Cepat Pulang, Bu, Kami Rindu

 

 

Teruntuk Ibu,

 

 

Ini adalah hari keempat Ibu dirawat. Dan saya belum sempat melawat. Ah, ya, kita memang tidak begitu dekat. Namun begitu, saat hari Senin kemarin Bapak memberi kabar bahwa Ibu sakit parah dan harus dilarikan ke rumah sakit, ada sebagian di dalam hati saya yang serasa tercubit.

 

Selama tiga hari kemarin, Bapak selalu pulang dengan membawa kabar yang berbeda-beda. Bapak bilang, Ibu kena gejala DBD, kemudian ada masalah dengan jantung, lalu meranggas ke gangguan paru-paru hingga saluran kemih. Tapi yang pasti, Ibu harus dipindahkan ke ruang ICU.

 

Ya Tuhan… sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu?

 

Yang saya tahu, beberapa bulan belakangan ini, Ibu jarang keluar kamar. Saya faham. Mungkin beberapa wanita hamil akan mengalami fase kemalasan yang luar biasa. Sempat juga sesekali saya dengar kabar bahwa Ibu sakit. Tapi sepertinya sakit ringan, dan kalaupun harus ke dokter, itu lebih dikarenakan untuk mengecek kandungan.

Lanjut membaca

Perbincangan Semalam

 

 

Teruntuk Kamu,

 

 

Dari perbincangan semalam, rasanya aku perlu bertanya, kamu itu manusia atau siluman? Datang tiba-tiba, pergi begitu juga. Mungkin, seharusnya aku melakukan hal yang sama, supaya kamu juga berpikir hal yang sama tentangku. Tapi itu tak mungkin. Kamu terlalu realistis untuk kuajak berkelana di dunia abstrakis.

 

Semalam, kamu lebih banyak berbicara, berkata-kata. Entah salah makan atau memang itu adalah sisi lain kamu yang menyenangkan. Biasanya, cuma kata-kata semacam hoi, ya, hehe, atau hanya emotikon senyum, nyengir, dan melet saja yang kamu ketikkan di jendela pesan instan sebagai balasan.

 

Aku tak henti tersenyum waktu kamu menjelaskan kesibukanmu akhir-akhir ini. Terlalu detail untuk ukuran manusia irit kata-kata seperti kamu. Sampai kemudian, kamu bertanya tentang aku. Dan kamu bilang, tak banyak hal yang kamu ketahui tentang aku.

 

Ya, selama ini, kamu memang tak pernah peduli kepadaku.

 

Kamu tertawa usai membaca kalimat itu. Kamu bilang, kita hanya dua orang yang baru berkenalan, dan rasanya masih terlalu dini untuk memvonis salah satu dari kita dengan kalimat “kamu memang tak pernah peduli kepadaku” itu.

 

Aku tertegun. Kamu benar. Kita memang bukan siapa-siapa.

 

Bagaimana bisa aku merasa kalau kamu juga merasakan apa yang aku rasakan? Aku tahu ini gila, dan bagimu tak masuk akal. Apa yang kamu katakan membuatku merasa semakin terpartisi jauh darimu. Kita tidak hanya dipisahkan dua jarak yang cukup jauh, melainkan dua dunia yang luput ditempuh. Kamu yang realistis, dan aku yang hiper melankolis.

Lanjut membaca

Setelahmu


Dalam benak tersimpan kenangan

yang tak ‘kan kubilang pada semua

Dalam ingatku ada namamu

belahan hatiku waktu dulu…

 
Aku yakin kamu akan menyebut ini sebagai serendipity. Hanya karena aku merasa bosan dan ternyata salah menekan tombol yang seharusnya mengaktifkan pemutar CD dan bukannya radio, lagu lama itu pun tepat terdengar mulai dari intro. Lagu kesukaanmu. Lagu yang sering kamu putar dan nyanyikan berulang-ulang. Di kamarmu. Di kampus. Hingga di kamarku. Dulu.

Seharusnya di luar macet dan hujan, biar dramatisasi akibat ingatan tentangmu ini terasa lebih maksimal. Namun lalulintas lancar, dan cuaca hari ini terlalu manis untuk dibilang buruk. Matahari bersinar penuh toleransi dan kebijaksanaan. Langit pun seperti kain yang baru dibeli, dicuci, dan disetrika rapi, seperti yang sering kamu katakan untuk mengumpamakan langit cerah waktu itu.

“Hei, di luar cerah banget. Kita makan eskrim, yuk!”

Aku tak langsung menggubris usulmu, sebab tugas-tugasku masih menumpuk. Hari itu adalah dua hari sebelum ujian akhir semester terakhirku. Kode program salah satu tugas besarku masih kacau dan tombol enter di laptopku kerap menjadi korban pelampiasan emosiku akibat program buatanku belum bisa dieksekusi dan dioperasikan.

“Lagi sibuk banget, ya?”

Dan lagi-lagi responku teralihkan tugas-tugas sialan itu. Entah berapa lama aku tak mengacuhkanmu. Sampai kemudian kusadari sesuatu, kamu tertidur dalam posisi duduk, dengan kepala beralaskan ranselku di atas meja. Wajahmu menghadap ke arahku, menampakkan keluguan yang indah, kesederhanaan yang mewah.

