Buka Bersama atau Buka Bersama?


Entah kenapa, saya tidak terlalu antusias untuk melakukan ritual buka bersama di luar rumah, selain dengan keluarga. Apa istimewanya? Jika memang demi mempererat jalinan silaturahim, terutama dengan teman-sahabat yang jarang berjumpa, saya masih bisa sedikit toleran, segalanya bisa dikondisikan. Tapi terus terang, saya sangat malas untuk melakukan buka bersama dengan teman-sahabat yang hampir setiap hari berjumpa.

Sebenarnya, apa yang kita cari dari ritual buka bersama?

Terutama untuk kalangan anak seusia saya, buka bersama tak lebih dari sekedar makan-makan di restoran sambil bercanda-ria, tertawa hihi-haha. Bahkan ketika adzan Maghrib berkumandang, tidak sedikit yang malah mengobrol dan tertawa dengan level suara yang susul-menyusul dengan adzan. Shalat Maghrib pun urusan belakangan, yang penting perut duluan kenyang, yang penting bisa nampang di tempat makan kenamaan. Lalu, saat adzan Isya menyusul kemudian, pernahkah kita lebih menghiraukannya lalu berbondong-bondong ke mesjid untuk berjamaah Isya yang dilanjutkan dengan tarawih? Yang ada, kita malah keasyikan makan, bercanda dan merasa sayang melewatkan kesempatan bersama ‘seseorang’.

Inikah tujuan Allah mewajibkan hamba-Nya shaum di bulan Ramadlhan?

Saya tidak sedang membicarakan seseorang. Justru saya sedang menampari diri saya sendiri karena hari ini saya sudah lalai shalat Isya dan tarawih berjamaah, gara-gara buka bersama. Buka bersama yang sebenarnya sangat terpaksa saya lakukan—demi menjaga silaturahim dengan teman-teman waktu SMA.

Mungkin, masalahnya bukan pada kegiatan buka bersama-nya; karena pada dasarnya tujuan dari buka bersama adalah saling berbagi, saling memberi, dan tentunya mempererat silaturahim. Tetapi masalahnya lebih pada prosesi buka bersama yang cenderung tidak mencerminkan hal-hal yang tersebut tadi. Bahkan saya merasa biaya buka bersama di luar jauh lebih mahal dibanding buka bersama keluarga di rumah. Dan bukannya saling berbagi, melengkapi atau memberi, justru malah membebani pihak-pihak yang berkekurangan dalam hal rezeki (terkadang saya sendiri merasa serba salah, ketika harus menolak acara buka bersama dengan alasan tidak punya uang).

Dan satu hal, bahwa buka bersama juga mestinya menjadi niali tambah tersendiri atas ibadah shaum kita. Bukankah Allah mencinati kesederhanaan, bukan sesuatu yang berlebihan? Dan apkah Allah lebih suka pada mereka yang berbuka di tempat megah dengan segala hidangan mewah, dibanding mereka yang berbuka seadanya?

Tidakkah kita sadari, makna dari shaum adalah menahan diri. Dan menahan diri adalah ketika kita membatasi segala nafsu duniawi dan mengendalikannya menjadi sesuatu yang lebih bijaksana.***

[30/09/2007 23:08:03]

3 thoughts on “Buka Bersama atau Buka Bersama?

  1. untuk dadun…..
    tulisan mu tentang bubar adalah sebuah karya yang sangat menyentuh hati lu..lulu baru sadar bahwa memang buka diluar itu lebih mahal di banding buka dirumah bersama keluarga dan yang lebih penting memeng bubar diluar itu menelantarkan sholat kita padahal di bulan yang suci ini kita disuruh beribadah sebanyak mungkin

  2. ga juga tuh mas…
    asalkan sesuaikan tempatnya..
    saya dulu dan sekarang sering buka bersama temen2 kuliah, temen2 MAN dlu ato temen sesama aktivis IMM..
    tapi kamu tetep bisa menjalankan perintah-Nya, aslakan kita tentukan tempat yang kondusif dan yang pasti ada tempat shalatnya…
    saya ingat ketika puasa tahun 2006, 23 hari saya ousa di Jogja dan tak pernah satu kali pun buka di kos, kebanyakan di tempat diskusi ato rapat2 prganisasi mahasiswa..
    bisa jadi Bubar itu bermanfaat, asalkan kita mau memanfaatkannya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s