Niwa pikir, setelah pindah sekolah, keadaannya akan berbeda. Ternyata, justru jauh lebih parah. Pengawasan Joe semakin ketat. Belum lagi, ini, kotak berwarna merah yang dicurigai berisi makan siang. Seperti anak TK saja, gerutunya.
Sepanjang perjalanan dari gerbang, Niwa merasa tubuhnya dihujam ratusan pasang mata, dan telinganya memerah akibat suara-suara yang mengiringi setiap jejak langkahnya. Dan satu hal yang pasti: Niwa tahu, mata Joe tidak akan melepaskannya.
Dari dalam Mercy, Joe dengan alat semacam teropong kecilnya tersenyum saat Niwa mengacungkan jari tengah padanya dari jarak puluhan meter. “Anak nakal,” umpatnya. Joe sadar bahwa gadis itu sudah cukup dewasa untuk memahami hal-hal yang dulu tak dipahaminya. Itu berarti Niwa hanya perlu sedikit kebebasan untuk bergerak, dan kepercayaan atas kemampuannya menjaga diri. Ya, Joe mengerti gadis itu butuh privasi. Ia benar: ini hanya sekolahan, bukan hutan. Ah, ini saatnya ia sedikit bersantai dengan menyalakan sound system, mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama sambil menyesap rokoknya dalam-dalam. Tetapi ia terpaksa me-mute-kan kabin ketika harus mengangkat telpon, “Ya, ada apa Tuan?” Baca Lebih Lanjut »


