Arsip Kategori: saya bersamanya

Sebuah kerinduan yang kuat memang bisa mengalahkan apa saja. Katakanlah saya hanya seorang anak rumahan yang cukup asing dan ngeri dengan dunia luar, dan semua orang terdekat saya mengetahuinya. Maka, saya harus bisa meyakinkan hati mereka bahwa perjalanan Bandung - Jakarta bukanlah perjalanan lintas negara atau bahkan lintas rimba yang berbahaya, terlebih, saya bukan lagi bayi lelaki yang selalu nyaman mendekap diri di balik selimut merah.

Dan, kerinduan itu akhirnya membawa saya pada sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa saya pikirkan sebelumnya. Dalam sebuah agenda, PERKOSAKATA2008.

Saya tiba di lantai tujuh Gedung Nyi Ageng Serang bersama seorang perempuan berkaos putih. Kami saling berpandangan saat sedang berjalan menuju tempat yang sama. Saya yakin, dia sedang berpikiran sama dengan saya: are you Kemudianers? Dia pun memperkenalkan diri sebagai Brown-yang setahu saya, dia adalah member senior di kemudian.com. Lalu kami mengisi daftar hadir, dan beberapa orang yang menerima kami di sana nampak menguatkan otot mata saat melihat saya. Baca Lebih Lanjut »

 up_to_something_by_ginnyhaha.jpg
Kami menyebutnya Jujur-Berani; permainan yang cukup menantang mental dan nyali. Tidak membutuhkan peralatan apa-apa, kecuali hanya para pemainnya itu sendiri-dan kejujuran juga keberaniannya. Terakhir kali, waktu kelas 3 SMA saya melakukannya.
Peraturannya sedikit diubah; biasanya ada dua pilihan: jujur (menjawab pertanyaan) atau berani (melakukan tantangan), tetapi kali ini lebih ke JUJUR dan BERANI JUJUR.

Sore itu, sambil menunggu seorang dosen yang menjanjikan sebuah pertemuan di luar jam kuliah, seorang teman secara spontan mengusulkannya, “Kita Jujur-Berani, yuk!”

Kami berdelapan pun tak berpikir untuk menolak. Saya sendiri hanya ingin bernostalgia saja. Sedikit bersenang-senang mengisi waktu menunggu yang membosankan.

O iya, ternyata, permainan ini memerlukan sebuah BOTOL. Bisa saja, sih, tanpa botol. Hanya saja, atas inisiatif saya-yang selalu terinjeksi paham-paham dalam film yang saya tonton, biar kesan Truth or Dare-nya berasa, ya harus memakai botol.

Diputarlah… dan kepala botol untuk pertama kalinya menunjuk kepada seorang lelaki-yang bertubuh lebih besar dari kami (lelaki) berempat;
Baca Lebih Lanjut »

Entah kenapa, saya tidak terlalu antusias untuk melakukan ritual buka bersama di luar rumah, selain dengan keluarga. Apa istimewanya? Jika memang demi mempererat jalinan silaturahim, terutama dengan teman-sahabat yang jarang berjumpa, saya masih bisa sedikit toleran, segalanya bisa dikondisikan. Tapi terus terang, saya sangat malas untuk melakukan buka bersama dengan teman-sahabat yang hampir setiap hari berjumpa.

Sebenarnya, apa yang kita cari dari ritual buka bersama? Baca Lebih Lanjut »

Hari itu dia sedikit curiga; melihat perempuan itu membawa sebingkis hadiah bersampul menyala. Tapi rasa curiganya tidak terlalu membabibuta. Sebenarnya dia tahu apa dan untuk siapa benda ‘istimewa’ itu. Hanya, dia masih agak bingung, dari siapa dan untuk apa hadiah itu ada, meskipun dia tahu ada seorang lelaki berulang tahun beberapa hari sebelumnya.

Dia selalu ingin tahu tentang segala hal, terlebih urusan orang lain. Dia selalu mencuri dengar dan pura-pura tidak mencuri lihat, padahal matanya aktif merekam.

Ternyata kado itu dari si perempuan untuk si lelaki yang berulangtahun itu.

Kenapa perempuan itu tiba-tiba memberi kado pada si lelaki? Sementara mereka berteman, dan siperempuan tidak pernah sehangat dan seistimewa itu memperlakukan temannya. Kecuali… Baca Lebih Lanjut »

Apa yang saya pikirkan? Perasaan saya tak karuan; merentang radius dengan sebagian orang yang tak sedap dipandang membuat saya semakin terjerat bimbang.

Maka saya menghindar, saya sedang belajar melupakan.

