![]()
Hujan di akhir September selalu mengingatkan saya kepada kamu. Empat tahun telah berlalu semenjak pertama kali kita bertemu. Empat tahun yang bagi saya terasa lebih lama dari waktu yang sebenarnya. Jika bagi kebanyakan orang, teori relativitas waktu itu menyatakan bahwa waktu akan terasa singkat jika kita menikmatinya; maka bagi saya, justru sebaliknya.
Mungkin kamu tidak pernah tahu bahwa saya suka melakukan hal-hal yang saya sukai secara berulang-ulang, salah satunya adalah memikirkan kamu sembari memandangi langit dan hujan. Dan satu hal lainnya yang pasti tidak pernah kamu ketahui: saya kerap menangis diam-diam, dengan, atau pun tanpa alasan, setiap kali ingatan saya tertuju kepada kamu.
Dan setiap kali melewati Garbarata—di bandara mana pun, selalu ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada dan kepala saya. Ada bayangan dan senyuman kamu yang menempel di setiap sentimeter dindingnya. Ada kisah sederhana tentang pertemuan pertama sepasang insan yang diam-diam menyimpan rasa sayang. Dan ada kisah rumit tentang sebuah perpisahan yang tak terhindarkan.
Saya pernah berpikir bahwa Garbarata dan cinta sama-sama mampu menghubungkan dua hal yang berbeda. Dan saya pernah percaya bahwa sedemikian banyaknya perbedaan di antara kita adalah keindahan yang sangat menakjubkan.
Sampai kemudian, dua tahun yang kita lalui dalam kebersamaan memperlihatkan kenyataan yang berlainan. Sebenarnya, saya masih bisa mengalokasikan ruang toleransi bagi beberapa perbedaan-perbedaan itu. Kecuali satu hal.
