Arsip Kategori: saya melihat

love_is_razorblade_kiss__by_bunnis-copy.jpg

Iseng-iseng nonton SILET, kebetulan sedang membahas tingkah-polah para pasangan selebritis muda yang kian pamer kemesraan. Mencuat ‘kasus’ vidio ciuman Tomi Kurniawan - Ratna Galih, pun Bams Samsons - Tyas Mirasih. Dan muncul pula beberapa nama seleb lainnya yang tidak kalah fenomenalnya, seperti Ayudia Bing Slamet, Bunga Citra Lestari (BCL), dan… whoeverlah… (*duh, rumpi banget deh gue^^)

Ngomong-ngomong soal vidio ciuman Tomi - Ratna, rasanya para paparazi infotainment kalah cepat dengan teman saya yang sudah lebih dulu mendapatkan vidio itu, sekitar dua tahun yang lalu. Ya, kalau tidak salah, waktu itu saya masih semester 1 atau 2. Teman saya datang ke rumah membawa sekeping CD berisi vidio-vidio ‘indah’, dan salah satunya ya vidio itu tadi^^ Tapi, tapi… kalau boleh saya beropini, cewek yang ada di vidio itu bukanlah Ratna Galih seperti yang santer diberitakan. Lebih mirip… model iklan salah satu produk lotion C****, episode Black and White. Hooo… this is just my prediction… -peace-

Baca Lebih Lanjut »

[BBB Oh... BBB]

bbb_poster_dadun.jpg

Si PENYENDIRI dan kedua pasang kekasih itu akhirnya bertemu kembali di depan studio 2, tempat dimana film akan diputar.

Kita tidak perlu lagi membicarakan tentang dua pasang kekasih dan si PENYENDIRI itu. Fokus utama kita adalah film yang mereka tonton: BBB The Movie!

Film dibuka dengan Let’s Dance Together; langsung membawa kita pada adegan CIUMAN antara Bella dan Raffi di dalam mobil, di pinggir jalan tol. Wah, sebuah opening yang MENYEGARKAN. Baca Lebih Lanjut »

[kencan macam apa?] 

Dua pasang kekasih dan seorang PENYENDIRI berada diantara hiruk-pikuk mal yang super-sibuk, dengan satu acara utama: NONTON. Si PENYENDIRI ternyata berhasil mengintimidasi mereka untuk menonton film yang sejak Kamis [26 Juli] lalu ingin ditontonnya: BBB The Movie! 

“Yakin gak bakalan tidur nonton tuh film?” tanya salah satu lelaki dari dua pasangan itu seolah telah menontonnya dan berkesimpulan bahwa film itu semujarab obat tidur. 

Si PENYENDIRI hanya tertawa, merasa yakin; mau tidak mau mereka pasti menyetujui ‘keputusan’nya. Karena bagi kedua lelaki itu, tidak terlalu penting film apa yang akan mereka tonton–Apa lagi yang lebih penting dari ‘kebersamaan’ dengan sang kekasih hati? 

Maka disetujuilah ide ‘gila’ menonton BBB The Movie! untuk pemutaran jam 19:00 WIB, sementara jam baru menunjukan angka 16 lewat sekian kala mereka bernegosiasi mengenai tempat duduk, dan membayar tiket di loket bioskop. 

Mereka punya waktu TIGA JAM untuk ‘merajut’ kebersamaan dan kemesraan, kecuali si PENYENDIRI yang mulai sibuk dan rikuh memikirkan apa saja yang akan dilakukannya selama itu. Baca Lebih Lanjut »

poster.jpg

As long as I have been living, there has never been a day without you and there never will be…

Awalnya, menonton film ini membuat saya mengantuk berat. Alasan satu-satunya kenapa saya ingin dan tetap menontonnya adalah karena film ini dibintangi Song Hye Gyo yang selalu membuat saya tergila-gila padanya. Terlepas dari ceritanya seperti apa, saya tidak perduli. Yang terpenting adalah bisa “menikmati” kecantikan Song Hye Gyo selama lebih dari seratus menit.

