Arsip Bulanan: Juli 2008

Ia menangis sedari aku datang. Mereka salah; tidak semua air mata perempuan mampu melumpuhkan hati lelaki. Kecuali ada rasa bersalah menjelma bayanganku di matanya.

Kau kenapa?” aku bertanya untuk kesekian kalinya, dengan nada kesal.

Aku hamil,” akhirnya ia menjawab. Barulah hatiku lumpuh, kemudian lepuh. “Dua bulan.”

Mestinya ini menjadi kabar bahagia. Kelak. Beberapa tahun lagi, dalam situasi dan kondisi yang tidak seperti ini. Aku lupa mau berkata apa. Tepatnya, mendadak tak mampu berpikir dan memproduksi kata-kata dengan lancar dan semestinya. Air mukaku kering dan napasku sesak. Kupertemukan punggungku dengan dinginnya dinding kamar kostnya, lalu menatap langit-langit dan seekor cicak yang kesepian. Setelah itu aku menyulut rokok dan berusaha mencari ketenangan dalam setiap hisapan.

Secangkir air mata yang ia suguhkan menjadi kopi terpahit sepanjang malam Minggu yang pernah kami lalui. Aku ingin pergi ke tempat yang jauh dan melupakan semuanya. Semuanya. Tetapi, menyangkal fakta bahwa ia adalah kekasihku bukan hal yang mudah. Terlebih karena aku sangat mencintainya.

Kau tahu, hari Senin aku ada ujian,” kata-kataku seperti udara tak nampak yang sedang berkejaran dengan kepulan asap.

Ia menatapku. Aku menduga, ia pikir ini saat yang paling salah untuk membahasnya. Dan aku hanya si bodoh yang tak kenal situasi.

Konsentrasiku akan sangat terganggu jika aku diperbolehkan mengikuti ujian hari Senin. Yah, syukurlah, catatan administrasiku semester ini cukup buruk sehingga namaku belum terdaftar sebagai peserta ujian.”

Ada iba di balik derai air matanya. Sementara batinku sibuk menakar-nakar rasa yang mulai duduk manis dalam singgasananya. Satu per satu menampakkan diri, namun aku tak juga mampu menerjemahkannya.

Aku ingin marah, pada diriku sendiri, pada dirinya. Dan pada rasa cintaku terhadapnya. Tetapi kemudian aku tidak menginginkannya. Entahlah.

Ibumu masih sakit?” tiba-tiba ia bertanya dan menyeka air matanya.

Ya. Dan ayahku baru di-PHK,” spontanitas seseorang dalam kondisi tertekan memang terdengar begitu polos, sekaligus memalukan. Oh Tuhan, apakah membahas masalahku di tengah masalahnya dan masalah kami saat ini adalah berdosa? “Ehm, maksudku, lupakan saja. Tadinya aku hanya berusaha membuatmu sedikit lega dengan ‘penundaan’ ujianku lusa,” kuketukkan ujung rokokku pada asbak. Seandainya masalah ini sesederhana abu rokok, semudah itu aku akan menghempasnya. Dan ia akan hilang dengan sendirinya seiring arah angin.

Ia memelukku, “Maaf, aku tak bermaksud memaksamu untuk…”

Bertanggung jawab. Aku melepaskan pelukannya, “Orang tuamu tetap akan mencariku hingga ke ujung dunia,” ya, selama dua tahun ini, nama dan wajahkulah yang mengakrabi ingatan mereka sebagai kekasih puteri bungsunya, “dan kakak-kakakmu juga. Tentu saja aku buronan keluarga.”

Ia menangis lagi.

Saat ini aku benar-benar membenci ketakberdayaan perempuan; tak ada yang dapat kumanfaatkan darinya, terutama tangisannya. Oh, tidak. Aku tidak pernah memanfaatkan apa-apa darinya. Bahkan malam itu pun, aku tidak benar-benar memanfaatkan ketakberdayaannya. Kami hanya mengikuti tuntutan dan tuntunan berahi. Satu-satunya hal yang tak kusesalkan dari kejadian malam itu adalah bahwa aku tidak memperkosanya, dan tentu saja ia tidak merasa diperkosa. Dan, satu hal yang membuatku tenang selepas kejadian malam itu: aku mengenakan pengaman. Aku harus yakin bahwa pengamanku benar-benar aman.

Mestinya aku manut pada petuah kedua orang tuaku,” kumatikan bara di ujung rokokku, kutekan pada asbak dengan segenap kekuatan. “Mestinya aku tidak membolos waktu pelajaran agama, hingga mendapatkan informasi yang keliru dari teman-temanku. Tetapi ini sudah terjadi. Jadi, mestinya aku lebih skeptis dengan alat kontrasepsi. Maksudku, aku tak perlu menggunakannya malam itu,” ya, andai kutahu rasanya jauh lebih nikmat tanpa benda sialan itu.