Sore harinya, kita meninggalkan perpustakaan dengan langkah riang. Dan sebagai penebus rasa bersalahku, aku mentraktirmu makan eskrim sepuasnya. Sampai kamu kenyang. Sampai kamu senang. Untuk yang keberapa kalinya kamu menyadarkanku tentang sesuatu, senyummu adalah kebahagiaan terdekat dan terlengkap untukku.

Lanjut membaca

Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

Judul: Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

Penulis: Aan Bintang, Aditya Nugraha, Akbar Hendrawan, Anthony Chiaroscuro, Catz Link Tristan, Crescentia Phalita, Dadan Erlangga, Liz Levin, M. Ihsan Darhany, Muhamad Rivai, Rio Johan, Satria Anggaprana

Editor: Dadan Erlangga, Akbar Hendrawan & Aditya Nugraha

Desainer Sampul & Tata Letak : Dadan Erlangga

174 Halaman

Terbit Januari 2012

Diterbitkan melalui Nulisbuku: http://www.nulisbuku.com

Harga: Rp. 40.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Metode Pembelian:

1. Melalui web Nulisbuku.com –> Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan

2. Melalui saya di email: dadan.erlangga@yahoo.com

* * *

Endorsmen

Kumpulan bisikan ini mengundang pembaca buat masuk ke dalam “lemari” dan melongok ada rahasia apa saja di dalamnya. Semua dituturkan dalam berbagai bentuk kegelisahan. “Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan” adalah bacaan yang dengan jujur mengganggu dan merisaukan—sama sekali bukan untuk mereka yang hanya mencari rasa aman dan nyaman, melainkan buat yang siap berkelana ke dalam sebuah relung jiwa manusia yang jarang dikunjungi.

(Ve Handojo – Penulis)

Membaca setiap kisah pada buku ini membuatku seperti terlempar pada sebuah dunia berwarna samar namun terasa kuat. Bukan putih, hitam, apalagi pink. Jangan pernah mengabaikan warna itu, sebab warnanya telah membuat dunia kita demikian lengkap. Kisah-kisah ini sungguh menyentuh, mengharukan, menyentil, dan membuat merinding!

(Retni Sb – Novelis, perempuan pencinta warna) 

* * *

Kisah-Kisah yang Tak Boleh Dikisahkan berisi 14 kisah tentang kegelisahan, kesedihan, kerinduan, cita, cinta, dan liku kehidupan manusia, dengan sebuah benang merah, yaitu homoseksual. Kisah-kisah di dalamnya dikisahkan dari sudut pandang seorang anak, ayah, ibu, sahabat, kekasih, dan istri, dengan gaya bahasa ringan, indah, dan bermakna dalam. Ditulis oleh 12 penulis yang berasal dari komunitas dan non-komunitas, yang beberapa di antaranya sudah menerbitkan buku secara indie.

Lanjut membaca

Bulan Kedua Puluh Empat

11 Januari, dua tahun yang lalu.

Ia terbangun dengan kantuk yang masih menggunung. Ah, lebih tepatnya, ia dibangunkan seseorang. Ibunya. Sudah lewat dari pukul lima, dan ibunya yang masih mengenakan mukena, membangunkan ia untuk sholat subuh. Tak ada yang baru dari rutinitas hari itu. Kecuali, sebuah kenyataan bahwa ia resmi meninggalkan predikat pengangguran yang sudah disandangnya selama berbulan-bulan.

Tak ada yang lebih mendebarkan dari saat-saat pertama, terutama baginya. Dalam hal apa pun. Proses adaptasi layaknya sebuah permainan yang pada akhirnya menentukan apakah ia kalah atau menang. Ia tak setangguh manusia kebanyakan. Namun, ia bisa jadi lebih tangguh dari yang dibayangkan, jika segala sesuatunya terasa memungkinkan.

Satu hal yang ia rasakan tatkala menempati meja kerjanya untuk pertama kali: nyaman. Ruang kerjanya tak jauh beda dengan suasana kamarnya yang bersahaja. Ia tidak berbicara tentang hal-hal material, melainkan kebutuhan personal. Entah bagaimana harus menjelaskan detailnya, hari itu ia merasa senang, dan telah menang.

Hari itu berbeda dari hari pertama-hari pertama yang pernah dilaluinya. Ia jatuh cinta pada ruangan dan meja kerjanya, pada perangkat komputer yang membantu pekerjaannya, juga pada tugas-tugas yang harus dikerjakannya. Ia menikmati detik-detik kebersamaan mereka. Dan ia pun menyukai atasan dan rekan-rekan kerjanya.

***

11 Januari, satu tahun yang lalu.

Beberapa kali, komputernya diganti. Beberapa kali, meja kerjanya berubah-ubah posisi. Bahkan, beberapa kali pula teman-teman kerjanya datang dan pergi, berganti-ganti. Tetapi ia masih tetap setia pada meja kerjanya. Juga pada jendela di dekat meja kerjanya.

***

11 Januari, saat ini.

Ia sedang mengetik, mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi selama dua tahun terakhir ini. Di tempat ini. Dua tahun yang mungkin tak akan didapati dan dijalaninya di tempat lain. Dua tahun yang terasa singkat seperti hari ini dan kemarin.

Dua tahun, rentang waktu kebersamaan yang bahkan tak pernah terjadi dalam hal relationship-nya dengan siapa pun.[]

Bandung, 11 Januari 2012, 11:12