Arsip Kategori: Titik Cerpen

“Coba lihat,” teriakanmu seketika memisahkan kepalaku dari lamunan yang tengah aku ciptakan bersama jendela dan atap bangunan menjulang yang nyaris sejajar dengan tinggi kita, “bulannya sangat indah.”

Kuikuti arah telunjukmu, menatap sesuatu yang kau sebut indah itu. Jujur, aku lebih suka bulan sabit; jauh lebih cantik.

“Kau bayangkan, seandainya malam benar-benar menelan alam dengan hitam— …” oh, aku tahu sesuatu yang lebih pasti. Ialah suaramu yang hilang ditelan bebunyian kendaraan yang berlalu-lalang di belakang kita. Bagaimanapun, kita tidak sedang berada di kafe temaram atau longue yang sangat nyaman. Kau tahu, aku sempat frustrasi saat pertama kali kau mengajakku ke tempat ini. Dalam mimpi sekalipun, aku tak pernah berani memikirkan diriku duduk pada pembatas sisi jalan layang sambil berbincang dengan seseorang atau hanya sekadar menikmati malam. Terlalu berbahaya untukku.

“Kebisingan dan sedikit ketegangan di sini akan memberimu kedamaian dalam bentuk lain,” meski kutahu kau hanya berusaha mengatasi ketakutanku waktu itu, “percayalah,” ya, aku percaya, bersamamu segalanya akan baik-baik saja.

Rasa percaya diriku kian bertambah ketika kulihat sepasang sejoli duduk mesra di atas sepeda motor yang ditepikan beberapa meter dari keberadaan kita, bahkan juga beberapa meter dari keberadaan mereka. Tiba-tiba aku teringat perkataan temanku tentang jalan layang yang menghubungkan Pasteur – Surapati ini. “Di sini tempat orang pacaran, kan?” pertanyaanku terdengar sangat norak di telingaku sendiri.

“Apa?” kau berteriak sambil mencondongkan telingamu ke mulutku. Oh, terima kasih, Makhluk-makhluk Beroda yang mendesau bising. Lain kali aku akan berusaha lebih baik lagi dalam membuat pertanyaan. Dan aku perlu sedikit penyesuaian teknik vokal untuk dapat memproduksi suara yang baik saat berbincang—tepatnya berteriak.

Tetapi, ada saatnya kita tidak harus berteriak. Kau memberitahu, “Pertama, ketika jalanan lengang; kedua, ketika jalanan ramai dan kita hanya perlu berbicara tanpa ingin didengar siapa pun namun tetap mendambakan keberadaan seseorang di samping kita.” Terima kasih, kau berhasil membuatku bingung untuk yang kedua itu.

“Ayolah, kau pasti lelah menulis diary, dan merasa semakin gila setiap berbicara dengan dirimu sendiri di depan cermin,” paparmu sebelum akhirnya kau mendemonstrasikan metode yang lebih baik dari kedua hal itu. Kau menoleh, memastikan sekelompok kendaraan lewat secara bersamaan. Kemudian kau berkata-kata seolah aku mendengarnya. Aku hanya memandangi wajah dan gerakan bibirmu yang ajaibnya berbunyi WHUZZZ, BRMMM, NGEEENG, TIDIIID atau bahkan BLAR!!!

“Ah, lega,” ucapmu setelah selesai. Aku mulai paham, lalu berkesimpulan: inti dari metode yang kau maksudkan adalah mengungkapkan sesuatu yang kau anggap sangat pribadi dan rahasia kepada seseorang tanpa perlu kehilangan arti kerahasiaannya. Menarik. Hei, ternyata tidak semua pasangan yang datang ke tempat ini hanya untuk berpacaran.

“Sekarang giliranmu,” kau menantangku.

Aku? Ah, orang bodoh sepertiku bukanlah penganut spontanisme yang baik. Pada malam-malam berikutnya, aku baru menemukan banyak materi rahasia yang selama ini hanya bergaung double stereo di ruang kedap suara dalam dadaku saja. Dari mulai masalah perceraian kedua orang tuaku, adikku yang menderita syndroma down, pengalaman seksual pertamaku yang mengerikan, kebohongan kecil dan besar yang pernah kubuat, hal-hal paling konyol dan memalukan yang pernah kulakukan, hingga penyakit-penyakit menjijikan yang sempat menyerang daerah paling sensitif di tubuhku. Wow, tak kusangka aku se-ekstrovert itu.

