Tentang si Seperti Perempuan


Dulu, dia selalu bersedih jika seseorang menyebutnya ‘Seperti Perempuan’. Bertahun-tahun dia coba bertahan, mencari cara menutupi keperempuanannya.

Mungkin karena dia sudah terlalu letih, semua yang dilakukannya tak lebih dari kesia-siaan. Dimana tak seorangpun yang berhenti menyebutnya ‘Seperti Perempuan’, padahal dia sudah berusaha menjadi laki-laki yang tidak seperti perempuan.

Kini, dia terang-terangan bilang kalau dirinya seperti perempuan. Bukan berarti dia menjadi perempuan. Dia sangat bangga menjadi seorang laki-laki [yang seperti perempuan] karena dalam kesempatan hidup yang hanya sekali ini, dia bisa merasakan dua sisi yang berbeda—tanpa perlu menjadi keduanya, namun tetap berpegang teguh pada satu sisi yang menjadi kecenderungannya.

Maka, dia bisa lebih menghargai segala perbedaan yang ada, menghormati setiap kenyataan yang dianggap ‘berbeda’. Karena hidup adalah pilihan. Dan diperlukan sebuah nyali besar untuk membuat sebuah keputusan besar, menentukan pilihan.

Lagipula, memangnya ada laki-laki yang seperti laki-laki? Karena manusia saja disebut ‘seperti’ monyet sebab dia bukan monyet—tetap manusia.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s