Sedikit memanfaatkan ‘kekisruhan’ seseorang, saya menurutinya untuk menunda jam kuliah, karena kebetulan juga dibuat pembagian jadwal. Saya dan beberapa teman memilih sesi kedua. Menunggu di bawah: mengeksploitasi fasilitas internet yang biarpun lelet, lumayan untuk saya yang kepepet.

Curiga! Di bawah, hanya tinggal delapan pasang mata yang menunggu sesi kedua jam kuliah Multimedia. Tapi perasaan ingin ‘terpisah’ itu membuat saya kehilangan resah dikejar rasa bersalah karena merasa sedang membolos kuliah. Lebih-lebih karena saya sudah terbius dengan Friendster, Kemudian dan DeviantArt yang akhir-akhir ini menjadi lahapan pokok saya setiap online Baca Lebih Lanjut »

copy-of-eurotriphahaha2-copy.jpgPulang. Sebenarnya saya ingin pulang ketika yang lainnya pulang. Sejujurnya saya ingin pulang sebelum hujan datang. Dan ketika beberapa teman ‘menghadang’ di pintu keluar, saya sudah ingin pulang. 

 Tukang gorengan di pinggir jalan mengundang kami datang. Seperti biasa, saya tidak tertarik untuk menjadi pelanggan. Seperti biasa, saya sangat bernafsu meminta pada teman. Melupakan rasa tidak nyaman; yang gratisan memang lebih nikmat kan? 

Menunggu teman di persimpangan jalan tidak lagi menjadi hal yang tidak menyenangkan. Cukup terbayar dengan dua potong gorengan yang ternyata harganya mahal. Ya, lima ratus rupiah untuk sebuah gorengan liliput dengan rasa standar yang sebelum tiba di perut sudah habis mengisi sela-sela gigi dan mulut. Ide siapa ini: terus berjalan tanpa memperdulikan angkot yang memanggil, berjalan sambil berbincang, berbincang sambil berjalan.

Dua perempuan, dua laki-laki dan seorang yang masih ragu mengklasifikasikan dirinya sebagai apa itu terus berjalan sambil berbincang dan berbincang sambil berjalan.  Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan. Terutama soal makanan. Dari mulai gorengan yang menjamur di pinggiran jalan, mie bakso, batagor, kerak telor, sampai ke masalah sumur alias susu murni.

Ngomong-ngomong soal susu murni, saya jadi berpikir lain saat melihat sebuah tenda di pinggiran jalan sekitar BSM yang kurang lebih (persisnya entah apa namanya, saya lupa lagi) bertuliskan: Warung Rasa Susu Murni. Saya membayangkan ketika masuk ke tenda itu, si penjualnya yang ternyata ibu-ibu itu langsung memperlihatkan dua susunya yang berlainan rasa: kanan-coklat, kiri-stroberi. Oups… 

Kita ini manusia apa sebenarnya. Tidak perdulikah dengan sebuah fenomena alam yang luar biasa? Andai saja saya bisa mengabadikan momen itu dengan baik. Perubahan warna langit yang semula biru muda terang menjadi biru gelap hingga menghitam. Ah, sesuatu yang sangat indah namun sayang sering terabaikan. Tahu-tahu hari sudah malam. 

Kaki ini sebenarnya sudah lelah melangkah. Angin sudah mulai tak bersahabat dengan saya. Maka jaket hitam yang sebelumnya saya ikat di leher kini saya kenakan. Seberapa jauh lagi kita akan melangkah? Tapi tidak bisa dipungkiri malam ini memang indah. Bukan, bukan berarti saya lewatkan dengan seseorang yang indah menurut mata dan hati saya. Bukan sama sekali. Bahkan sudah lama saya tidak berpikir lagi soal itu. Sudahlah, jangan ingatkan saya padanya. Saya sedang ingin menikmati saat-saat luar biasa ini dengan mereka, teman-teman tercinta. 

Konyol. Benar-benar konyol. Jurus jitu melupakan sedikit kegalauan tentang usia kepala dua yang bagi saya cukup ‘mengganggu’. Ada baiknya memang kita merasa kanak-kanak selamanya. Cekikikan sambil menjorok-jorokan kepala seseorang, berlari berkejaran di trotoar, menelepon teman lewat telepon umum yang tidak penting, hingga saling mengerjai dengan berjalan di belakang salah satu dari kita lalu bersembunyi di balik benteng sambil tertawa puas melihat dia kebingungan mencari kita. Hmmm… sungguh momen yang LUAR BIASA!!! 

Sekali lagi, kita ini manusia macam apa sebenarnya. Tidak bisakah menghitung jejak langkah yang telah kita ambil? Untung ada penunjuk waktu yang memberi tahu. Tadi kita pergi sekitar setengah enam kurang, dan kini tiba di depan angkot yang benar-benar akan kita tumpangi ini sudah jam enam lebih lima belasan.* * *