Bincang Seru bareng Kak Lexie Xu


Pukul dua belas lewat tiga menit. Saya duduk di kursi sudut sebuah kafe yang terletak bersisian dengan sebuah taman pemakaman. Tepat di samping saya terpasang jendela besar di dinding yang memberi pemandangan langsung ke pemakaman. Dan sejak saya tiba beberapa menit yang lalu, terdengar suara gagak berkoak-koak entah di mana, di antara sayup suara musik yang mengalun lembut nan mistis di dalam kafe.

Seorang pelayan datang menghampiri untuk yang kedua kali, hendak menanyakan apa yang saya pesan. Saya bilang, nanti saja, saya sedang menunggu seseorang. Dan ia pun kembali ke asalnya.

Sudah hampir lima belas menit berlalu sejak saya tiba, dan seseorang yang saya tunggu belum juga menampakkan keberadaannya. Saya mulai resah. Beberapa kali melirik jam tangan dan jam dinding. Mengecek ponsel. Memperhatikan keadaan sekitar.

Suasana kafe sepi. Hanya ada saya dan beberapa orang saja. Penglihatan saya terusik seseorang yang sejak tadi terlihat di ujung tempat duduk sana. Seseorang yang hanya tampak bagian belakang tubuhnya. Seseorang yang mengenakan jaket hitam, yang di bagian punggungnya tampak sebuah inisial huruf L dengan jenis huruf dekorasi artistik.


[image source]

L? Lexie?

Saya tercekat. Seseorang yang hendak saya temui ini memang cukup misterius. Jika saya dilahirkan dengan indera keenam dan seumur hidup belum pernah menyadarinya, maka saat ini rasanya saya mulai menyadarinya sebagai pengantar firasat yang sangat kuat bahwa sosok di ujung sana adalah Lexie Xu yang selama ini saya tunggu. Lexie Xu yang beberapa hari yang lalu membalas email saya untuk sesi perbincangan, dan mengusulkan sebuah kafe di samping taman pemakaman sebagai tempat pertemuan.

Ya, saya yakin, dialah orangnya.

“Um… permisi, apakah…?” belum sempat saya menuntaskan kalimat, sosok itu mengangkat tangan kanannya, menciptakan bahasa non-verbal untuk mempersilakan saya duduk di seberang kursinya. Dan seperti benar-benar memahami apa maksudnya, saya pun duduk.

“Aku ngasih kamu waktu dua puluh menit buat bener-bener menyadari keberadaanku. Dan syukurlah, kamu berhasil menyadarinya sebelum batas waktu itu.”

Saya menghela napas. Lega. Ternyata, dia memang seseorang yang saya duga. Pelayan datang, kembali menanyakan pesanan. Kami berdua memesan minuman.

Usai melakukan prosedur standar awal pertemuan, saya pun memulai pembicaraan. “Denger-denger, novel keempat Kakak”—ya, sesuai persetujuan, saya memanggilnya Kakak—“yang berjudul Teror bakal terbit dalam waktu dekat ini, ya?”

“Betul. Tepatnya di bulan Mei. Dan menunggu kelahiran novel baru itu rasanya bener-bener penuh ketegangan. Tapi menyenangkan.”

“Saya sendiri sih belum baca ketiga novel Kakak sebelumnya: Obsesi, Pengurus Mos Harus Mati, dan Permainan Maut. Tapi, dari review dan respon pembaca yg saya baca di beberapa situs, saya yakin novel-novel Kak lexie memang oke punya, dan pantas mendapat respon sebagus itu. Dan, oh, ya, saya juga suka nongkrong di blog Kakak, http://www.lexiexu.com. Seru banget! Kocak-kocak sadis tragis.”


[image source]

“Waah… thanks udah suka nongkrong di blog-ku! I really appreciate it! Yah, aku juga berharap semoga novel-novelku nggak mengecewakan para pembaca. Terutama Teror sebagai buku terakhir dari serial Johan Series ini.”

