Jangan Tanya Kenapa


Hari itu dia sedikit curiga; melihat perempuan itu membawa sebingkis hadiah bersampul menyala. Tapi rasa curiganya tidak terlalu membabibuta. Sebenarnya dia tahu apa dan untuk siapa benda ‘istimewa’ itu. Hanya, dia masih agak bingung, dari siapa dan untuk apa hadiah itu ada, meskipun dia tahu ada seorang lelaki berulang tahun beberapa hari sebelumnya.

Dia selalu ingin tahu tentang segala hal, terlebih urusan orang lain. Dia selalu mencuri dengar dan pura-pura tidak mencuri lihat, padahal matanya aktif merekam.

Ternyata kado itu dari si perempuan untuk si lelaki yang berulangtahun itu.

Kenapa perempuan itu tiba-tiba memberi kado pada si lelaki? Sementara mereka berteman, dan siperempuan tidak pernah sehangat dan seistimewa itu memperlakukan temannya. Kecuali…

Ah, tapi rasanya tidak mungkin jika perempuan itu jatuh cinta pada si lelaki. Dia tahu, semua orang juga tahu bahwa ada seorang wanita yang jatuh cinta pada si lelaki. Dan wanita itu adalah sahabat si perempuan, cukup dekat bahkan.

Dia merasa kebingungan. Dan masih bingung meski seorang teman memberinya klu tentang ‘kisah tiga sisi hati’ itu.

Hingga suatu hari, dia melihat si perempuan dan si lelaki datang bersamaan, bergandengan dengan wajah berbinar-binar. Dia menyapa si perempuan yang sudah sangat dekat bersahabat dengannya, tapi si perempuan membalas dingin, reaksi yang seratusdelapanpuluhderajat berubah. Dan hari itu, mereka: si perempuan dan si lelaki pamer kemesraan di hadapan berpasang-pasang mata. Seolah mengatakan, “Hei, kita berdua udah jadian!”

Sejak dulu, persoalan demikian memang tidak perlalu pemaparan verbal. Tatapan, sentuhan dan pelukan sudah cukup memberitahukan segalanya. Mereka memang benar-benar jadian.

Kenapa?

Kenapa kenapa?

Bukankah semua orang tahu, ada seorang wanita yang jatuh cinta pada si lelaki, tapi si lelaki menolak dengan berbagai cara—yang salah satu cara terhalusnya ialah dengan memberi harapan kosong pada si wanita. Bahkan si wanita acap kali berkeluh kesah pada si perempuan tentang lelakinya itu. Dan si perempuan sempat menjadi sahabat pelipur segala rasa si wanita.

Berminggu-minggu. Berbulan-bulan, si wanita menanti kepastian dari si lelaki tentang cintanya. Dan siperempuan tahu itu. Simpatiknya sempat ber-riak di air mukanya.

Tapi setelah berminggu-bulan itu, si perempuan dan si lelaki malah jadian, sementara si wanita masih menunggu kepastian.***

3 thoughts on “Jangan Tanya Kenapa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s