Semangat Hari Pertama


Marhaban ya Ramadhan…

Kebahagiaan besar bisa bersanding kembali dengan Ramadhan yang mulia. Sejuta umat berharap terampuni dari segala dosa-setidaknya, satu sentimeter menjauh dari batas neraka. Dan segala amal semoga dapat dilipatgandakan, sesuai yang sering didengar dalam kultum-kultum atau khutbah Jumat di sepanjang Ramadhan.

Maka setiap orang ‘berlomba-lomba’ dalam kebaikan.

Jika surga dan neraka tak pernah ada
Mungkinkah kau ‘kan bersujud pada-Nya?

Apa kabar dengan lirik lagu gubahan Ahmad Dhani itu? Bahkan saya baru memahami maknanya.

Saya tidak sedang membicarakan siapa-siapa-takut mengurangi pahala shaum. Ini tentang saya sendiri; potret seorang muslim yang baru bisa beribadah jika diimingi ‘hadiah’ dan diancam ‘musibah’.

Betapa selama sebelas bulan ke belakang, saya adalah seseorang yang teramat hampa kebaikan jika hanya meniatkan kebaikan di satu bulan ini saja. Ikhlaskah shalat-shalat berjamaah yang saya lakukan sekarang jika selama sebelas bulan ke belakang saya lebih mencintai kesendirian? Dan tuluskah tadarus Al-Quran yang kerap saya lakukan ba’da shalat lima waktu jika sebelas bulan sebelumnya dan sebelas bulan setelahnya saya lebih suka membaca koran dan komik Jepang, atau cerpen dan puisi di Kemudian?

Subhanallah… tadi malam mesjid penuh. Tarawih pertama dengan ucapan “Aamiiin” di akhir Al-Fatihah yang paling riuh, bergemuruh. Tarawih pertama dengan masing-masing shaf yang rapat, yang saling menindih kaki satu sama lain ketika duduk tahiyat. Tarawih pertama yang kembali mengulang kisah tragis; “Hilangnya Sepasang Sandal”-saking penuhnya tempat penitipan. Tarawih pertama tanpa rasa ngantuk karena kekenyangan.

Begitu juga dengan pemandangan di kala Subuh yang masih teduh.

Lalu, ketika Adzan Dzhuhur kembali berkumandang… mesjid kembali lengang. Ke mana orang-orang? Setan baru saja berbisik di telinga saya, “Mereka sedang malas-malasan!” Ah, dasar! Tapi sebentar, bukankah selama Ramdhan setan-setan dirantai dan tidak berkeliaran? Lalu, siapa yang barusan membisikkan kata-kata bernada su’udzan?

Astagfirullah… kebiasaan berburuk-sangka saya masih belum bisa hilang. Dan bukannya mengaku salah, malah mengambing-hitamkan si setan. Maaf, ya, Tan. Lha, untuk apa juga minta maaf pada setan?

GRRRKKK… kurang lebih, seperti itu suara perut yang ribut. Untungnya saya masih kuat menahannya. Sabar… sabar… apalah arti seteguk minum dan sepiring makan dibanding kehilangan satu hari penting dalam Ramadhan. Belum tentu tahun depan masih bisa bermesraan dengan lapar dan latihan kesabaran di bulan Ramadhan.

Semangat! Semangat! Masih ada dua puluh sembilan hari lagi untuk dilalui. Perjuangan masih terlalu panjang untuk diakhiri sedini ini. Bantai habis segala godaan yang datang! Hawa nafsu hanyalah pangkal kesengsaraan dan penyesalan. Yakinlah, kesabaran akan selalu berbuah manis.

Semangat hari pertama, semangat hari kedua, semangat hari ketiga… hingga semangat hari ketigapuluh… semoga tetap sama, tetap berkobar. Selayaknya mengalami peningkatan.***

[Kamis, 13 September 2007 11:41:38]

One thought on “Semangat Hari Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s