“Omong-omong, sebelum ngebahas Teror, gimana kalau kita sedikit flashback ke awal mula Kak lexie suka nulis?”

“Oke.”

“Kakak pertama kali jatuh cinta pada dunia tulis menulis sejak kapan? Dan kalau boleh tau, ada alasan kenapa suka nulis?” pertanyaan standar sih, tapi saya selalu menyukai jawaban apa pun dari pertanyaan ini.

“Aku pertama kali suka membuat cerita, sejak aku belum bisa menulis. Jadi, senengnya menggambar sambil cerita. Setelah udah lebih gede dan menguasai kalimat, aku baru mulai menulis. Dan kelas 4 SD—atau kelas 5, ya?—pertama kalinya aku menyelesaikan sebuah naskah novel yang kemudian kusebar-sebar di antara temen-teman untuk dibaca. Kalau alasan menulis… it’s because I love it and I can’t live without doing it.”

“Wow! Kayaknya, darah menulis itu emang udah ada dari sejak lahir ya, Kak? Seperti, bakat. Oh ya, memang, banyak yg bilang, dalam menentukan kesuksesan menulis itu, 1% bakat dan 99% usaha.”

“Hm… ya,” Kak Lexie menyesap minumannya, sebelum melanjutkan, “dalam kasusku, 99% itu yang paling ngaruh. Kalo enggak, nggak mungkin lah aku mulai menerbitkan buku di usia 30+ begini. Karena menurutku, sebelum ini hasil karyaku nggak layak baca. Aku baru benar-benar menemukan gaya menulis yang sesuai dengan diriku setelah berusia 30+.”

Saya mengangguk setuju. “O iya, Kak, tadi sempet bilang waktu kelas 4 atau 5 SD, Kakak pernah rampungin satu naskah novel. Kalau boleh tau, novel apakah itu?”

“Soal novel waktu kelas 4 SD, yah… biasalah, cerita petualangan anak-anak ala Enid Blyton. Tapi kebetulan yang berhasil kuselesaikan, ada unsur horornya juga.”

“Berarti, Kakak dari kecil suka bacaan-bacaan tentang petualangan? Buku apa aja yg Kakak baca?”

“Aku baca semuanya. Mulai dari artikel di Tempo (terutama Indonesiana), novel-novel Lima Sekawan, Trio Detektif, STOP, sampe komik-komik seperti Smurf, Tintin, Asterix & Obelix.”

“Terus, mulai nulis serius sejak kapan?”

“Mungkin aku mulai serius menulis sejak tahun 2003-an, sejak aku menemukan Muse-ku. Sejak saat itu aku jadi nggak bisa berhenti menulis, dan impianku adalah menjadi penulis yang karyanya diterbitkan. Tapi, rupanya pertama kali aku nerbitin adalah 6 tahun setelahnya.”

“Kalau mulai menemukan style menulis yg Kakak banget sejak kapan? Ada cerita di balik perjalanannya?”

“Itu sejak 2003 juga. Aku punya “naskah pertama”, naskah yang pertama kali kutulis untuk Muse-ku. Naskah itu sampe sekarang udah mengalami perubahan 20 kali lebih karena aku nggak pernah puas, dan sampe sekarang belum puas-puas. Bisa dibilang, naskah itulah yang membuatku menemukan gaya tulisanku. Ini arti dari 99% kerja keras itu.”

Muse-mu itu kalau bisa dijelasin seperti apa? Dan, omong-omong, aku kurang ngerti Muse itu apa? Hahaha. Tapi kedengarannya keren!”

