Opera Sabun di Paris Van Java

Bahwa kebetulan adalah kata magis yang sengaja mengalihkan perhatian kita dari satu fakta di mana memang-sebenarnya-hal-itu-harus-terjadi.

Saya menghubungi dia untuk menemani saya menghadiri sebuah acara. Bukan kebetulan jika namanya terlintas begitu saja di kepala saya saat seorang teman memberi tahu bahwa ada banyak tiket untuk dibagikan secara cuma-cuma. Cukup lama kami saling mengenal, meski tidak terlalu intim. Beberapa kali agenda nonton bareng menjadi latar dan alasan kami berjumpa.

Dia sangat ramah. Mudah baginya untuk bergaul dengan siapa saja. Jadi, saya tidak perlu khawatir melibatkan dia di antara segerombolan lelaki-gila-kata-kata-yang-sedang-berburu-pustaka. Ya, tampak kontras di mana dia perempuan satu-satunya. Untungnya, kami sama sekali bukan lelaki-lelaki buas.

Tetapi, saya tetap merasa perlu bertanggung jawab atas kebosanannya ikut menunggu bagian lain dari kami (si gerombolan) yang belum datang (atau memang sama sekali tidak akan datang). Maka, saya mengajaknya berkeliling mall, lalu berakhir di 21. Membicarakan pemandangan dan ‘penampakan’. Membahas poster film. Lalu duduk-duduk di sofa tanpa punggung, tepat di seberang loket.

Lanjut membaca