Pulang. Sebenarnya saya ingin pulang ketika yang lainnya pulang. Sejujurnya saya ingin pulang sebelum hujan datang. Dan ketika beberapa teman ‘menghadang’ di pintu keluar, saya sudah ingin pulang.
Tukang gorengan di pinggir jalan mengundang kami datang. Seperti biasa, saya tidak tertarik untuk menjadi pelanggan. Seperti biasa, saya sangat bernafsu meminta pada teman. Melupakan rasa tidak nyaman; yang gratisan memang lebih nikmat kan?
Menunggu teman di persimpangan jalan tidak lagi menjadi hal yang tidak menyenangkan. Cukup terbayar dengan dua potong gorengan yang ternyata harganya mahal. Ya, lima ratus rupiah untuk sebuah gorengan liliput dengan rasa standar yang sebelum tiba di perut sudah habis mengisi sela-sela gigi dan mulut. Ide siapa ini: terus berjalan tanpa memperdulikan angkot yang memanggil, berjalan sambil berbincang, berbincang sambil berjalan.
Dua perempuan, dua laki-laki dan seorang yang masih ragu mengklasifikasikan dirinya sebagai apa itu terus berjalan sambil berbincang dan berbincang sambil berjalan. Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan. Terutama soal makanan. Dari mulai gorengan yang menjamur di pinggiran jalan, mie bakso, batagor, kerak telor, sampai ke masalah sumur alias susu murni.
Ngomong-ngomong soal susu murni, saya jadi berpikir lain saat melihat sebuah tenda di pinggiran jalan sekitar BSM yang kurang lebih (persisnya entah apa namanya, saya lupa lagi) bertuliskan: Warung Rasa Susu Murni. Saya membayangkan ketika masuk ke tenda itu, si penjualnya yang ternyata ibu-ibu itu langsung memperlihatkan dua susunya yang berlainan rasa: kanan-coklat, kiri-stroberi. Oups…
Kita ini manusia apa sebenarnya. Tidak perdulikah dengan sebuah fenomena alam yang luar biasa? Andai saja saya bisa mengabadikan momen itu dengan baik. Perubahan warna langit yang semula biru muda terang menjadi biru gelap hingga menghitam. Ah, sesuatu yang sangat indah namun sayang sering terabaikan. Tahu-tahu hari sudah malam.
Kaki ini sebenarnya sudah lelah melangkah. Angin sudah mulai tak bersahabat dengan saya. Maka jaket hitam yang sebelumnya saya ikat di leher kini saya kenakan. Seberapa jauh lagi kita akan melangkah? Tapi tidak bisa dipungkiri malam ini memang indah. Bukan, bukan berarti saya lewatkan dengan seseorang yang indah menurut mata dan hati saya. Bukan sama sekali. Bahkan sudah lama saya tidak berpikir lagi soal itu. Sudahlah, jangan ingatkan saya padanya. Saya sedang ingin menikmati saat-saat luar biasa ini dengan mereka, teman-teman tercinta.
Konyol. Benar-benar konyol. Jurus jitu melupakan sedikit kegalauan tentang usia kepala dua yang bagi saya cukup ‘mengganggu’. Ada baiknya memang kita merasa kanak-kanak selamanya. Cekikikan sambil menjorok-jorokan kepala seseorang, berlari berkejaran di trotoar, menelepon teman lewat telepon umum yang tidak penting, hingga saling mengerjai dengan berjalan di belakang salah satu dari kita lalu bersembunyi di balik benteng sambil tertawa puas melihat dia kebingungan mencari kita. Hmmm… sungguh momen yang LUAR BIASA!!!
Sekali lagi, kita ini manusia macam apa sebenarnya. Tidak bisakah menghitung jejak langkah yang telah kita ambil? Untung ada penunjuk waktu yang memberi tahu. Tadi kita pergi sekitar setengah enam kurang, dan kini tiba di depan angkot yang benar-benar akan kita tumpangi ini sudah jam enam lebih lima belasan.* * *