“Muse itu Dewa/Dewi Menulis. Mereka yang memberi inspirasi yang nggak ada habis-habisnya. Kebanyakan Muse adalah cewek, tapi kebetulan punyaku cowok. Empat lagi. Hahaha…. Hmm…, terus terang aku juga nggak begitu mengerti, apa Muse-ku sama cara kerjanya dengan Muse penulis-penulis lain juga. Setiap kali aku bingung, atau seperti kata orang, kena writer’s block, aku hanya perlu mencari Muse-ku, menghabiskan waktu dengan mereka. Mereka akan membukakan jalan, bagaimana sebenernya karakter tokoh-tokoh dalam ceritaku, apa yang akan mereka lakukan dalam situasi tertentu, dan bagaimana cara menempatkannya dalam gaya penulisanku.

Saya menenggak minuman sebab tiba-tiba tenggorokan saya terasa kering.

“Tambah bingung, ya? Tapi begitulah Muse. Sulit untuk dimengerti, hanya bisa dialami. Aku juga nggak tau ada Muse di dunia ini sampai aku mendapatkan mereka. Sejak saat itu, meski ada saatnya tersendat-sendat, naskahku selalu selesai. Tidak pernah terbengkalai.”

“Wah, keren! Saya mulai sedikit ngerti, and I think I have to find my Muse, too!

“Harus!” Kak Lexie tersenyum dan berusaha menularkan semangatnya kepada saya.

“Nah, awal mula menulis Obsesi, kayak gimana? Apa ide dasarnya? Dapet wangsit dari mana?Berapa lama pengerjaannya? Ada kendala? Atau lancar-lancar saja? Riset?” saking menggebu-gebunya, saya tak bisa menahan diri dan menyembunyikan antusiasme saya.

“Obsesi sama sekali nggak pake riset. Langsung ditulis aja. Waktu itu hidupku lagi sepi-sepinya. Sehari aku cuma berdua sama Alexis, anakku. Bayangin, dalam kondisi kayak gitu, dia ngajakin aku main game horor yang amat sangat menakutkan. Daripada takut sendirian, mending kutuangkan dalam tulisan. Berbagi ketakutan dengan orang lain, hahaha…. Lama pengerjaannya kurang dari sebulan, jadi. Dan, yep…, lancar2 saja.”

“Wow! Keren sekali, Kak! Lalu, setelah naskah Obsesi jadi, langsung dikirim ke penerbit, atau–seperti kebanyakan prosedur penulis–diendapkan selama beberapa waktu, lalu dibaca dan diedit ulang lalu kirim ke penerbit? Atau… Kakak punya cara sendiri?”

“Langsung dikirim. Takut kalo dibaca lagi, nanti malah merasa jelek dan nggak pede.”

“Oh, I see. Terus, setelah dikirim ke penerbit, nunggu berapa lama sampe akhirnya naskah itu dinyatakan diterima? Dan nunggu berapa lama sampe naskah itu dinyatakan bakal terbit pasti kapan waktunya?”

“Kebetulan, Obsesi merupakan naskahku yang paling cepat pemberitahuannya. Kurang-lebih 3 bulan. Aku lupa kapan diminta soft-copy-nya, yang jelas terbit 10 bulan kemudian, yaitu Oktober 2010.”

“Wow 3 bulan? Di penerbit sekaliber GPU? Kereeen! Hmm… Ada tips n trik biar naskah kita cepet dilirik penerbit?”

“Trik-trik sih nggak ada ya, sejauh ini aku lempeng aja. Malah kalo ada trik, aku kepingin belajar juga. Hahaha…. Cuma, satu hal yang aku pelajari: editor memang sibuk, tapi naskah kita pasti akan diurus dengan baik. Jadi setelah ngirim, aku percayakan sisanya pada mereka. Yah ada deh 1-2x aku tanyakan, tapi nggak terlalu sering supaya mereka nggak merasa terdesak. Kan bukan cuma aku yang gak sabar nungguin kabar dari mereka.”

“Lalu, soal Pengurus MOS Harus Mati dan Permainan Maut, itu memang sengaja direncanakan menjadi sekuel berikutnya, atau ide itu muncul begitu aja sambil nunggu keputusan naskah?”

