hidup yang seolah-olah sudah dibakukan. Tak heran jika tak banyak terjadi perkembangan. Keturunan petani, se-anak-cucu-nya tetap saja menjadi petani. Kecuali memang ada satu-dua orang yang setelah berkenalan dengan masyarakat kota, sedikit-banyak termotivasi dan terpacu untuk mengembangkan diri.***

[Senin, 17 Desember 2007 {dari sekitar pukul 12 siang sampai 12 malam}]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s