Tentang Kejujuran dan Ketidakjujuran


Dalam situasi tersudut dan tertekan, kecenderungan manusia adalah menghindari kejujuran. Ya, tentu saja kejujuran yang jika diutarakan akan berdampak ancaman terhadap diri yang bersangkutan.

“Kalau hari ini hari jujur sedunia, apa yang akan kamu katakan padaku?” SMS dari seorang teman beberapa waktu yang lalu kembali terngiang.

Saya berpikir cukup lama waktu itu, kemudian berusaha menjawab, “Saya jujur, bahwa saya bukan orang yang jujur, setidaknya sampai saya menemukan efek terbaik dari kejujuran itu.”

Saat itu saya tidak sedang dalam kondisi tersudut dan tertekan, dan saya tidak sedang menghindari kejujuran. Bahkan ketidakjujuran yang saya miliki pun menjadi kejujuran tersendiri ketika saya mengungkapkannya. Dan karena memang saat itu saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan kejujuran lain, kecuali tentang ketidakjujuran itu.

Dari jawaban saya, seolah-olah tersirat bahwa kejujuran cenderung lebih berefek buruk. Stereotipe bahwa kejujuran itu selalu pahit dan sulit rupanya telah berhasil mengukirkan paradigma tersendiri bagi saya. Kejujuran adalah segala sesuatu yang akhirnya membuat saya menyesal (sekaligus lega) karena telah mengungkapkannya. (Dan ketidakjujuran, seharusnya, berarti sebaliknya)

“Gimana nih, kita mau jujur aja sama mereka tentang ‘kecacatan’ yang terjadi dalam sistem ini?” suatu hari, di sebuah ruang rapat, terdengar sebuah usul yang masih menunggu palu persetujuan.

“Nggak. Mereka nggak perlu tahu sampai sejauh itu, selama kita bisa memberikan informasi seperlunya, sebatas kapasitas mereka sebagai pihak luar,” jawab seorang yang dituakan.

“Ya,” seseorang di sampingnya mendukung, “lagian kan, kita ini panitia dan mereka cuma… Hei, panitia punya kewenangan penuh dong.”

“Atau, kita rancang sebuah skenario blah blah blah…”

Rapat pun berakhir dengan keputusan gantung.

Lalu, beberapa waktu kemudian, keputusan itu berubah. Ada keputusan baru.

Dan, setelah diutarakan, keputusan baru itu pun melahirkan keputusan berikutnya.

Keputusan berikutnya pun beranak-pinak hingga membuat para pembuat keputusan merasa lelah. Dan jengah.

Sampai akhirnya salah satu dari mereka sedikit berpikir, bahwa perubahan keputusan demi keputusan itu ternyata diakibatkan oleh sebuah ketidakjujuran. Kemudian ia mengusulkan untuk mengakhiri permainan ini dengan jalan kejujuran. Tetapi, seseorang yang mengakibatkan masalah ini terjadi tetap saja mempertahankan diri dalam ketidakjujuran dengan berbagai pertimbangan dan alasan.

X : “Ksejujuran gak harus berarti bicara blak-blakan tentang segala hal yang ada di-merah-hitamkan. Bedain dong mana jujur, mana polos. Jangan mempersulit keadaan dengan dalih kebaikan.”

Y : “Ok, katakanlah gue cuman parno. Tapi masalahnya di situ ada nama kita, nama GUE! Kalo sampe ada hal-hal buruk terjadi di kemudian hari, gue udah kehabisan kata-kata buat ngejelasinnya lagi.”

Entahlah, saya tidak tahu pilihan apa yang (akhirnya) akan mereka ambil.

Dan, saya rasa, seharusnya, kejujuran dan ketidakjujuran bukanlah pilihan, melainkan jawaban yang jelas tentang hakikat dari sebuah kebenaran.***

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s