Hujan di Ujung Bulan


Hujan di akhir September selalu mengingatkan saya kepada kamu. Empat tahun telah berlalu semenjak pertama kali kita bertemu. Empat tahun yang bagi saya terasa lebih lama dari waktu yang sebenarnya. Jika bagi kebanyakan orang, teori relativitas waktu itu menyatakan bahwa waktu akan terasa singkat jika kita menikmatinya; maka bagi saya, justru sebaliknya.

Mungkin kamu tidak pernah tahu bahwa saya suka melakukan hal-hal yang saya sukai secara berulang-ulang, salah satunya adalah memikirkan kamu sembari memandangi langit dan hujan. Dan satu hal lainnya yang pasti tidak pernah kamu ketahui: saya kerap menangis diam-diam, dengan, atau pun tanpa alasan, setiap kali ingatan saya tertuju kepada kamu.

Dan setiap kali melewati Garbarata—di bandara mana pun, selalu ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada dan kepala saya. Ada bayangan dan senyuman kamu yang menempel di setiap sentimeter dindingnya. Ada kisah sederhana tentang pertemuan pertama sepasang insan yang diam-diam menyimpan rasa sayang. Dan ada kisah rumit tentang sebuah perpisahan yang tak terhindarkan.

Saya pernah berpikir bahwa Garbarata dan cinta sama-sama mampu menghubungkan dua hal yang berbeda. Dan saya pernah percaya bahwa sedemikian banyaknya perbedaan di antara kita adalah keindahan yang sangat menakjubkan.

Sampai kemudian, dua tahun yang kita lalui dalam kebersamaan memperlihatkan kenyataan yang berlainan. Sebenarnya, saya masih bisa mengalokasikan ruang toleransi bagi beberapa perbedaan-perbedaan itu. Kecuali satu hal.

Lanjut membaca

Sedikit Jeda

Hari ini, Jakarta sedang cukup bersahabat. Kurang dari setengah jam, Forsace hitam kesayangan sudah tiba di parkiran. Elevator kosong. OB menyiapkan secangkir kopi dengan komposisi yang sangat tepat. Bos besar sedang tidak berada di tempat.

Sesuatu yang sangat langka terjadi hendaknya dihargai dengan sebuah perayaan. Itu yang selalu kamu bilang. Perayaan kecil-kecilan saja, seperti menyobek selembar kertas dan kemudian menggambar sebotol anggur, menyobek selembar lagi dan kemudian menggambar dua buah gelas yang kemudian disobek lagi hingga menjadi dua gelas yang terpisah. Sobekan-sobekan itu kamu letakkan di atas meja. Lalu, kamu mengambil satu sobekan bergambar botol anggur, dan seolah-olah menuangkan isinya ke gambar gelas dalam sobekan lainnya. Lantas kita mengangkat masing-masing kertas. Cheers! Dan kita seolah-olah meminumnya. Kamu tertawa, sebelum kemudian menangis begitu saja.

Tiba-tiba saya teringat mimpi tadi malam. Kita bertemu di sebuah lorong panjang berdinding logam, dan tanpa jendela di kedua sisinya. Tempat itu terasa sangat familiar, sampai saya tak perlu waswas kalau-kalau bakal tersesat. Kamu tampak bersedih, bahkan benar-benar menangis. Saya bertanya, kenapa, tetapi kamu malah diam saja. Kemudian saya ingat, setiap kali kamu menangis, kamu tak suka diinterogasi, alih-alih dikonfrontasi. Kamu lebih menyukai dan menghargai genggaman di jari tangan, atau pelukan penenang. Maka, itulah yang saya lakukan.

Kamu menangis dalam durasi yang begitu panjang. Hingga saya bisa merasakan getaran dan guncangan tubuhmu yang terisak dalam. Namun, lama kelamaan, guncangan itu serasa mereda, diam, lalu hilang. Kamu menghilang sebelum sempat memberi jawaban. Membuat saya bertanya-tanya dan diliputi kecemasan. Membuat saya terbangun dengan segala perasaan tak keruan.

Lanjut membaca

Merapik Langit

Ada banyak hal yang secara otomatis saya ingat sebelum tidur. Jadwal meeting yang membikin pening. Berkas-berkas yang membuat waswas. Laporan-laporan yang membingungkan. Dan segala hiruk-pikuk pekerjaan lainnya yang semakin menjemukan. Kemudian kamu datang, seperti sebuah program pembersih dan penyegar memori komputer, lalu menjelma virus tangguh yang membangun teritorialnya sendiri. Hingga akhirnya hanya tersisa dua hal yang bertahan mendiami ingatan sebelum tiba di batas peraduan malam. Adalah kamu, dan kita berdua.

