Masih Ada Harapan


pdvd_005.jpg

Selalma bumi berputar, selagi musim berganti, masih ada harapan… 

Perempuan itu bernama Ambar. Hatinya kini sedang hambar. Jiwanya digantung seseorang, meski dia tahu bagaimana cara melepaskan diri.

“Kita jadi pergi nggak sih?” tanya seorang perempuan di sebelahnya yang nampak bersinar dengan rambut keemasan.

“Jadi,” jawab Ambar dengan mata setengah fokus pada seorang lelaki di kursi yang sedang sedikit berdiskusi. Lelaki yang setahun lalu pernah bersamanya, memproklamirkan diri sebagai kekasihnya. Lelaki yang terlalu pandai menutupi perasaannya hingga segala tingkahnya menjadi kejutan tersendiri. Seperti saat tiba-tiba dia ‘nembak’ Ambar. Begitu juga saat tak ada angin dan tak ada hujan, dia memutuskan hubungannya dengan Ambar.

Lelaki itu bernama Aidan. Hatinya kini sedang tak karuan. Jiwanya digantung seseorang, meski dia tahu bagaimana cara melepaskan diri.

“Dan, kamu ada ide nggak buat tema buletin kampus minggu depan?” seorang lelaki dengan tampang serius bertanya padanya.

“Hm, menurut saya…” jawab Aidan dengan mata setengah fokus pada seorang perempuan di sebelahnya yang membuat dadanya berdebar-karena perempuan itu terus menatapnya. Perempuan yang sejak tiga bulan lalu mulai menghiasi hatinya, mengisi kehampaannya. Perempuan yang terlalu pandai menutupi perasaannya hingga segala tingkahnya menjadi tanda tanya tersendiri. Seperti saat tiba-tiba dia bilang seharian itu mencari Aidan untuk meminjam sesuatu yang dia sendiri bingung menyebutkannya. Begitu juga saat tak ada angin dan tak ada hujan, dia marah tanpa sebab setelah melihat Aidan jalan berdua dengan Ambar di sebuah pusat perbelanjaan.

* * *

“Mbar, udah jam setengah empat nih!” perempuan berambut emas itu terus mengingatkan Ambar. “Tahu bakalan gini, gue suruh mereka jemput kita aja di sini.”

“Ok, kita pergi sekarang.” Ambar menguatkan hati untuk terus melangkahkan kaki. Ke luar. Menjauh dari seseorang untuk mencoba berdekatan dengan seseorang. Sementara hatinya masih sulit terpisah dari seseorang. Lelaki bernama Aidan itu. Yang meski sudah mengucap kata putus, Ambar masih menyimpan harapan besar padanya. Karena lelaki itu pernah bilang, “Saya ingin kita berpisah bukan karena saya nggak suka dan nggak sayang lagi sama kamu. Tapi justru karena saya sangat sayang sama kamu dan nggak mau nyakitin hati kamu.”

Dan karena memang di hari-hari setelah mereka menyatakan perpisahan pun mereka masih sering jalan bersama. Masih saling menelepon dan bersms-ria. Masih bisa berkunjung ke rumah masing-masing. Dan masih sempat pergi makan dan nonton berdua.

* * *

“Dan, kalau gitu, hari Minggu nanti kita rapat di ruang redaksi buat ngebahas buletin minggu depan. Kamu mesti datang!” lelaki itu masih dengan tampang seriusnya.

“Ok, saya pasti datang. Tapi yang lainnya juga mesti datang.” Perlu digarisbawahi, yang Aidan maksudkan dengan ‘yang lainnya’ itu adalah perempuan yang kini nampak masih sedang menatapinya. Hatinya mulai sibuk berdoa agar perempuan itu bisa datang di hari Minggu nanti-jika dia nekat membolos dari gereja. Kemudian seperti biasa, Aidan mulai berspekulasi klasik: jika dia datang, berarti dia juga merasakan hal yang sama dengannya, dan sebaliknya.

Belakangan, Aidan senang melakukannya. Spekulasi klasik itu diberlakukannya dalam berbagai momen kecil sekalipun.

“Kalau saat saya kembali dari mushola ke ruang redaksi, dan dia masih ada di situ, padahal yang lainnya sudah memutuskan untuk pulang, berarti dia benar-benar menyukai saya. Tapi kalau enggak, berarti itu hanya perasaan sepihak saya saja.” Suatu hari Aidan sengaja berlama-lama di mushola, biar spekulasinya tidak asal-asalan. Dan saat dia kembali ke ruang redaksi, ternyata perempuan itu masih ada di sana. Baru beberapa detik setelah dia menyapa Aidan, dia memutuskan untuk pulang. Begitu juga di saat-saat yang lainnya.

* * *

Ambar akhirnya benar-benar pergi dengan temannya yang berambut emas itu ke sebuah kafe, menemui sepasang lelaki yang tengah menunggunya. Yang salah satunya bermaksud ‘mendekatinya’.

“Aku belum bisa kasih jawaban apa-apa. Tapi bukan berarti kita nggak bisa berteman dan jalan bareng.” Putus Ambar sedikit memberi harapan saat lelaki itu menyatakan maksudnya. Karena dia masih menyimpan harapan terhadap Aidan.

* * *

Aidan tersenyum dalam hati saat perempuan itu bilang kalau hari Minggu nanti dia pasti datang meski terlambat, seusai jam peribadatannya.

Kalaupun dia tidak datang, setidaknya saya masih punya harapan dengan Ambar yang selalu saya beri harapan. Batin Aidan.* * *

|Minggu, 24 Juni 2007 21:37:55|

One thought on “Masih Ada Harapan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s