Arsip Kategori: 1323192

Jika ia tak membalas SMS-mu, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: tidak ada pulsa, dan egosentrisnya sedang meruncing. Jia ia tak mengizinkanmu ke rumahnya pada hari bukan kuliah, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: ia tidak berada di rumah, dan egosentrisnya sedang meruncing. Dan jika ia terpaksa berdusta tentang sesuatu kepadamu, sejak dulu hanya ada satu masalah besar padanya: egosentrisnya sedang meruncing.

Ya, ia begitu egois.

Bahkan ia tahu karena egosentrisnya itu, beberapa orang terdekatnya merasa tersakiti. Tetapi ia bersikap tak perduli. Karena ia egois.

Jauh di dasar hatinya, ia sadar bahwa egois bukan sifat yang mencerminkan kepribadian positif seseorang. Bahwa egois adalah selalu memposisikan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Bahwa dengan menjadi seseorang yang egois berarti telah membangun penjara untuk diri sendiri dan mengucilkan diri dari orang lain. Bahwa pada akhirnya, si egois tidak akan memiliki teman, sahabat, bahkan kekasih.

Baca Lebih Lanjut »

Jauh di lubuk hatinya, rasa itu masih sedemikian nyata melapisi setiap dinding polosnya. Hanya seruang hampa yang tak lagi membekaskan telapak kaki seseorang pada alasnya, dan pintunya yang tak terkunci menjadi lebih rapat dari yang seharusnya. Ia kerap memilih tempat lain bernama pengingkaran.

Malam itu, seseorang mengiriminya sebuah pesan, “Hi, apa kabar? Gimana skripsinya?”

Sesaat ia terdiam, lebih terhenyak dalam rangkaian abjad yang membentuk nama si pengirim pesan daripada pesannya itu sendiri. Dari riak di matanya, tersirat bahwa nama itu lebih dari sekadar “sesuatu”.

“Baik. Baru ngajuin proposal, mudah-mudahan diterima …” ia berhenti mengetik, sementara hatinya terus mendesak untuk mengirim pertanyaan balasan, semisal ‘kamu sendiri, apa kabar? Udah mulai nyusun skripsi?’.

Tetapi jempolnya terlalu cepat menjangkau tombol kirim dan ia tak lantas menyesalinya.

Kau tak merindukannya? Sedemikian habiskah perasaan itu hingga tak berbekas setitik debu pun?

Oh, ya, sudah lama ia tuli pada suara-suara tak berbentuk. Baginya, tak ada artinya lagi berjalan dalam komando suara hati yang sunyi. Ia sedang mengejar gelar si Keras Hati, dan sejauh ini dirinya masih terlalu payah dan menyedihkan.

Tiada lagi balasan, dan tak lama kemudian ia tertidur dengan tenang setelah menon-aktifkan ponselnya.

***

Baca Lebih Lanjut »