“Kau tahu, hanya ketika bersamamu aku merasa menjadi seseorang yang berbeda dalam versi aku yang sebenarnya. Maksudku, kaulah yang membantuku menemukan sisi yang lebih aku dari diriku sendiri,” pada malam kesekian itu, kau menatapku dengan ekspresi sedikit bingung saat mendengar sepenggal pengakuanku. Volume suaraku mengecil karena bising kendaraan kembali hadir, “Biasanya, ketika kita jatuh cinta, kita jusrtru merasa gamang dengan diri kita sendiri…” dan suaraku benar-benar menghilang ketika kukatakan, “tetapi, jatuh cinta padamu sangat berbeda; begitu sederhana namun istimewa.” Sekali lagi aku berterima kasih pada makhluk beroda di belakang kita. Betapapun aku belum siap dengan reaksimu ketika mengetahui perasaanku yang sebenarnya.baca lebih lengkap

Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.

Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.

Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”

Mestinya ini menjadi kabar bahagia. Kelak. Beberapa tahun lagi, dalam situasi dan kondisi yang tidak seperti ini. Aku lupa mau berkata apa. Tepatnya, mendadak tak mampu berpikir dan memproduksi kata-kata dengan lancar dan semestinya. Air mukaku kering dan napasku sesak. Kupertemukan punggungku dengan dinginnya dinding kamar kostnya, lalu menatap langit-langit dan seekor cicak yang kesepian. Setelah itu aku menyulut rokok dan berusaha mencari ketenangan dalam setiap hisapan.

Secangkir air mata yang ia suguhkan menjadi kopi terpahit sepanjang malam Minggu yang pernah kami lalui. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dan melupakan semuanya. Semuanya. Tetapi, menyangkal fakta bahwa ia adalah kekasihku bukan hal yang mudah. Terlebih karena aku sangat mencintainya.

Kau tahu, hari Senin aku ada ujian,” kata-kataku seperti udara tak nampak yang sedang berkejaran dengan kepulan asap.

Ia menatapku. Aku menduga, ia pikir ini saat yang paling salah untuk membahasnya. Dan aku hanya si bodoh yang tak kenal situasi.

Konsentrasiku akan sangat terganggu jika aku diperbolehkan mengikuti ujian hari Senin. Yah, syukurlah, catatan administrasiku semester ini cukup buruk sehingga namaku belum terdaftar sebagai peserta ujian.”

Ada iba di balik derai air matanya. Sementara batinku sibuk menakar-nakar rasa yang mulai duduk manis dalam singgasananya. Satu per satu menampakkan diri, namun aku tak juga mampu menerjemahkannya.

Aku ingin marah, pada diriku sendiri, pada dirinya. Dan pada rasa cintaku terhadapnya. Tetapi kemudian aku tidak menginginkannya. Entahlah.

Ibumu masih sakit?” tiba-tiba ia bertanya dan menyeka air matanya.

Ya. Dan ayahku baru di-PHK,” spontanitas seseorang dalam kondisi tertekan memang terdengar begitu polos, sekaligus memalukan. Oh Tuhan, apakah membahas masalahku di tengah masalahnya dan masalah kami saat ini adalah berdosa? “Ehm, maksudku, lupakan saja. Tadinya aku hanya berusaha membuatmu sedikit lega dengan ‘penundaan’ ujianku lusa,” kuketukkan ujung rokokku pada asbak. Seandainya masalah ini sesederhana abu rokok, semudah itu aku akan menghempasnya. Dan ia akan hilang dengan sendirinya seiring arah angin.

Ia memelukku, “Maaf, aku tak bermaksud memaksamu untuk…”

Bertanggung jawab. Aku melepaskan pelukannya, “Orang tuamu tetap akan mencariku hingga ke ujung dunia,” ya, selama dua tahun ini, nama dan wajahkulah yang mengakrabi ingatan mereka sebagai kekasih puteri bungsunya, “dan kakak-kakakmu juga. Tentu saja aku buronan keluarga.”