Hingga menjelang tiga perempat bagian, saya mulai sedikit memutar otak, mencari tahu sendiri tentang ke mana arah cerita film ini sebenarnya. Dan sedetik setelah saya menemukannya, film ini benar-benar (baru) menunjukannya. Ternyata analisis saya benar.

My Girl & I berkisah tentang seorang pemuda biasa bernama Kim Su Ho (Cha Tae Hyeon-My Sassy Girl) yang belakangan hidupnya mulai berubah setelah seorang gadis paling cantik di sekolah yang bernama Bae Su En (Song Hye Gyo) menunjukan gelagat suka padanya. Hubungan mereka pun berjalan layaknya hubungan sepasang anak SMA yang sedang jatuh cinta, dan digambarkan tanpa konflik yang signifikan, cenderung datar.

Kakek Kim Su Ho yang seorang pembuat peti mati suatu hari bercerita pada mereka tentang cinta pertamanya yang “hilang”. Mereka berdua pun kerap membahas hal itu di hampir setiap kesempatan. Dan ternyata memang kisahnya memberikan pembelajaran tersendiri bagi keduanya. Tentang hidup yang terkadang kita anggap tidak adil, padahal sebenarnya Tuhan telah mengatur segalanya sedemikian rupa adanya. Tentang cinta yang tak harus selalu saling memiliki, namun tetap indah dalam segala bentuknya. Dan tentang kematian yang bukan sebuah akhiran. Raga seseorang boleh saja mati, namun tidak dengan pikiran dan jiwanya. Terutama cinta yang tidak pernah mengenal kematian.

Film ini dibuat dengan penuh kesabaran, sepertinya. Emosinya terbangun dengan sangat perlahan. Sepertihalnya saat kita sedang menyusun puzzle yang belum jelas gambaran utuhnya seperti apa. Film bergenre seperti ini cukup berisiko tinggi dalam meraih selera pasar. Bagi kebanyakan orang mungkin saja film ini terbilang garing dan monoton. Kalau bukan karena Song Hye Gyo, saya juga tidak akan menontonnya.

Tapi tentunya film ini tidak segaring yang kita bayangkan. Nuansanya benar-benar manis dan lumayan sendu. Juga membuat kita sedikit bernostalgia ke jaman-jaman SMA di mana cinta sedang berbunga-bunganya di hati kita. Ada hal-hal yang hanya akan kita rasakan tanpa mampu kita ucapkan. Dan itu benar-benar mengesankan. Seperempat akhirnya benar-benar penuh keharu-biruan. Memancing air mata. Lebih-lebih karena makna cinta yang digambarkan begitu dalam. Dan saat itu kita akan menyadari bahwa sesuatu yang tenang benar-benar menghanyutkan.

Di Korea sendiri film ini termasuk kategori Box Office. Sayangnya di Indonesia, khususnya di Bandung ini hanya beberapa (atau mungkin malah hanya satu-satunya) bioskop yang menayangkan film ini: Blitzmegaplex.* * *

coklat-stroberi.jpgBeberapa hari yang lalu, tepatnya Jumat 15 Juni 2007, saya seperti mendapat ‘bisikan’ untuk menonton film berjudul “Coklat Stroberi”. Tanpa mesti terlalu banyak pertimbanga, hari itu juga saya langsung pergi ke 21 terdekat. Saya sempat berbohong; bilang mau pergi kuliah. Padahal sebenarnya hari itu memang tidak ada jadwal kuliah. Dan saya sempat takut kebohongan itu akan berbuah petaka. Tapi untungnya malah berbuah bahagia.

Jujur, niatan saya memang untuk pergi nonton (catatan: nonton sendiri dengan duit sendiri—tetep pemberian orang tua). Karena seperti ada kesan kalau saya ini ‘cowok bayaran’ yang artinya pelit, ga mau rugi, ga mau keluar duit kalau jalan. Ya, untuk kasus-kasus tertentu hal itu memang berlaku. Tapi jangan selalu samakan saya dalam berbagai kesempatan, pliiiss!!! Saya juga manusia yang punya kemaluan besar. Jadi, niat saya kali ini memang pergi nonton sendiri dengan uang sendiri.