Maafkan aku…” kini ia lebih dari sekadar menangis.

Apa yang bisa dilakukan seorang lelaki ketika hatinya benar-benar hancur tak berampun? Menangis hanya membuatku lebih hancur. Air mata seorang lelaki tak secair dan sebening milik perempuan. Amarah jauh lebih indah untuk ditunjukkan. Tetapi, masalahnya aku tak mampu melakukan itu kepadanya hanya karena alasan yang tak masuk akal: cinta.

Hanya saja, apakah cinta bisa memberikan jaminan terbaik dalam situasi ini, untuk saat ini?

Aku tak tahu apakah aku perlu tahu siapa yang lebih berhak bertanggung jawab. Dan aku pun tak tahu apakah aku tetap berhak menghindar jika cinta tak mengijinkanku menemukan banyak alasan.

Baiklah, apa maumu sekarang?” aku bak penjinak bom yang sedang berusaha keras mencari kabel pencegah ledakan.

Ia memegangi perutnya, kemudian meremasnya, “Selagi masih dua bulan…”

Tidak!” aku menamparnya. Oh, maafkan aku. Aku hanya terlalu mencintainya. “Biarkan ia tetap hidup. Lebih baik kau membunuh ayahnya saja.”

Aku mencintaimu,” pelukannya kini lebih erat hingga dadaku sesak. “Maafkan aku. Maafkan aku. Ia memperkosaku. Aku bersumpah akan membunuh bajingan itu.”

Biar aku saja…”

Tidak. Kau cukup berjanji untuk melupakan dan meninggalkanku. Karena hanya dengan begitu, aku bisa memaafkan diriku sendiri.”

Aku meledak dalam tangis. Dan cinta—ah, hanyalah cinta…***

Dadan Erlangga

Bandung, 29 Juni 2008 10:57:47

Panggung untuk acara inagurasi sudah nampak dari kejauhan, sedari jalanan sebelum memasuki gerbang kampus. Dan suara bising anak-anak yang sedang cek alat sekaligus latihan terdengar cukup mengerikan di tengah hari yang panas ini.

Ah, lagu–sialan–itu lagi! Aku lupa judulnya, dan sama sekali tak menyesal membiarkan memoriku menghapus ingatan tentangnya. Sambil memarkir sepeda motor, batinku bersungut seperti telah lama memusuhi suara itu.

Baru seminggu yang lalu, lagu itu kuunduh dari sebuah situs penyedia file MP3 yang dapat diunduh secara bebas. Tak ada yang istimewa bagiku. Bahkan versi akustiknya mengingatkanku pada suara pas-pasan teman perempuanku yang hobi membuatku menutup telinga rapat-rapat saat ia mulai membuka mulutnya. Dan kualitas audio yang buruk menjadikan lagu itu tak lebih dari sekadar “bukan sesuatu”.

Sebut saja ini hanya sentimen pribadiku. Hei, aku punya hak untuk suka dan tidak suka terhadap sesuatu. Dan kupikir, tidak melibatkan diri dalam euforia “Misteri di Balik Lagu Gabby” tidak akan memposisikanku pada sekte minoritas yang udik.

“Eh, katanya lagu itu ditulis Gabby sebelum ia bunuh diri, karena frustrasi.”

Oh, please! Perbincangan beberapa mahsiswi tingkat tiga yang kudengar saat aku berjalan menuju laboratorium komputer mengingatkanku pada diskusi serius adik perempuanku dengan teman-temannya yang masih kelas tiga SMP. Ya, adikku-lah yang memaksaku mengunduh lagu itu demi dapat dikatakan “teraktualisasi” diantara teman-temannya sehingga ia bisa menjadi juru bicara dalam setiap wacana gosip tentang Gabby–setelah isu setan SMS merah. Dan kemudian, setiap hari di sepanjang minggu ini, adikku tak pernah tidak memutarnya. Baik itu dalam MP3 player maupun play list di komputernya. Sementara aku selalu memilih untuk jauh-jauh dari semua hal tentang itu.

“Abang takut, ya, mendengar lagu itu?”

Pertanyaan konyol adikku saat itu kujawab, “Bukannya takut. Abang hanya tidak suka mendengar lagu yang hit hanya karena isu sensasionalnya yang murahan, bukan karena kualitasnya.” Entahlah, apakah adikku paham apa maksud dari jawabanku.

Dan hari ini, di siang yang panas ini, aku harus mendengar lagu itu, lagi, sekaligus opini-opini menggelikan dari teman-temanku–yang mestinya bisa jauh lebih realistis daripada adikku dan teman-temannya.

Tapi, ah, sudahlah. Kupikir, lebih baik aku berkonsentrasi pada materi praktikumku daripada ikut dipusingkan dengan lagu yang–konon–misterius itu.