Ia menangis lagi.

Saat ini aku benar-benar membenci ketakberdayaan perempuan; tak ada yang dapat kumanfaatkan darinya, terutama tangisannya. Oh, tidak. Aku tidak pernah memanfaatkan apa-apa darinya. Bahkan malam itu pun, aku tidak benar-benar memanfaatkan ketakberdayaannya. Kami hanya mengikuti tuntutan dan tuntunan berahi. Satu-satunya hal yang tak kusesalkan dari kejadian malam itu adalah bahwa aku tidak memperkosanya, dan tentu saja ia tidak merasa diperkosa. Dan, satu hal yang membuatku tenang selepas kejadian malam itu: aku mengenakan pengaman. Aku harus yakin bahwa pengamanku benar-benar aman.

Mestinya aku manut pada petuah kedua orang tuaku,” kumatikan bara di ujung rokokku, kutekan pada asbak dengan segenap kekuatan. “Mestinya aku tidak membolos waktu pelajaran agama, hingga mendapatkan informasi yang keliru dari teman-temanku. Tetapi ini sudah terjadi. Jadi, mestinya aku lebih skeptis dengan alat kontrasepsi. Maksudku, aku tak perlu menggunakannya malam itu,” ya, andai kutahu rasanya jauh lebih nikmat tanpa benda sialan itu.

Maafkan aku…” kini ia lebih dari sekadar menangis.

Apa yang bisa dilakukan seorang lelaki ketika hatinya benar-benar hancur tak berampun? Menangis hanya membuatku lebih hancur. Air mata seorang lelaki tak secair dan sebening milik perempuan. Amarah jauh lebih indah untuk ditunjukkan. Tetapi, masalahnya aku tak mampu melakukan itu kepadanya hanya karena alasan yang tak masuk akal: cinta.

Hanya saja, apakah cinta bisa memberikan jaminan terbaik dalam situasi ini, untuk saat ini?

Aku tak tahu apakah aku perlu tahu siapa yang lebih berhak bertanggung jawab. Dan aku pun tak tahu apakah aku tetap berhak menghindar jika cinta tak mengijinkanku menemukan banyak alasan.

Baiklah, apa maumu sekarang?” aku bak penjinak bom yang sedang berusaha keras mencari kabel pencegah ledakan.

Ia memegangi perutnya, kemudian meremasnya, “Selagi masih dua bulan…”

Tidak!” aku menamparnya. Oh, maafkan aku. Aku hanya terlalu mencintainya. “Biarkan ia tetap hidup. Lebih baik kau membunuh ayahnya saja.”

Aku mencintaimu,” pelukannya kini lebih erat hingga dadaku sesak. “Maafkan aku. Maafkan aku. Ia memperkosaku. Aku bersumpah akan membunuh bajingan itu.”

Biar aku saja…”

Tidak. Kau cukup berjanji untuk melupakan dan meninggalkanku. Karena hanya dengan begitu, aku bisa memaafkan diriku sendiri.”

Aku meledak dalam tangis. Dan cinta—ah, hanyalah cinta…***

Dadan Erlangga

Bandung, 29 Juni 2008 10:57:47

Panggung untuk acara inagurasi sudah nampak dari kejauhan, sedari jalanan sebelum memasuki gerbang kampus. Dan suara bising anak-anak yang sedang cek alat sekaligus latihan terdengar cukup mengerikan di tengah hari yang panas ini.

Ah, lagu–sialan–itu lagi! Aku lupa judulnya, dan sama sekali tak menyesal membiarkan memoriku menghapus ingatan tentangnya. Sambil memarkir sepeda motor, batinku bersungut seperti telah lama memusuhi suara itu.

Baru seminggu yang lalu, lagu itu kuunduh dari sebuah situs penyedia file MP3 yang dapat diunduh secara bebas. Tak ada yang istimewa bagiku. Bahkan versi akustiknya mengingatkanku pada suara pas-pasan teman perempuanku yang hobi membuatku menutup telinga rapat-rapat saat ia mulai membuka mulutnya. Dan kualitas audio yang buruk menjadikan lagu itu tak lebih dari sekadar “bukan sesuatu”.

