Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.

Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.

Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”

Mestinya ini menjadi kabar bahagia. Kelak. Beberapa tahun lagi, dalam situasi dan kondisi yang tidak seperti ini. Aku lupa mau berkata apa. Tepatnya, mendadak tak mampu berpikir dan memproduksi kata-kata dengan lancar dan semestinya. Air mukaku kering dan napasku sesak. Kupertemukan punggungku dengan dinginnya dinding kamar kostnya, lalu menatap langit-langit dan seekor cicak yang kesepian. Setelah itu aku menyulut rokok dan berusaha mencari ketenangan dalam setiap hisapan.

Secangkir air mata yang ia suguhkan menjadi kopi terpahit sepanjang malam Minggu yang pernah kami lalui. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dan melupakan semuanya. Semuanya. Tetapi, menyangkal fakta bahwa ia adalah kekasihku bukan hal yang mudah. Terlebih karena aku sangat mencintainya.

Kau tahu, hari Senin aku ada ujian,” kata-kataku seperti udara tak nampak yang sedang berkejaran dengan kepulan asap.

Ia menatapku. Aku menduga, ia pikir ini saat yang paling salah untuk membahasnya. Dan aku hanya si bodoh yang tak kenal situasi.

Konsentrasiku akan sangat terganggu jika aku diperbolehkan mengikuti ujian hari Senin. Yah, syukurlah, catatan administrasiku semester ini cukup buruk sehingga namaku belum terdaftar sebagai peserta ujian.”

Ada iba di balik derai air matanya. Sementara batinku sibuk menakar-nakar rasa yang mulai duduk manis dalam singgasananya. Satu per satu menampakkan diri, namun aku tak juga mampu menerjemahkannya.

Aku ingin marah, pada diriku sendiri, pada dirinya. Dan pada rasa cintaku terhadapnya. Tetapi kemudian aku tidak menginginkannya. Entahlah.

Ibumu masih sakit?” tiba-tiba ia bertanya dan menyeka air matanya.

Ya. Dan ayahku baru di-PHK,” spontanitas seseorang dalam kondisi tertekan memang terdengar begitu polos, sekaligus memalukan. Oh Tuhan, apakah membahas masalahku di tengah masalahnya dan masalah kami saat ini adalah berdosa? “Ehm, maksudku, lupakan saja. Tadinya aku hanya berusaha membuatmu sedikit lega dengan ‘penundaan’ ujianku lusa,” kuketukkan ujung rokokku pada asbak. Seandainya masalah ini sesederhana abu rokok, semudah itu aku akan menghempasnya. Dan ia akan hilang dengan sendirinya seiring arah angin.

Ia memelukku, “Maaf, aku tak bermaksud memaksamu untuk…”

Bertanggung jawab. Aku melepaskan pelukannya, “Orang tuamu tetap akan mencariku hingga ke ujung dunia,” ya, selama dua tahun ini, nama dan wajahkulah yang mengakrabi ingatan mereka sebagai kekasih puteri bungsunya, “dan kakak-kakakmu juga. Tentu saja aku buronan keluarga.”

Ia menangis lagi.

Saat ini aku benar-benar membenci ketakberdayaan perempuan; tak ada yang dapat kumanfaatkan darinya, terutama tangisannya. Oh, tidak. Aku tidak pernah memanfaatkan apa-apa darinya. Bahkan malam itu pun, aku tidak benar-benar memanfaatkan ketakberdayaannya. Kami hanya mengikuti tuntutan dan tuntunan berahi. Satu-satunya hal yang tak kusesalkan dari kejadian malam itu adalah bahwa aku tidak memperkosanya, dan tentu saja ia tidak merasa diperkosa. Dan, satu hal yang membuatku tenang selepas kejadian malam itu: aku mengenakan pengaman. Aku harus yakin bahwa pengamanku benar-benar aman.

Mestinya aku manut pada petuah kedua orang tuaku,” kumatikan bara di ujung rokokku, kutekan pada asbak dengan segenap kekuatan. “Mestinya aku tidak membolos waktu pelajaran agama, hingga mendapatkan informasi yang keliru dari teman-temanku. Tetapi ini sudah terjadi. Jadi, mestinya aku lebih skeptis dengan alat kontrasepsi. Maksudku, aku tak perlu menggunakannya malam itu,” ya, andai kutahu rasanya jauh lebih nikmat tanpa benda sialan itu.

Maafkan aku…” kini ia lebih dari sekadar menangis.

Apa yang bisa dilakukan seorang lelaki ketika hatinya benar-benar hancur tak berampun? Menangis hanya membuatku lebih hancur. Air mata seorang lelaki tak secair dan sebening milik perempuan. Amarah jauh lebih indah untuk ditunjukkan. Tetapi, masalahnya aku tak mampu melakukan itu kepadanya hanya karena alasan yang tak masuk akal: cinta.

Hanya saja, apakah cinta bisa memberikan jaminan terbaik dalam situasi ini, untuk saat ini?

