Kemalaman


Apa yang saya pikirkan? Perasaan saya tak karuan; merentang radius dengan sebagian orang yang tak sedap dipandang membuat saya semakin terjerat bimbang.

Maka saya menghindar, saya sedang belajar melupakan.

Sedikit memanfaatkan ‘kekisruhan’ seseorang, saya menurutinya untuk menunda jam kuliah, karena kebetulan juga dibuat pembagian jadwal. Saya dan beberapa teman memilih sesi kedua. Menunggu di bawah: mengeksploitasi fasilitas internet yang biarpun lelet, lumayan untuk saya yang kepepet.

Curiga! Di bawah, hanya tinggal delapan pasang mata yang menunggu sesi kedua jam kuliah Multimedia. Tapi perasaan ingin ‘terpisah’ itu membuat saya kehilangan resah dikejar rasa bersalah karena merasa sedang membolos kuliah. Lebih-lebih karena saya sudah terbius dengan Friendster, Kemudian dan DeviantArt yang akhir-akhir ini menjadi lahapan pokok saya setiap online.

Dua jam sudah kami menunggu sesi pertama berakhir. Hanya angka 5 yang terlihat, padahal ada sebelas angka lainnya juga di jam dinding itu. Kami—lebih-lebih saya semakin gelisah. Jangan-jangan memang tidak akan ada sesi kedua; kelompok satu dan dua digabungkan!

Oh, tidak!!! Jam berapa saya nanti pulang? Kemagriban di jalan sudah barang tentu terjadi. Untung ada persediaan uang jika memang harus buka puasa di tempat makan pinggir jalan. Tapi, yang lebih parah dari itu, tidakkah kami akan mendapat sanksi dari dosen Multimedia karena secara tidak langsung telah membolos kuliah? Ah, kamu pikir ini jamannya sekolah—jika tidak hadir akan mendapat hukuman. Tidak lah. Tapi masalahnya absensi, juga tentunya ilmu yang kami lewatkan dengan alasan konyol yang terdengar bodoh,

“Lho, bukannya tadi Bapak bilang, kuliahnya dibagi dua kelompok? Dan kami mengambil sesi setelah kelompok pertama.”

Tapi untungnya… Ramadhan selalu penuh berkah. Lagipula memang kami ber-8 tidak sengaja membolos, hanya terjadi kesalahpahaman saja.

Sang dosen cukup bijaksana. Dia mau menerima kami ber-8 untuk praktikum Multimedia. Suasana sempat menegang ketika dia mulai jengkel dan uring-uringan melihat kami tidak bisa menggambar roda bergerigi dengan spesifikasi tertentu menggunakan CorelDraw. Suaranya lantang, membuat jantung awalnya berdetak kencang. Tapi kelamaan, kami semua malah tertawa girang. Menertawakan kebodohan sendiri, juga menertawakan situasi: ada dosen yang marah-marah, dan tidak apa-apa ketika kami tertawa-tawa. Haiyah…

Dan saatnya buka puasa tiba, seorang petugas datang membagi kami sebuah air mineral gelasan dan seplastik kudapan; lontong dan kurma. Alhamdulillah… Ramadhan selalu penuh berkah. Bahkan, seseorang mengantar saya pulang dengan sepeda motornya.

Tapi ada yang saya sesalkan. Karena kemalaman, saya pun melewatkan Tarawih satu malam ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s