Sebut saja ini hanya sentimen pribadiku. Hei, aku punya hak untuk suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Dan kupikir, tidak melibatkan diri dalam euforia “Misteri di Balik Lagu Gabby” tidak akan memposisikanku pada sekte minoritas yang udik.

“Eh, katanya lagu itu ditulis Gabby sebelum ia bunuh diri, karena frustrasi.”

Oh, please! Perbincangan beberapa mahsiswi tingkat tiga yang kudengar saat aku berjalan menuju laboratorium komputer mengingatkanku pada diskusi serius adik perempuanku dengan teman-temannya yang masih kelas tiga SMP. Ya, adikku-lah yang memaksaku mengunduh lagu itu demi dapat dikatakan “teraktualisasi” diantara teman-temannya sehingga ia bisa menjadi juru bicara dalam setiap wacana gosip tentang Gabby–setelah isu setan SMS merah. Dan kemudian, setiap hari di sepanjang minggu ini, adikku tak pernah tidak memutarnya. Baik itu dalam MP3 player maupun play list di komputernya. Sementara aku selalu memilih untuk jauh-jauh dari semua hal tentang itu.

“Abang takut, ya, mendengar lagu itu?”

Pertanyaan konyol adikku saat itu kujawab, “Bukannya takut. Abang hanya tidak suka mendengar lagu yang hit hanya karena isu sensasionalnya yang murahan, bukan karena kualitasnya.” Entahlah, apakah adikku paham apa maksud dari jawabanku.

Dan hari ini, di siang yang panas ini, aku harus mendengar lagu itu, lagi, sekaligus opini-opini menggelikan dari teman-temanku–yang mestinya bisa jauh lebih realistis daripada adikku dan teman-temannya.

Tapi, ah, sudahlah. Kupikir, lebih baik aku berkonsentrasi pada materi praktikumku daripada ikut dipusingkan dengan lagu yang–konon–misterius itu.

Ya, aku nyaris terlambat. Kelas tepat dimulai saat aku tiba di laboratorium komputer. Sial! Ternyata aku lupa membawa modul! Praktis, aku tidak boleh berkedip barang setengah detik pun demi mampu menangkap semua hal yang divisualisasikan sang dosen. Dan tentu saja, telingaku mesti lebih tajam dari pendengaran seekor anjing kala menyimak penjelasan dosen yang bersuara ekstrim lirih itu.

Oh tidak! Suara di luar (baca: lagu itu) masih saja terdengar. Jelas. Seperti tidak ada stok lagu lain lagi untuk dibawakan. Tetapi masalahnya, aku dan teman-temanku di sini sedang membahas subjek tersulit dan terpenting. Konsentrasiku kian kacau. Oh Tuhan, tolong hentikan mereka!

Tetapi lagu itu semakin jelas terdengar, bahkan dari ketinggian lantai tiga ini.

Aku pun berlari ke jendela dan berteriak pada mereka yang berada di panggung untuk lekas menghentikan lagu itu, dan suara apa pun yang membuat temperatur udara semakin tak keruan.

Mereka balas meneriakiku, dan beberapa mendongakkan wajah dengan tatapan aneh.

Astaga. Bagaimana bisa? Ternyata mereka tidak sedang menyanyikan lagu apa pun, bahkan tak ada yang memegang satu alat musik pun! Mereka justru tengah beristirahat dan hanya berkumpul-kumpul di atas dan di bawah panggung.

Sementara lagu itu masih terdengar, dan semakin mengerikan.

Lalu aku berpaling pada teman-temanku di dalam laboratorium komputer ini, dan mendapatkan tatapan aneh yang sama dengan yang diberikan teman-temanku di luar sana.

“Jangan katakan kalau kalian …”

Oh Tuhan, apakah lagu itu hanya terdengar olehku saja? Bagaimana bisa?

Tiba-tiba seorang gadis muncul, dan tak ada yang merasakan dan melihatnya, kecuali diriku. Ia gadis berambut panjang yang sedang membawakan lagu (yang terus terdengar di telingaku) sambil memetik gitar. Gadis yang tak kukenal, namun tanpa sengaja pernah kulihat dalam sebuah tayangan televisi yang membahas misteri lagu itu, dan diklaim sebagai sosok Gabby. Aku benci menebak. Aku benci ketakutan tak bersebab.