Aku tak tahu apakah aku perlu tahu siapa yang lebih berhak bertanggung jawab. Dan aku pun tak tahu apakah aku tetap berhak menghindar jika cinta tak mengijinkanku menemukan banyak alasan.

Baiklah, apa maumu sekarang?” aku bak penjinak bom yang sedang berusaha keras mencari kabel pencegah ledakan.

Ia memegangi perutnya, kemudian meremasnya, “Selagi masih dua bulan…”

Tidak!” aku menamparnya. Oh, maafkan aku. Aku hanya terlalu mencintainya. “Biarkan ia tetap hidup. Lebih baik kau membunuh ayahnya saja.”

Aku mencintaimu,” pelukannya kini lebih erat hingga dadaku sesak. “Maafkan aku. Maafkan aku. Ia memperkosaku. Aku bersumpah akan membunuh bajingan itu.”

Biar aku saja…”

Tidak. Kau cukup berjanji untuk melupakan dan meninggalkanku. Karena hanya dengan begitu, aku bisa memaafkan diriku sendiri.”

Aku meledak dalam tangis. Dan cinta—ah, hanyalah cinta…***

Dadan Erlangga

Bandung, 29 Juni 2008 10:57:47

5 Komentar

  1. putih itu suci…suci itu indah… tapi kayaknya blom banyak yang menyadari… dia bukan hanya indah tapi dia itu sesuatu yang sakral.. sakral itu krena blom boleh dikotori sebelum waktunya.. karena itu akan menjadi dosa besar.. tapi gimanpun juga yang sudah.. biarlah berlalu.. Allah Maha Pengampun.. tentunya jika kita TAUBAT NASUHA.. YA… TOBAT DENGAN SEMURNI-MURNINYA.. dan gw yakin banyak yang tau apa itu murni… semoga kita bisa belajar dari apa yang telah kita lakukan…belajar buat jadi lebih baik… ok bro…. sorry jadi sok tau niyyy

  2. Great! Aku terbawa ceritamu Sobat. Hingga kubaca tiga kali bagian akhirnya. Kiraku jalan ceritanya bakal sederhana saja.

    Oya, buat yg punya pengalaman soal pengaman,lain kali pengamannya diperbaiki. Jangan pake alat kontrasepsi, tp pake iman.:)

  3. ck ck ck ck..

    wkwkwkwk, daduN…

    huiy, sebeneRnya yang ini lumayan keren juga.. tapi, yah namanya juga sotoy.. ^^

    *SabaRR bu…

  4. fiuh!!!
    ending yang menukik..
    tapi ku butuh 3 kali baca baru mudeng… top mar kotop

  5. minta draftnya yak?

    Lancang nih! Belum komen juga!

    Mercy itu kembali menghentikan lajunya. Kali ini dia berhenti di depan sebuah rumah megah yang terletak di kawasan elite. Namun, di antara rumah-rumah di blok ini. Mungkin rumah inilah yang terbesar dan termegah.

    “Ceklek!”

    Kenop belakang mobil itu pun terbuka, dan seorang putri nan cantik pun turun dari singgasananya, membawa sebuah ransel kulit.

    “Mana tasnya Non? Saya bawakan,” tawar Joe yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya. Niwa menyerahkan tasnya. Nampaknya, hari ini dia terlalu letih untuk sekedar membawa benda itu sampai kamarnya. Niwa membuka pintu raksasa yang menjaga istana megahnya. Lalu, nampaklah ruang depan yang sangat luas. Di dalamnya sudah ada beberapa pelayan yang siap melayani majikannya.

    “Selamat datang Nona Niwa!” seru mereka serempak.

    Niwa hanya tersenyum kecil ketika mendengar sambutan itu.

    “Heh, dasar papa. Kenapa sih harus dikasih acara penyambutan segala?” gumam Niwa dalam hati.

    Niwa dengan lesu menaiki tangga menuju kamarnya. Hari ini banyak hal yang tak diduga. Beberapa disebabkan oleh ayahnya. Sementara sisanya disebabkan anak itu. Siapa namanya? E-edi atau Edo ya? Ah, dia lupa! Yang jelas dia adalah trouble-maker semua masalah yang ada di sekolahnya tadi. Tapi herannya, dia jugalah malaikat penolongnya.

    “Ada apa Non? Non sakit ya?”

    Niwa tertegun sejenak. Astaga! Dia baru saja melamun.

    “Ah,ng-nggak kok! Aku cuma capek aja sama kejadian tadi siang,” sahut Niwa menutupi kekakuannya.

    Joe mengangguk mengerti. Tampaknya nona kecilnya menyembunyikan sesuatu. Tapi, Joe tidak berani menanyakannya. Lebih baik ia mencari tahu dengan caranya sendiri.

    “Joe, letakkan saja di situ. Aku mau tidur,” perintah Niwa.

    Joe menuruti kata Niwa. Lalu, dia segera berbalik keluar.

    “Eits, Joe! Tunggu dulu!” seru Niwa.

