Saya merasa lega. Hari itu saya benar-benar mengucapkannya; cinta. Meski ternyata…

“Maaf,” cuma itu yang dia ucap.

Ya, kata maaf yang terdengar lebih menyayat dari sebuah hujat.

Di ruang segi empat—berkertas dinding senyum indahnya ini, saya sempat jatuh meratap. Mengubur harap.

Belajar tegar.

Jatuh cinta adalah hal yang wajar. Mencintai bukan sebuah kesalahan. Bukan pula kekalahan jika akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Kekalahan adalah saat kita tidak berani berterus-terang.* * *

3 thoughts on “

  1. cinta itu seperti kertas putih yang penuh karna goresan pena
    seperti sebatang rokok yang mati karna baranya sendiri
    seperti lilin yang habis karna apinya sendiri
    cinta seperti aku, kamu dan dia yang lelah karna memilih dicintai atau mencintai

    akh.. cinta? semua juga tau..
    hanya saja cinta tak pernah habis dieja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s