Ia semakin mendekat, seperti pengamen di dalam bis yang menadahkan kantong permen kosong pada setiap penumpang. Bedanya, ialah satu-satunya penyanyi yang bernyanyi tanpa ekspresi. Wajahnya putih pucat dan tanpa riak air muka. Dan aku semakin tak tahan mendengar lagu yang terdengar bagai Lingsir Wengi (dalam film Kuntilanak) itu terus dan terus diperdengarkan. Bahkan kedua telapak tanganku pun tak mampu mencegahnya masuk ke dalam pendengaranku.

Hentikan!

Kulemparkan sebuah speaker kecil dari meja komputer terdekatku ke arah gadis itu. Yes, tepat pada kepalanya. Namun ia tak bergeming dan terus mendekatiku sambil menyanyikan lagu sialan itu. Oh, aku benci mengakuinya, tetapi memang saat ini aku ketakutan. Saat ia semakin mendekat, dan nyaris tak ada jarak di antara kami, spontan aku mendorongnya hingga ia terjerembab ke lantai; dan entah kenapa ia masih bisa memetik gitarnya dan terus bernyanyi.

HENTIKAN!

Kali ini kulemparkan monitor empat belas inchi pada tubuhnya yang terbaring di lantai. Ia berdarah. Sebagian darahnya terciprat ke tubuhku.

Dan aku terjatuh dari tempat tidurku.

“Hhhh, syukurlah…” napasku panjang terhembus, meskipun sakit berkumpul di syaraf lenganku yang menahan bobot tubuhku saat terjatuh.

Huh, mimpi sialan!

Tapi… lagu itu masih saja terdengar. Oh Tuhan, apakah aku masih bermimpi?

Tidak. Aku sudah bangun. Dan suara itu sepertinya terdengar dari kamar sebelah. Adikku tak bisa pelan-pelan dan sekali saja memutarkannya. Ya, kali ini aku yakin bisa menghentikannya. Akan kuhapus secara permanen lagu itu dari komputer juga MP3 playernya.

Tapi… tidak. Lagu itu bukan dari sana. Jelas bukan. Melainkan dari komputerku sendiri. Tapi, bagaimana bisa? Aku tak mungkin menyalakannya dalam keadaan tidur, dan lagi pula tak pernah kusimpan file lagu itu di sana.

“Lagunya bagus, kan?” kursi belajarku berputar, dan nampak seorang gadis yang kulihat dalam mimpiku.

…***

Dadan Erlangga,
Bandung, 01 Juli 2008 15:05:26

Pada malam-malam panjang itu, ia terpasung dan membelah kepalanya sendiri. Ada kepingan CD dan DVD bajakan yang dibelinya dari Kota Kembang; American Pie 6 yang membuatnya bergidik, muak dan agak terangsang; American pie 7 yang membuatnya iba dan bosan. Kemudian ia menemukan draft cerpen dan novel perselingkuhannya yang mulai mengendap dan digerayangi rayap. Hasrat-hasrat yang masih berlabel haram. Cita-cita. Dan cinta terpendam.

Ranjangnya berderit-derit kala mereka bersenggama; ia dan keterjagaannya yang binal dan lebih menggebu-gebu dari sepasang pengantin baru. Sorot matanya bak mercusuar yang memata-matai penyusup pantai. Kafein telah menghitamkan hemoglobin dalam tubuhnya, hingga ia kehilangan warna merah untuk menyempurnakan lukisan tidurnya.

Tetapi, akhirnya beberapa butir Depresan berhasil membawanya pada gerbang bernama Twilight Zone. Suatu kondisi dimana dirinya tak lagi menyadari batas keterjagaan dan keterlelapan atau mimpi.

Sesaat ia menjelma Lelaki Mimpi.

