Perbincangan Semalam

 

 

Teruntuk Kamu,

 

 

Dari perbincangan semalam, rasanya aku perlu bertanya, kamu itu manusia atau siluman? Datang tiba-tiba, pergi begitu juga. Mungkin, seharusnya aku melakukan hal yang sama, supaya kamu juga berpikir hal yang sama tentangku. Tapi itu tak mungkin. Kamu terlalu realistis untuk kuajak berkelana di dunia abstrakis.

 

Semalam, kamu lebih banyak berbicara, berkata-kata. Entah salah makan atau memang itu adalah sisi lain kamu yang menyenangkan. Biasanya, cuma kata-kata semacam hoi, ya, hehe, atau hanya emotikon senyum, nyengir, dan melet saja yang kamu ketikkan di jendela pesan instan sebagai balasan.

 

Aku tak henti tersenyum waktu kamu menjelaskan kesibukanmu akhir-akhir ini. Terlalu detail untuk ukuran manusia irit kata-kata seperti kamu. Sampai kemudian, kamu bertanya tentang aku. Dan kamu bilang, tak banyak hal yang kamu ketahui tentang aku.

 

Ya, selama ini, kamu memang tak pernah peduli kepadaku.

 

Kamu tertawa usai membaca kalimat itu. Kamu bilang, kita hanya dua orang yang baru berkenalan, dan rasanya masih terlalu dini untuk memvonis salah satu dari kita dengan kalimat “kamu memang tak pernah peduli kepadaku” itu.

 

Aku tertegun. Kamu benar. Kita memang bukan siapa-siapa.

 

Bagaimana bisa aku merasa kalau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Aku tahu ini gila, dan bagimu tak masuk akal. Apa yang kamu katakan membuatku merasa semakin terpartisi jauh darimu. Kita tidak hanya dipisahkan dua jarak yang cukup jauh, melainkan dua dunia yang luput ditempuh. Kamu yang realistis, dan aku yang hiper melankolis.

Lanjut membaca