Ya, aku nyaris terlambat. Kelas tepat dimulai saat aku tiba di laboratorium komputer. Sial! Ternyata aku lupa membawa modul! Praktis, aku tidak boleh berkedip barang setengah detik pun demi mampu menangkap semua hal yang divisualisasikan sang dosen. Dan tentu saja, telingaku mesti lebih tajam dari pendengaran seekor anjing kala menyimak penjelasan dosen yang bersuara ekstrim lirih itu.

Oh tidak! Suara di luar (baca: lagu itu) masih saja terdengar. Jelas. Seperti tidak ada stok lagu lain lagi untuk dibawakan. Tetapi masalahnya, aku dan teman-temanku di sini sedang membahas subjek tersulit dan terpenting. Konsentrasiku kian kacau. Oh Tuhan, tolong hentikan mereka!

Tetapi lagu itu semakin jelas terdengar, bahkan dari ketinggian lantai tiga ini.

Aku pun berlari ke jendela dan berteriak pada mereka yang berada di panggung untuk lekas menghentikan lagu itu, dan suara apa pun yang membuat temperatur udara semakin tak keruan.

Mereka balas meneriakiku, dan beberapa mendongakkan wajah dengan tatapan aneh.

Astaga. Bagaimana bisa? Ternyata mereka tidak sedang menyanyikan lagu apa pun, bahkan tak ada yang memegang satu alat musik pun! Mereka justru tengah beristirahat dan hanya berkumpul-kumpul di atas dan di bawah panggung.

Sementara lagu itu masih terdengar, dan semakin mengerikan.

Lalu aku berpaling pada teman-temanku di dalam laboratorium komputer ini, dan mendapatkan tatapan aneh yang sama dengan yang diberikan teman-temanku di luar sana.

“Jangan katakan kalau kalian …”

Oh Tuhan, apakah lagu itu hanya terdengar olehku saja? Bagaimana bisa?

Tiba-tiba seorang gadis muncul, dan tak ada yang merasakan dan melihatnya, kecuali diriku. Ia gadis berambut panjang yang sedang membawakan lagu (yang terus terdengar di telingaku) sambil memetik gitar. Gadis yang tak kukenal, namun tanpa sengaja pernah kulihat dalam sebuah tayangan televisi yang membahas misteri lagu itu, dan diklaim sebagai sosok Gabby. Aku benci menebak. Aku benci ketakutan tak bersebab.

Ia semakin mendekat, seperti pengamen di dalam bis yang menadahkan kantong permen kosong pada setiap penumpang. Bedanya, ialah satu-satunya penyanyi yang bernyanyi tanpa ekspresi. Wajahnya putih pucat dan tanpa riak air muka. Dan aku semakin tak tahan mendengar lagu yang terdengar bagai Lingsir Wengi (dalam film Kuntilanak) itu terus dan terus diperdengarkan. Bahkan kedua telapak tanganku pun tak mampu mencegahnya masuk ke dalam pendengaranku.

Hentikan!

Kulemparkan sebuah speaker kecil dari meja komputer terdekatku ke arah gadis itu. Yes, tepat pada kepalanya. Namun ia tak bergeming dan terus mendekatiku sambil menyanyikan lagu sialan itu. Oh, aku benci mengakuinya, tetapi memang saat ini aku ketakutan. Saat ia semakin mendekat, dan nyaris tak ada jarak di antara kami, spontan aku mendorongnya hingga ia terjerembab ke lantai; dan entah kenapa ia masih bisa memetik gitarnya dan terus bernyanyi.

HENTIKAN!

Kali ini kulemparkan monitor empat belas inchi pada tubuhnya yang terbaring di lantai. Ia berdarah. Sebagian darahnya terciprat ke tubuhku.

Dan aku terjatuh dari tempat tidurku.

“Hhhh, syukurlah…” napasku panjang terhembus, meskipun sakit berkumpul di syaraf lenganku yang menahan bobot tubuhku saat terjatuh.

Huh, mimpi sialan!

Tapi… lagu itu masih saja terdengar. Oh Tuhan, apakah aku masih bermimpi?

Tidak. Aku sudah bangun. Dan suara itu sepertinya terdengar dari kamar sebelah. Adikku tak bisa pelan-pelan dan sekali saja memutarkannya. Ya, kali ini aku yakin bisa menghentikannya. Akan kuhapus secara permanen lagu itu dari komputer juga MP3 playernya.

Tapi… tidak. Lagu itu bukan dari sana. Jelas bukan. Melainkan dari komputerku sendiri. Tapi, bagaimana bisa? Aku tak mungkin menyalakannya dalam keadaan tidur, dan lagi pula tak pernah kusimpan file lagu itu di sana.

“Lagunya bagus, kan?” kursi belajarku berputar, dan nampak seorang gadis yang kulihat dalam mimpiku.

…***

Dadan Erlangga,
Bandung, 01 Juli 2008 15:05:26