Ia duduk, tetapi nampak seperti berdiri-ah, ya, begitulah yang terjadi dalam dunia mimpi, tak ada sesuatu yang pasti. Kursi-kursi tanpa kaki. Dinding yang setiap detiknya berubah warna dan pola. Gelap dan terang yang seolah nampak serupa. Tetapi ia benar-benar dihadapkan pada berlembar menu tentang mimpi aneka versi. Baca Lebih Lanjut »

Hujan menurunkan perempuan bernama Hanny di depan pagar rumahnya dengan taksi kesekian di penghujung bulan. Pada saat yang sama, seekor anjing bernama Moshi melompat ke kandangnya karena suara halilintar. Dan seorang lelaki melongok dari ruang yang lain, memastikan perempuan itu lekas masuk sebelum lebih kuyup.

Moshi tak lantas ke luar ketika perempuan itu melintasinya dengan langkah lelah dan agak basah. Padahal ia tengah dilanda kesepian, dan kerinduan mendalam pada si perempuan yang lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Ah, ia merasa keberadaan sosok lelaki yang takut pada anjing itu tak berguna sama sekali. Hei, Moshi anjing yang lucu dan menggemaskan! Dan lelaki itu hanya mampu melihatnya dari kejauhan.

“Selamat malam,” perempuan itu tersenyum simpul sambil membelai rambut halus Moshi yang berwarna jingga muda karena terpaan lampu dalam kandangnya. Moshi menyahut dengan suara lembut dan gerakan kepala manjanya sebelum akhirnya tertidur pulas. Oh, hampir jam sebelas. Perempuan itu cukup tersentak seruan jam dinding yang seolah baru saja mengingatkannya akan perjalanan enam puluh kilometernya yang kali ini menghabiskan waktu satu setengah jam lebih. Arus lalu-lintas sepanjang Jakarta-Bogor malam ini lebih padat dari biasanya. Baca Lebih Lanjut »

Kau datang tepat waktu saat menjemputku sore itu. Aku teramat bersyukur karena sedetik yang berarti itu benar-benar menyelamatkan hidupku. Cuaca memburuk dengan hujan dan angin yang nyaris membunuhku. Sejak dulu, dingin adalah musuh terbesarku, momok bagi paru-paruku. Tetapi saat itu kau–dan aku tahu, kecerobohanku sendirilah yang ternyata lebih berbahaya dari semua itu. Aku lupa membawa obat inhaler untuk asmaku. Sesuatu yang lebih penting dari kartu kredit itu bahkan baru kuingat saat aku benar-benar merasa kehabisan udara sore itu.

Kau lekas berlari dari mobil saat melihatku nyaris sekarat di lobi bank tempatku bekerja. Memberikan obat itu, kemudian kau menyelimutiku dengan sweater wol yang kaubawa dan kaulindungi dengan tubuhmu yang terguyur hujan. Malaikat menyeramkan dalam fantasiku telah terganti sosok yang tampan dan bersahaja sesaat setelah kurasakan napasku kembali normal.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menatap wajahmu. Begitu indah, pancaran sukmamu seakan memberiku sedikit bocoran deskripsi tentang surga. Kau pun selalu tak terduga. Kupikir, dari mana kau tahu aku melupakan sesuatu kemudian harus menanggung derita karenanya, sementara harimu cukup padat dengan segala aktifitas kantormu? Apakah tali batin kita sudah sedemikian terjalin? Bibirku nyaris mengucapkannya sampai kaubilang, “Si Bibi menelponku dari tadi siang karena ponselmu tak bisa dihubungi,” ah, ya, saking sibuknya bekerja, aku sampai mengabaikan ponselku hingga tak bernyawa. “Hari ini banyak meeting. Aku baru bisa ke luar beberapa saat yang lalu dan langsung pulang, kemudian menjemputmu,” lanjutnya, membuatku menyadari sesuatu.

Aku menyesal memikirkannya. Mestinya kunikmati saja saat-saat bersamamu tanpa perlu memerdulikan apa pun, termasuk apakah kau mencintaiku atau sebaliknya. Selamat, kau berhasil menghancurkan segalanya. Lagi.

