Arsip Kategori: saya sendiri

Adalah eufimisme dari pelarian; atas beban-beban, masalah yang kian menumpuk. Tak ada yang benar-benar berarti, sebenarnya. Hanya saja, semua ini terasa menyiksa. Ah, rasanya saya sedang sangat tak menentu.

Menghadiri pernikahan saudara; alasan terbaik untuk pulang. Meski ada atau tanpa saya pun acara itu tetap berjalan, saya merasa senang ingin pulang. Tidak saat lebaran-tidak semua keluarga datang, atau saat libur sekolah/kuliah. Sebab acara pernikahan, saya yakin semua keluarga akan berkumpul. Maka saya ingin ikut pulang.

Kangen pada nenek satu-satunya. Pada beberapa sepupu dan teman yang tangannya pernah mencoretkan kisah di diary saya, yang diarynya pernah saya penuhi dengan kisah-kisah hidup saya. Dan pada seorang perempuan yang sampai sekarang sulit untuk saya lupakan.

Sudah hampir dua-tiga tahunan saya tidak pulang. Buat apa? Di sana terlalu banyak kenangan yang membuat saya selalu ingin menangis setiap mengingatnya. Tidak berarti semua kenangan itu pahit. Justru semakin manis, kenangan itu semakin kuat mencabik-cabik seisi hati.

Tapi sekarang, di sini terlalu banyak beban.

Kebetulan ada acara pernikahan. Sedikit refreshing, merasa senang menemukan tempat pelarian.

“Ma, saya ikut (pulang),” mama terkejut senang mendengarnya.

“Teman, maafkan saya. Sepertinya saya akan meninggalkan kota dalam dua-tiga hari ini. Saya janji, semua urusan kita dan tugas-tugas (beban) saya akan saya selesaikan sekembalinya saya nanti,” entahlah, saya tidak tahu reaksi mereka. Marah, benci atau biasa-biasa sajakah? Saya tidak perduli.

Yang jelas, saya senang, akhirnya saya (ingin) pulang.***

[Minggu, 16 Desember 2007]

11old_boy__by_pizzadreams.jpg…ialah ketika seorang lelaki dan perempuan berjalan bersama, bergandengan tangan, bermesraan, berpelukan, berciuman, bercinta, kemudian menikah-ups, adakah siklus yang terbalik?

Saya masih dan selalu berpola pikir demikian ketika konsep NORMAL dalam berpasangan disebut-sebut. Sampai di beberapa minggu terakhir ini, pemikiran saya mulai berubah. Kenapa? Apakah saya juga sudah mulai tidak normal?

Hooo… jangan salah sangka. Salah-salah, saya yang menganggap Anda tidak normal. Hayooo… apa coba?

Yah, saya tidak mau banyak berhipotesis tentang kenapa ada hal-hal yang awalnya dianggap tidak normal, kini sudah hampir dinormalisasikan (seperti data-data yang didapatkan seorang perancang sistem informasi saja ^_^), bahkan dianggap wajar dan… ya, normal-normal saja.

Ketika HAM semakin dijunjung tinggi, setiap manusia semakin mendapat pengakuan dan dukungan atas segala hak asasinya, termasuk memutuskan untuk berpasangan dengan siapa. Ya, sebut saja hubungan sesama jenis lah contoh riil-nya. Baca Lebih Lanjut »

Hari itu dia sedikit curiga; melihat perempuan itu membawa sebingkis hadiah bersampul menyala. Tapi rasa curiganya tidak terlalu membabibuta. Sebenarnya dia tahu apa dan untuk siapa benda ‘istimewa’ itu. Hanya, dia masih agak bingung, dari siapa dan untuk apa hadiah itu ada, meskipun dia tahu ada seorang lelaki berulang tahun beberapa hari sebelumnya.

Dia selalu ingin tahu tentang segala hal, terlebih urusan orang lain. Dia selalu mencuri dengar dan pura-pura tidak mencuri lihat, padahal matanya aktif merekam.

Ternyata kado itu dari si perempuan untuk si lelaki yang berulangtahun itu.

Kenapa perempuan itu tiba-tiba memberi kado pada si lelaki? Sementara mereka berteman, dan siperempuan tidak pernah sehangat dan seistimewa itu memperlakukan temannya. Kecuali… Baca Lebih Lanjut »

Apa yang saya pikirkan? Perasaan saya tak karuan; merentang radius dengan sebagian orang yang tak sedap dipandang membuat saya semakin terjerat bimbang.

Maka saya menghindar, saya sedang belajar melupakan.

Sedikit memanfaatkan ‘kekisruhan’ seseorang, saya menurutinya untuk menunda jam kuliah, karena kebetulan juga dibuat pembagian jadwal. Saya dan beberapa teman memilih sesi kedua. Menunggu di bawah: mengeksploitasi fasilitas internet yang biarpun lelet, lumayan untuk saya yang kepepet.

Curiga! Di bawah, hanya tinggal delapan pasang mata yang menunggu sesi kedua jam kuliah Multimedia. Tapi perasaan ingin ‘terpisah’ itu membuat saya kehilangan resah dikejar rasa bersalah karena merasa sedang membolos kuliah. Lebih-lebih karena saya sudah terbius dengan Friendster, Kemudian dan DeviantArt yang akhir-akhir ini menjadi lahapan pokok saya setiap online Baca Lebih Lanjut »