Double Half Date


[kencan macam apa?] 

Dua pasang kekasih dan seorang PENYENDIRI berada diantara hiruk-pikuk mal yang super-sibuk, dengan satu acara utama: NONTON. Si PENYENDIRI ternyata berhasil mengintimidasi mereka untuk menonton film yang sejak Kamis [26 Juli] lalu ingin ditontonnya: BBB The Movie! 

“Yakin gak bakalan tidur nonton tuh film?” tanya salah satu lelaki dari dua pasangan itu seolah telah menontonnya dan berkesimpulan bahwa film itu semujarab obat tidur. 

Si PENYENDIRI hanya tertawa, merasa yakin; mau tidak mau mereka pasti menyetujui ‘keputusan’nya. Karena bagi kedua lelaki itu, tidak terlalu penting film apa yang akan mereka tonton–Apa lagi yang lebih penting dari ‘kebersamaan’ dengan sang kekasih hati? 

Maka disetujuilah ide ‘gila’ menonton BBB The Movie! untuk pemutaran jam 19:00 WIB, sementara jam baru menunjukan angka 16 lewat sekian kala mereka bernegosiasi mengenai tempat duduk, dan membayar tiket di loket bioskop. 

Mereka punya waktu TIGA JAM untuk ‘merajut’ kebersamaan dan kemesraan, kecuali si PENYENDIRI yang mulai sibuk dan rikuh memikirkan apa saja yang akan dilakukannya selama itu. 

Mari kita sama-sama membayangkan apa saja yang dilakukan kedua pasangan kekasih itu! Ah, biasa; belanja, makan, bermesraan. 

Lalu, kita tengok serikuh apa si PENYENDIRI dalam mengatasi kekosongan waktunya;

Pertama-tama, dia masuk ke toko buku. Semua orang tahu, dia tidak sedikitpun berniat untuk membeli buku, hanya mencuri-curi baca; mencari inspirasi, terutama mengisi waktu karena sebenarnya si PENYENDIRI tidak terlalu suka membaca. Karena lapar, si PENYENDIRI pun ke swalayan untuk membeli makanan dan minuman. Kemudian, dia mencari warnet untuk ‘membesuk’ cerpen-cerpennya di Kemudian.com [sebuah situs pendidikan dan pembelajaran bagi seorang PENULIS AMATIR seperti dirinya]. Agak kecewa juga, point untuk cerpennya tidak lagi bertambah secara signifikan. Ratingnya hanya kuat bertahan empat-lima harian. 

Dan lagi-lagi, si PENYENDIRI menyempatkan diri menulis e-mail untuk seseorang yang belakangan begitu merenggut segenap perhatiannya. Tapi kali ini si PENYENDIRI tidak terlalu BERTELE-TELE dan NGOTOT dalam setiap kata di dalamnya. Hanya sekedar bilang; “Mungkin saya bakalan KANGEN BANGET sama kamu selama sebulan ini. Kita gak bisa lagi ketemu.” Dan dia tidak terlalu BERHARAP e-mailnya TERBALAS. Karena beberapa e-mail sebelumnya pun tak satupun yang terbalas. KASIAN! 

Lepas dari situ, waktu baru menunjukan angka 17:30 WIB. Si PENYENDIRI melarikan diri ke toko buku lain. Sekali lagi, bukan untuk membeli, hanya mencuri baca. Di sana, dia menemukan banyak lahapan cerita dengan beraneka tema yang menurutnya cukup GILA. Salahsatu yang paling menarik di matanya adalah sebuah novel [yang kalau tidak salah] berjudul LIVING SINGLE. Si PENYENDIRI jadi semakin merasa punya DUKUNGAN setelah membaca cover belakang novel tersebut. 

“Hidup menyendiri terasa jauh lebih baik daripada berada dalam satu ikatan, meski kesendirian bukan hal yang mudah untuk dijalani.” 

Buktinya, si PENYENDIRI benar-benar merasa BEBAS mau melakukan apa saja, tanpa memikirkan seseorang di sampingnya–yang tak pernah ada untuknya. Dan dia merasa BANGGA dengan menjadi si PENYENDIRI. 

[bersambung]

-Wednesday, 01 August, 2007 00:13:37-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s