
Seharusnya ada gerimis.
Diabaikannya cuaca gersang di luar, lantas ia kembali mempartisi dunianya melalui dua utas kabel earphone dan sebuah iPhone. Jari-jemarinya sudah seperti tongkat sihir yang lebih mutakhir dari pintu ke mana saja milik Doraemon, memungkinkan ia tetap terhubung dengan siapa pun, terutama orang-orang terdekatnya, sejauh apa pun mereka terpisah. Ada puluhan nama menyapanya, namun tak diacuhkannya. Kecuali, nama laki-laki itu.
“Sebentar lagi aku sampai. Jangan bilang kalau kamu masih minta dibikinin kaki sama Tuhan buat ngejemput aku di stasiun! Aku nggak punya waktu sembilan bulan buat nunggu itu.”
Ia tersenyum sebelum memberi balasan yang tak kalah panjang, “Jangan khawatir, tadi saya abis dari kelurahan, ikut ngantre pembagian Kesabaran. Dan saya nyetok banyak buat nungguin kamu, juga supaya saya bisa betah nunggu di lobi stasiun yang panasnya minta ampun ini.”
Lanjut membaca →