“Kupikir, satu-satunya foto perempuan di dompetmu cuma aku,” sejak awal aku sudah curiga.
Di luar dugaanku, ia hanya tersenyum.
“Jadi, benar…?” lima detik, dan kuanggap ia mengakuinya. Aku nyaris pergi saat Cappuccino kami tiba.
“Cuma foto, dan harimu dibuat berantakan?” ia menahanku.
“Sayangnya kau bukan tipe Anak yang Menyimpan Foto Ibunya.”
“Temanku menyimpan foto ibunya, selingkuhannya dan idolanya. Ah, perempuan ribet dalam segala urusan.”
“Foto di dompetmu menentukan siapa yang kausayang!” tandasku.
“Oh ya? Jadi, kau lebih sayang kepadaku atau lelaki bertato ini?” ia menyerahkan sesuatu. “Kemarin, terjatuh dari dompetmu.”
Kulihat ia menyesap Cappuccinonya dengan penuh ketenangan dan kemenangan.***