Tiba-tiba kamu memikirkannya. Memaknai setengah jam yang sempit sebagai gerbang menuju kebebasan atas rasa gamang yang terjangkit di dirimu sejak awal. Intro lagu lama itu dimulai dari denting sendok dan piring, dengan suasana yang tak sengaja tercipta—langit dramatis melukis gradasi abu-abu, ungu dan merah jambu.
Ia tersenyum padamu, pertanda butuh sesuatu. Sekadar teman bincang, teman membunuh waktu, teman mengusir kesendirian. Kamu mengetahuinya, dan lantas tak mau ambil bagian dalam memenuhi kebutuhan dirinya itu.
Sampai tiba-tiba kamu memerhatikannya. Memaknai senyumnya sebagai gerbang menuju dimensi di mana kalian bisa saling mengisi dan mencukupi diri satu sama lain.
Aroma dingin menguar dari udara. Dan rasanya, cuma segelas air panas yang mampu menangkalnya. Namun kalian sama-sama tahu kapan saat yang tepat untuk memulai-nya. Dan kalian sama-sama paham bagaimana cara-nya.
Banyak kata yang kalian habiskan. Dibumbui canda dan tawa yang meski masih terlalu ringan namun cukup memberi penegasan bahwa waktu hanya masalah sepele dalam memulai suatu kebersamaan.
Sampai tiba-tiba ia berkata tentang sesuatu yang membuatmu berpikir bahwa mungkin ini akan menjadi kebersamaan kalian yang pertama sekaligus terakhir. Pertemuan sekaligus perpisahan. Betapa waktu menjadi masalah terbesar bagi kalian-bagi kamu, terutama.
Dan tiba-tiba kamu menginginkannya. Sisa-sisa waktu yang kalian miliki.
Memandangi punggungnya menjadi sesuatu yang teramat menghibur hatimu. Lewat punggunya kamu bisa menunjukkan sekaligus menyembunyikan sesuatu yang meletup-letup dari dalam dirimu. Kamu hanya butuh wajahnya yang tidak sedang memandangmu, meskipun sebenarnya lebih mendambakan momen seperti itu hanya jika kamu mampu membelah diri menjadi pihak ketiga yang menjadi satu-satunya saksi atas kejadian itu. Sebab kamu tak pernah bisa menatap mata seseorang yang tengah menatapimu.
Sebab kamu takut sepasang mata yang saling ber-ikat bisa ber-akibat.
Tetapi ternyata akibat yang kamu takutkan itu bisa datang dari segala arah. Menyerangmu tanpa pertanda, tanpa aba-aba, tanpa memberimu kesempatan untuk mengelak, alih-alih menolak telak.
Dan tiba-tiba kamu tidak menginginkannya.
Jangan jatuh cinta! Jangan!***
Bandung,
01/04/2009 6:20:31

fiuh…
jatuh cinta pada manusia tampaknya memang sangat mengerikan…
aku gak mau jatuh cinta lagi…
heuleuh, neng mega pasti komentarnya pake hati tuh
kumaha mun urang ngan merasa jatcin hungkul?
kumaha mun urang ngan terobsesi hungkul?
kumaha mun urang ngan berilusi-ria?
tah, binun pan?
sok lah terjemahkan… urang keur jempling yeuh…
hahaha,,, *tertawa hampa gitu… halaaakh…
komennya make tulisan bukan make hati…
hehehe…