Langit tetap menjadi tujuan visual terfavorit saya pada pagi hari, siang, sore, hingga malam. Ia punya andil dalam banyak hal yang terjadi di kehidupan saya. Salah satu hal terbesar itu adalah pertemuan kita.

Sejak kecil, saya serasa memiliki ikatan yang begitu kuat dengan langit. Ia seperti kain ajaib yang dibentangkan Tuhan untuk menuangkan segala inspirasi dan petunjuk-Nya. Ia punya banyak warna di luar biru, abu-abu, merah jambu, dan ungu. Ia punya banyak benda selain awan, bulan, dan bintang. Bagi saya, langit lebih dari sekadar ruang tak berbatas. Membaca langit, menghadirkan keasyikan tak terdefinisi, namun sungguh-sungguh bersensasi.

Setiap kali melakukan perjalanan jauh, langit adalah sahabat terbaik saya untuk membunuh jenuh. Termasuk saat itu. Kemudian kamu datang, seperti sebuah program pembersih dan penyegar memori komputer, lalu menjelma virus tangguh yang membangun teritorialnya sendiri. Kamu, langit kedua yang menggetarkan jiwa.

Lanjut membaca

dua cup eskrim; dua rasa; dua cerita (mungkin tiga, atau empat)

kamu tahu kenapa saya suka duduk di sini?

lihat ke sana, ke seseorang yang sedang menuang eskrim ke dalam cup atau cone itu! dia tampak lucu. sejak malam minggu itu, saya jadi bersemangat datang ke mari, dan duduk di sini. sendiri.

“jadi, kamu mau cerita soal tukang eskrim itu?” kamu bertanya.

mungkin nanti. setelah terjadi sesuatu di antara kami. ketika ia menyadari keberadaan seseorang yang sering datang ke mari dan diam-diam memperhatikannya. ketika akhirnya kami berkenalan, dan mungkin hingga bertukar nomor ponsel. dan dari situlah semuanya berproses. lumayan kan, selain bisa dekat dengannya, juga bisa dapat jatah lebih eskrimnya.

“ah, terlalu di awang-awang. cerita tentang dia aja!”

dia–siapa? dia–oh, dia. ya, dia. baik-baik saja.

“hubungan kalian?”

Lanjut membaca

aku benci hujan, kau, dan hari ini

aku benci hujan. kau tahu. lalu, kau akan berkata, “kamu masih saja membenci fenomena alam yang mempertemukan kita.” memori itu pun terulang kembali di kepalaku seperti siklus potongrambut.

waktu itu, serta-merta kau berdiri di sampingku, agak membungkuk demi numpang berteduh di bawah payungku. aku diam saja, sementara kau bersikap seolah sudah mengenalku lebih lama dari teman-temanku. kau mengeluh soal bosmu, membahas perilaku abg sekarang, hingga ikut usil soal politik. kau bahkan tak menolak saat aku berbasa-basi menawarimu mampir ke rumahku.

kau memang tidak tahu malu.

beberapa hari setelah itu, kita tak lagi bertemu. namun entah kenapa, aku harus merindukanmu.

tak diduga, kau muncul di ruang kerja bosku. mencangklong kamera. memaparkan foto-foto, portofoliomu. kau memandangku, sekilas, lantas pergi tanpa bekas. dalam rentang waktu yg berdekatan, aku mengagumimu sekaligus membencimu.

aku enggan bermitra denganmu. namun, profesionalitas memaksaku menikmatinya. dan tak memberiku pilihan untuk menghindari hiruk-pikuk pesta perayaan malam itu. makan-makan. minum-minum. kau mendorong tubuhku ke dinding, lalu menciumku dalam nafsu. dan aku balas mendorongmu ke tempat tidur, lalu membakarmu dalam gairah.

kita tuntas bercinta. padahal kita tak saling jatuh cinta.

~

aku benci hujan. kau tahu. lalu, kau akan memelukku, berusaha menghangatkanku. “kamu demam. saya ambilkan obat. sebentar.”

“jangan pergi! aku cuma butuh kamu.”

sepanjang sisa malam, kita berpelukan. mengiringi detik jam dengan detak jantung dan napas kita yg saling kejar-kejaran. tanpa pembicaraan, alih-alih pergulatan raga. kecuali, pergulatan jiwa.

~

aku benci hujan. kau tahu. tapi, kau malah pergi di kala hujan sedang deras-derasnya. di saat aku sedang butuh-butuhnya.

kau menghilang. berbulan-bulan. lalu kembali, membawa undangan pernikahan.

~

aku benci hujan, kau, dan hari ini.

kita bertemu di pemakaman istrimu. kau menyapaku, “apa kabar?”

“baik.”

“i miss you.”

aku tertawa sambil memberikan undangan pernikahan. kau pun tertawa. sialan.[]