    “Yup!”

    “Nanti malam temani aku ya!” ucap Niwa lemas. Joe tersenyum.

    “Baiklah Nona, saya izin pergi dulu.”

    “Mau kemana?”

    “Uhm, menyelesaikan sedikit urusan yang tertinggal,” jawab Joe singkat.

    “Oh, baiklah. Hati-hati Joe!”

    “Bye! Princess,” salam Joe. Kemudian, ia menutup pintu kamar Niwa dari luar.

    Joe menerawang keluar jendela. Matanya tajam menatap lazuardi jingga. Dia kemudian membetulkan dasi yang ada di lehernya.

    “It’s time to work!”

    ***

    Hari sudah senja. Matahari mengintip melewati jendela-jendela kaca yang menghadap ke barat. Suasana sepi. Koridor terbuka itu memendarkan cahaya jingga di antara lantai keramik hingga berkilau terang. Hanya desir angin yang sesekali melintasi ruang-ruang kosong di lantai dua sekolah itu.

    Edo berjalan menuruni tangga sekolah. Yah, hari ini dia harus pulang terlambat lagi gara-gara medapat hukuman dari kepala sekolah, yaitu membersihkan WC. Untunglah hanya itu hukumannnya. Edo kira dia akan dikeluarkan dari sekolah gara-gara dituduh mencabuli siswi baru.

    Edo tersenyum kecil ketika mengingat kejadian itu. Tak disangka hari ini dia akan mendapatkan pengalaman yang menarik hari ini. Bertemu dengan seorang putri dari keluarga Sanjaya. Hm, sebuah nama yang tak asing lagi di telinganya. Bahkan dia sudah hafal sekali dengan nama itu. Terutama perusahaan yang mereka dirikan.

    “Sanjaya Princess, you would be mine,” ucapnya sambil tersenyum misterius.

    Edo kembali meneruskan langkahnya. Setelah sampai anak tangga terakhir dia jadi teringat dengan peristiwa yang terjadi tadi siang di tempat itu. Dia kemudian berfikir. Kenapa tadi dia tidak mencium Niwa sekalian ya? Padahal sudah dituduh melakukan tindakan asusila dan sudah mendapatkan konsekuensinya. Yah, nasib-nasib.

    Sekolah itu terlihat berbeda jika dilihat dari sore hari. Sepi. Tak ada siswa yang berhamburan seperti di siang hari. Malah nampak seperti sebuah benteng yang kaku dan sunyi. Mungkin karena bangunan itu masih berasitektur zaman Belanda yang menyajikan tembok batu nan kaku di luar. Diikuti dengan sebuah gerbang besi tua yang berderit ketika diayunkan. Menambahkan suasana mistis yang ada disana.

    Edo berjalan menyusuri koridor utama yang memisahkan lapangan bagian dalam dan bagian luar. Lebar koridor itu cukup panjang. Sekitar lima belas kaki. Dihinggapi oleh sepasang cermin raksasa di kedua sisinya. Memantulkan bayangan yang tak terhingga di dalamnya.

    Edo berhenti sejenak di depan cermin tersebut. Dia memperhatikan bayangan yang terpantul di depannya. Dia memfokuskan pandangannya pada kornea matanya. Sebuah pupil berwarna biru tersembul keluar dari sebuah lensa kontak berwarna hitam.

    “Ups! Hampir aja ketahuan.”

    Edo segera melepas kacamatanya dan membetulkan lensa kontak yang menempel di matanya. Setelah itu, dia segera mengeluarkan obat tetes mata guna menghilangkan kotoran yang ada di matanya. Matanya berkedip-kedip sejenak ketika sebuah cairan menetes di matanya.

    “Ah, that’s enough!” ucap Edo lega.

    Edo memasukkan kembali obat tetes mata itu ke dalam tasnya dan kembali menggunakan kacamatanya. Setelah itu, dia kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.

    Tak begitu jauh dari tempat Edo berada. Mercy itu kembali tiba di sekolah itu. Suaranya yang menderu lembut membahana di ruang terbuka. Membuat semua orang tercengang ketika mendengarnya.

    Sekali lagi pintu mercy itu terbuka. Namun, sepertinya kali ini putri itu tak ada di dalamnya. Hanya seorang pria berusia dua puluhan yang keluar dari sisi mobil tersebut. Pakaiannya masih rapi seperti tadi pagi. Tidak lupa dengan kacamata hitam yang selalu bertengger di hidungnya.

    Ayunan angkahnya begitu tegap. Tak ada yang tahu apa maksud dia mendatangi bangunan tua itu di peralihan hari seperti ini. Di sisi halaman depan itu dia berpapasan dengan seseorang yang berada di seberang lapangan. Tak segan-segan dia mengeluarkan sebuah mesin pembunuh dari dalam jasnya dan langsung mengarahkan kepada terget yang berada di depannya!

    “Go away from Niwa! Edo Morgan!”

Tulis sebuah Komentar

*
*