“Pengurus MOS Harus Mati atau PMHM memang nongol begitu saja, tapi ide untuk menulis Permainan Maut muncul saat penulisan PMHM.”

“Berarti, ide menulis Teror pun muncul ketika Kakak menulis Permainan Maut?”

“Betul! Dan Teror merupakan sekuel terakhir dari Johan The Series ini. Aku udah kepengin nulis naskah baru lagi.”

“Patut ditunggu! Lalu, soal genre, Kakak menyebut tulisan Kakak ini sebagai genre apa? Dan kenapa suka atau memilih genre ini?”

“Aku lebih suka menyebut genreku misteri dan thriller. Kenapa ya, aku memilih genre ini? Ya karena nggak membosankan, karena aku suka misteri, karena pengaruh Sir Arthur Conan Doyle, dan tentunya karena dipaksa Alexis main game horor. Hahaha…”

“Selama mengerjakan novel-novel itu, ada pengalaman seru, nggak? Atau, ada kendala terberat apa?”

“Kalo pengalaman seru sih mungkin waktu ngerjain Obsesi, karena waktu itu aku bener-bener ketakutan banget. Tapi untungnya ini nggak setara dengan ketakutanku waktu nonton The Ring, karena waktu nonton The Ring belum ada Alexis; waktu nulis Obsesi, dia selalu nemenin aku. Dia memang my little hero.” Kak Lexie tampaknya memang sangat menyayangi Alexis. Wajahnya terlihat berbinar-binar setiap menyebut namanya. “Kalau kendala terberat… sepertinya nggak ada istilah “terberat” ya. Ada kendala yang sulit dan ada juga yang gak terlalu sulit, tetapi semua bisa diatasi.”

Ah, ya, optimis sekali. Itulah salah satu hal yang saya sukai dari Kak Lexie, selain kemisteriusannya. “Adakah kiranya sekilas pesan atau motivasi bagi penulis yg sedang berjibaku dg karyanya?”

“Pesanku cuma satu: rajin membaca untuk belajar dari penulis lain dan rajin menulis untuk mematangkan kemampuanmu, maka kamu pasti akan berhasil. Good luck!”

“Wow, that’s so cool! Baiklah, makasih banyak, Kak, atas kesedian Kakak meluangkan waktu untuk perbincangan ini. Selamat atas kabar kepastian terbit Teror-nya. Semoga laris manis, dan bisa memuaskan pembaca. Amiiin….”

“Sama-sama. Ini juga sebuah kehormatan bagiku. Makasih ya buat doanya.”

Perbincangan berakhir. Jam makan siang saya sudah hampir habis. Saatnya saya kembali ke kantor yang penuh drama. Saatnya Kak Lexie kembali ke dunianya yang penuh misteri. Kami berpisah di depan kafe, dan sempat merencanakan pertemuan berikutnya. Pertemuan yang tidak hanya kami hadiri berdua, melainkan bersama Muse-Muse kami. Ya, saya juga harus menemukan Muse itu.

Terima kasih, Kak Lexie. Saya harap kita bisa bertemu kembali.

 

 

================================================================

Lexie Xu dapat ditemui di sini:

http://www.gramediapustakautama.com/penulis-detail/37490/Lexie-Xu

Blog: http://www.lexiexu.com

Twitter: @lexiexu

6 gagasan untuk “Bincang Seru bareng Kak Lexie Xu

  1. What a great-fun-creepy interview. Awalnya aku kira interview-nya tengah malem, taunya tengah hari. :D

    Lexie emang the queen of teen horror…!!!

    Great job Dadun. *hugs*

  2. kak ceritannya serem banget , sampe2 kalo lagi ngaca suka ke inget pas di novel obsesi lagi nyobain baju terus ada yang kayak ngeliatin.aku takut itu terjadi sama aku-_-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s