Pulang [02: Di Sini Pernah…]


PASAR CIAWI
Tulisan itu nampak begitu menyentuh. Suasananya masih seperti dulu, tujuh-delapan tahun yang lalu. Bangunan-bangunan, toko-toko, ruko-ruko dengan bentuk dan nama yang masih sama. Saya heran, apakah semua ke-sama-an ini hanya nampak di mata saya saja?

Di sebuah toko busana, saya melihat kembali bayangan sosok itu: seorang anak lelaki yang untuk pertama kalinya membeli baju sendiri;

Ada juga seorang anak lelaki yang sebulan sekali mengunjungi toko kaset setelah berhasil mengumpulkan sisa uang jajannya;

Di toko elektronik, saya menemukan kembali dua orang lelaki yang berselisih dua puluh tahunan sedang berdiri mengamati walkman di etalase, yang akhirnya hanya membeli sebuah radio-fm kecil yang bisa dibawa kemana-mana;

Di halte itu pun muncul bayangan seorang anak lelaki berdiri dengan seorang anak perempuan menunggu angkutan pedesaan untuk pulang, usai pergi berenang kemudian berfoto di studio foto sebab si lelaki akan pergi ke (dan menetap di) Bandung esok harinya.

Dan selalu ada tubuh kecil berlari-lari ke dalam pasar, mencari sejongko pakaian muslim. Bukan untuk membeli, hanya sekedar ingin melihat seorang anak perempuan tercantik yang terkadang datang menemani orang tuanya berjualan. Padahal anak perempuan itu setiap hari dilihat dan disapanya di sekolah, di kelas yang sama. Tapi tak rela jika sedetik saja ia melewatkan kesempatan ekstra untuk bisa menatap wajah cantiknya.

PANYUSUHAN
Jalan itu masih tetap menanjak, lengkap dengan aspal dan kerikil lepasnya yang terjal. Jika hujan, tamat saja riwayat para pendatang, kecuali warga setempat yang sudah paham dan cekatan.

Sepertinya jalan ini tetap dibiarkan begini, sejak dulu, sejak tujuh-delapan tahun yang lalu, bahkan mungkin sejak saya belum tahu ini-itu. Kecuali jika ada satu partai menang di ajang pemungutan suara atau pemilihan tertentu, jalan ini diperbaiki. Tapi karena sering turun hujan dan kurang pemeliharaan, jalan ini tetap saja begini.

Di sini, pernah ada seorang anak lelaki berjalan seorang diri demi menempuh maksud hati yang tak terperi. Berjalan dari rumahnya di kampung sebelah, menyusuri jalan rusak yang jaraknya sekitar lima kilometeran sebab terlalu mahal dan sulit untuk menggunakan jasa angkutan umum. Di sinilah si lelaki itu belajar menikmati kesendirian. Di sinilah pertama kali ia menemukan indahnya kesendirian. Dan di sinilah ia mulai memahami arti sebuah kesendirian.-hingga sekarang.

Tapi di sini juga, anak lelaki itu pernah bergerombol bersama beberapa orang teman dan saudara. Teman yang kini entah pergi kemana; mungkin sekolah di lain kota, pun bekerja, barang kali menikah dan meninggal dunia. Dan saudara yang kini sudah tumbuh jauh lebih pesat dibanding dirinya, yang juga pergi sekolah, bekerja, menikah dan meninggal dunia.

CIAKAR
Di sinilah saya (pernah) tinggal. Tumbuh besar; makan-minum-tidur-eek dan mengenal banyak hal di sebuah rumah berdimensi kayu. Bersama ibu, nenek, (almarhum) kakek dan seorang adik dan sepupu perempuan, serta seorang bapak yang seminggu sekali datang sebab harus bekerja di luar kota.

Di sinilah saya menemukan orang-orang tercinta yang selalu saya rindukan. Yang jika saya pulang di saat liburan dan hari besar, mereka tak berhasil saya temui, tak pernah lagi. Yang kenangan bersama mereka terlalu indah untuk dilupakan, namun terlalu sedih untuk dikenang.

Halaman rumah ini pernah dipenuhi anak kecil yang riang bermain, ibu-ibu yang asyik bergosip, bapak-bapak yang nongkrong sambil melinting papir dan bakau. Tidak pernah ada anak muda-remaja. Si anak lelaki yang bahkan sudah beranjak remaja (kala itu) pun kerap bergaul dan bermain dengan anak kecil.

Di ruang tamu ini selalu ada seorang anak lelaki yang getol menonton TV. Dari pulang sekolah sampai malam hari.

Di kamar tidur ini pernah tidur seorang anak lelaki dengan ibu dan adik perempuannya, yang kemudian pergi menginap di kamar nenek atau kamar kosong ditemani sepupu lelakinya bahkan juga yang perempuan jika sang ayah pulang dari luar kota. Anak lelaki yang tak pernah berani tidur sendiri. Yang selalu menangis jika sudah lewat jam 10 tak lekas tidur dan bermimpi. Yang selalu ketakutan setengah mati jika ada suara-suara berisik dan aneh di balik jendela atau bilik kamar. Yang selalu terganggu sebab ingatan-ingatan menyeramkan yang tak beralasan. Dan di sini pernah ada seorang anak lelaki yang menangis karena patah hati.

Dan di setiap ruangan dalam rumah ini selalu ada seorang anak lelaki yang tak pernah beranjak ke luar. Belajar, menonton TV, mendengarkan lagu-lagu Melly, menggambar dan menyendiri.***

[Senin, 17 Desember 2007 {sekitar pukul 11 siang}]

2 thoughts on “Pulang [02: Di Sini Pernah…]

  1. hm… saia tertarik membaca tulisan ini, iseng-iseng saya browsing dengan keyword “panyusuhan – ciawi” eh ternyata masuk ke blog ini… saia asli orang panyusuhan… salam kenal..

  2. waaaaaah… saya pernah tinggal di daerah Ciakar,, (tau nggak,, itu dari panyusuhan naiiiiiiiiiiik terus,, haha) 9 tahunan.
    sekarang si tinggal di bandung

    salam kenal juga, A🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s