Baca Lebih Lanjut »

Aku mengirimmu pesan
dengan tanda tanya di setiap ujungnya
Tanda tanya yang serupa kail
dan kau ikannya

Aku menghangatkan kembali kenangan dalam pesan
dengan kata “kemarin” di setiap jengkalnya
Kemarin yang gerimis
dan kau pelanginya

Dan, kau membalas pesanku
dengan caramu yang masih seperti waktu itu
Cara yang mengantarkanku pada hari ini
dan kau masih matahariku

Kita berbalas pesan, semalaman
Kita pernah berhubungan, lebih dari setahunan
Entah kenapa kau harus mengirimku pesan:
“Kamu siapa?”

[Bandung, 22 April 2008 16:07:12]

Akhirnya… perhelatan itu usai sudah. Setidaknya, ini berakhir untuk saya.

Tiba saatnya berpisah. Selamat tinggal, nenek tersayang, sepupu-ponakan tercinta, teman-teman terkasih, Ciakar termanis, kenangan terindah dan perempuan tercantik yang lagi-lagi tak berhasil saya jumpai. Entah kapan lagi saya bisa kembali pulang ke sini. Tidak yakin Lebaran tahun depan bisa kembali lagi. Bukan saya tak berhati. Justru sebab saya terlalu berhati, tak cukup sanggup menghadapi semua ini. Ah, sudahlah. Jika masih berjodoh, nasib tidak akan membawa kita kemana-mana.

Yup, selamat datang Bandung lagi. Tugas-tugas dan-beban itu menanti untuk lekas ditindaklanjuti. Segala permasalahan itu ancang-ancang menerkam-ya, bukan untuk dihindari, justru untuk lekas dihadapi. Dua hari ke belakang kiranya cukup me-refresh pikiran saya, memulihkan sedikit kekuatan saya. Semoga saya siap dan mantap menghadapi hari ini dan esok hari yang selalu dihantui ketakutan dan ketidakmenentuan. Dan semoga lekas-lekas tahun depan. Saya benci saat-saat sekarang!!!

Pulang. Pulang dari pulang.

Rumah kotor dan agak berantakan. Ada sisa-sisa makanan di meja makan-membasi.

Menghangatkan kembali komputer yang sudah dua hari tak terjamahi. Mengecek kembali tugas-tugas. Berniat menyelesaikannya, namun urung sebab badan masih lelah. Menyalakan winamp saja, mendengarkan lagu-lagu Melly. Menatapi screen saver foto-foto sendiri. Narsis. Biarin! Terlentang tanpa terpejam. Menerawang ke langit-langit. Mencari kenihilan. Merasakan kenihilan. Memikirkan kenihilan. Apa-apaan? Ya, biar saja begini. Orang lelah. Orang stress.

Beberapa SMS tiba. Menanyakan kabar kedatangan. Menagih tugas-tugas.

@#$%^&***

[Selasa, 18 Desember 2007 {sekitar pukul 5 sore}]

Adakah pernikahan merupakan eufimisme dari pelarian? Atau semacam jalan pintas? Ya, daripada terjebak dalam hubungan terlarang, terjerembab ke area perzinahan… atau bahkan sudah terlanjur-daripada harus menanggung malu…?

Hushhh… jangan berpraduga sekenanya! Khususnya bagi warga kampung ini (dan di tempat mana juga), pernikahan adalah sesuatu yang teramat sakral, cukup diagungkan dan dianggap sebagai peristiwa sejarah yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Alih-alih pernikahan adalah sunnah Rasul.

Memang benar, alasan sebagian orang tua lekas menikahkan anak-anak mereka, tak lain dan tak bukan sebab takut ‘kecolongan’. Apa pun alasannya, mestinya pernikahan memang diletakkan di satu tempat teristimewa.

Tidak terasa, waktu sedemikian cepat berlalu. Kemarin, saya dan kamu masih berebut mainan, makanan, gambar-gambar, chanel TV; bahkan bertengkar gara-gara aturan dan tata cara sebuah permainan. Seperti baru kemarin, kamu mengajari saya beberapa hal: bersiul, merokok, mendekati dan merayu perempuan, hingga bermasturbasi di kamar mandi. Bahkan terasa baru semalam, kamu memperkenalkan VCD porno untuk pertama kalinya kepada saya, dan mengajak menonton bersama.
Baca Lebih Lanjut »