Memang dasar rezeki, tidak disangka dan tidak diduga, kasir loket bioskopnya itu adalah teman dekat sepupu saya. Singkat kata singkat cerita, saya mendapatkan free pass nonton Coklat Stroberi.

“Nanti kamu masuk Studio 5, jam 2.55, tempat duduknya C5!”

Semuanya berakhiran angka 5! Gerangan ada apa dengan angka 5? Perasaan, ramalan bintang saya minggu kemarin tidak menyebutkan angka 5 sebagai angka keberuntungan. (plis deh, hare gene maseh percaya ramalan bintang?!)

KEREN! Cuma satu kata itu yang bisa mewakili film Coklat Stroberi. Sumpah! Ga rugi nonton tuh film, ga rugi ngeluarin duit… eh, maksudnya kalau misalnya tadi bayar Rp. 15.000 juga ga bakalan rugi.

Ceritanya dimulai saat Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy) kelabakan membayar uang kontrakan. Pemilik kontrakan yang diperankan Tike Priatnakusuma itu akhirnya mengambil sikap, bahwa untuk meringankan beban biaya kontrakan mereka, perlu dimasukkan dua orang penghuni baru di rumah itu. Dan ternyata dua penghuni baru itu adalah Nesta (Nino Fernandez) dan Aldy (Mario Merdithian) yang menyimpan rahasia tersendiri. Konflik dibangun saat Key dan Nesta saling jatuh cinta dan Aldy yang cenderung posesif menyimpan kecemburuan mendalam akan kedekatan Key dan Nesta. Sementara Citra yang mati-matian mencari perhatian Aldy malah diabaikannya.

Lalu, Coklat Stroberi? Coklat itu mewakili sikap cowok yang maskulin dan umumnya macho. Sedangkan stroberi adalah tipikal cowok yang berhati pinky, lemah gemulai, dan cenderung feminin. Hingga muncullah pertanyaan: Lu Coklat? Stroberi? Atau Coklat Stroberi?

Film ini memberikan kita sedikit pelajaran tentang hidup. Maknanya lumayan dalem juga. Dan menariknya, gaya penyampaiannya cenderung lugas dan ringan sekaligus dibumbui candaan segar yang menghibur. Mesti nonton deh, baru ngeh. Lumayan, buat perbendaharaan pembelajaran tentang hidup. Jangan dilihat dari segi homoseksualnya. Tapi justru dari sisi-sisi kemanusiaannya. Ada hal-hal yang memang tidak tersentuh dengan kata-kata semata melainkan kepekaan rasa.

Tapi semenarik dan sekeren apa pun film ini, tetap Ada Apa dengan Cinta? juaranya. Dian Sastro emang The Best. Melly Goeslaw paling yahut!

Nyambung ke Coklat Stroberi. Tadi waktu di angkot, ada seorang anak yang cukup menarik perhatian kita, para penumpang. Saya yakin, dalam benak masing-masing tumbuh sebuah tanya: anak ini laki-laki atau perempuan? Wajahnya imut, manis, dengan tekstur dan raut halus serta berwarna terang. Tubuhnya juga tidak kalah imut. Rambutnya hanya sedikit mengintip dari topi sweaternya yang lumayan besar hingga menutupi sedikit bagian bawah tubuhnya yang membuat sebagian orang bertanya-tanya, anak ini mengenakan rok atau celana? Saya sempat melihat waktu anak itu masuk dengan teman lelakinya yang nampaknya satu SMP dengannya, anak itu memakai celana biru, seragam sekolahnya. Tapi tetap tanya itu ada. Anak itu memang seperti anak perempuan. Dari cara bicaranya yang lembut, caranya memainkan ekspresi muka hingga cara duduknya yang merapat dan menyamping memberi tanda kalau dia seorang wanita.

Wallahu’alam… siapa dia. Yang jelas dia hanya seorang manusia dengan segala kurang dan lebihnya. Coklatkah, stroberikah atau coklat stroberikah dia, tentunya bukan urusan kita, apa lagi saya.

Tapi, dia itu sebenarnya laki-laki atau perempuan???* * *   

(Selasa, 19 Juni 2007 22:02:12)