aku benci hujan. kau tahu. lalu, kau akan berkata, “kamu masih saja membenci fenomena alam yang mempertemukan kita.” memori itu pun terulang kembali di kepalaku seperti siklus potongrambut.
waktu itu, serta-merta kau berdiri di sampingku, agak membungkuk demi numpang berteduh di bawah payungku. aku diam saja, sementara kau bersikap seolah sudah mengenalku lebih lama dari teman-temanku. kau mengeluh soal bosmu, membahas perilaku abg sekarang, hingga ikut usil soal politik. kau bahkan tak menolak saat aku berbasa-basi menawarimu mampir ke rumahku.
beberapa hari setelah itu, kita tak lagi bertemu. namun entah kenapa, aku harus merindukanmu.
tak diduga, kau muncul di ruang kerja bosku. mencangklong kamera. memaparkan foto-foto, portofoliomu. kau memandangku, sekilas, lantas pergi tanpa bekas. dalam rentang waktu yg berdekatan, aku mengagumimu sekaligus membencimu.
aku enggan bermitra denganmu. namun, profesionalitas memaksaku menikmatinya. dan tak memberiku pilihan untuk menghindari hiruk-pikuk pesta perayaan malam itu. makan-makan. minum-minum. kau mendorong tubuhku ke dinding, lalu menciumku dalam nafsu. dan aku balas mendorongmu ke tempat tidur, lalu membakarmu dalam gairah.
kita tuntas bercinta. padahal kita tak saling jatuh cinta.
~
aku benci hujan. kau tahu. lalu, kau akan memelukku, berusaha menghangatkanku. “kamu demam. saya ambilkan obat. sebentar.”
“jangan pergi! aku cuma butuh kamu.”
sepanjang sisa malam, kita berpelukan. mengiringi detik jam dengan detak jantung dan napas kita yg saling kejar-kejaran. tanpa pembicaraan, alih-alih pergulatan raga. kecuali, pergulatan jiwa.
~
aku benci hujan. kau tahu. tapi, kau malah pergi di kala hujan sedang deras-derasnya. di saat aku sedang butuh-butuhnya.
kau menghilang. berbulan-bulan. lalu kembali, membawa undangan pernikahan.
~
aku benci hujan, kau, dan hari ini.
kita bertemu di pemakaman istrimu. kau menyapaku, “apa kabar?”
“baik.”
“i miss you.”
aku tertawa sambil memberikan undangan pernikahan. kau pun tertawa. sialan.[]