Arsip Bulanan: Juni 2008

Sudah lama ia tak mendengar pertanyaan itu. Sudah lama ponselnya tak berbunyi dengan nada dering khusus untuk perempuan itu.

Ia merindukannya.

Apa kabar, ‘Ta?

Sudah lama pula ia tak mengucapkannya, tak mengetikkannya pada keypad dan menemukannya di sent item dalam ponselnya.

Apakah perempuan itu juga merindukannya?

Tak ada lagi yang menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan. Tak ada lagi yang mengaitkan sikutnya saat mengitari mal, mengobrak-abrik Factory Outlet dan berburu film di bioskop-bioskop di Bandung pada tanggal-tanggal merah.

Ia kehilangan.

Tak ada lagi keluh-kesah dan kisah-kisah yang bisa ia dengarkan selama jam makan siang di foodcourt tentang suasana kerja di kantor (bos dan customer yang menyebalkan, karyawan yang genit dan curi-curi kesempatan), atau tentang kegilaan dunia hiburan di Jakarta (serunya mengikuti shooting hingga tengah malam-bahkan pagi, bahagianya bertemu dengan Raffi Ahmad dan Velove Vexia, repotnya mengurusi kostum para pemain, hingga asyiknya melahap fakta-fakta tentang mereka yang tak terekspos infotainment). Tak ada lagi yang (hanya) bisa ia beri buku antologi cerpennya, juga CD tentang program TV yang pernah dibuatnya hanya karena di situ ada potongan gambar mereka berdua.

Apakah perempuan itu juga kehilangan?

“‘Ta, aku lagi suntuk banget. Lagi nggak ada kerjaan. Lagi di Bandung, nih.”

Ia menyesal telah menghapus SMS terakhir dari perempuan itu. SMS terakhir. Ia pun lupa kapan waktunya itu. Mungkin tiga atau bahkan enam bulan yang lalu. Tetapi ia tak pernah lupa dengan perempuan itu.

Ia ingin sekali menemui perempuan itu, atau sekadar menelponnya. Ada banyak pertanyaan untuknya: “Apa kabar, ‘Ta?”, “Kamu di mana, ‘Ta?”, “Apa yang terjadi?”, “Kenapa nggak pernah ngasih kabar lagi?”, “Kok semua nomormu nggak aktif, sih?”, “Apa saya perlu ke rumahmu untuk memastikan bahwa kamu baik-baik saja?”.

Ia benci setiap mendengar suara operator menjawab panggilannya untuk perempuan itu. Dan ia teramat benci berada dalam situasi begini.***

Entah kenapa istilah ini yang harus digunakan untuk menyebut kegiatan pertemuan—tatap muka (di dunia nyata) bagi orang-orang yang sebelumnya hanya saling berinteraksi di dunia maya. Padahal, secara padanan kata, Kopi artinya apa, Darat artinya ke mana. Konon, dahulu kala, sebelum teknologi internet merajalela, istilah Kopi Darat ini ngetren di kalangan orang-orang yang saling berkirim salam di radio. Ah, wallahualam…

Saya sendiri baru tahu istilah Kopi Darat (Kopdar) setelah bergabung beberapa lama dengan komunitas Kemudian.com. Itu sekitar setahun yang lalu. Dan rasanya menyesal telah melewatkan begitu saja kesempatan Kopdar Kemudianers pertama di Bandung. Tetapi akhirnya, penyesalan itu sedikit terobati seiring berjalannya waktu, beberapa Kemudianers mulai mengajak Kopdar kecil-kecilan; sekadar ketemuan di kafe. Dan, efek terbesar yang benar-benar saya rasakan dari sebuah agenda Kopdar adalah ketika menghadiri Kopdar akbar Kemudian.com yang bertajuk PERKOSAKATA2008 yang diselenggarakan di Jakarta, 6 April 2008 lalu. Mungkin tepatnya, lebih kepada kesannya yang mendalam.

Bayangkan saja, selama berwaktu-waktu kita hanya bisa chit-chat di YM! dan saling berbalas kritik-caci dan puji di akun masing-masing di Kemudian.com, membayangkan sosok-sosok manusia di seberang sana dari avatar-avatar dan tulisan yang mereka tampilkan sebagai perwakilan atas dirinya, hingga merasakan kecocokan yang membuat kita nyaman bertukar pikiran dan berkeluh-kesah, merasakan pertemanan bahkan persaudaraan yang cukup mendalam… semua itu kita lakukan di dunia maya.

Tidak adakah sedikit keinginan untuk mencocokkan segala interpretasi yang tercipta selama kita berinteraksi di dunia penuh tipu-daya itu dengan segala kondisi yang apa adanya di dunia yang lebih riil dan nyata? Tidakkah energi pertemanan yang kita rasakan ingin benar-benar kita wujudkan dalam bentuk yang lebih nyata dan berhakikat dari sekadar memandangi monitor dan memijit-mijit keyboard?

“Ah, lebih baik kita gak usah ketemuan. Gue takut lo kecewa dengan bentuk asli gue. Udah, asyikan kek gini aja kan?”

“Gue ekstrovert cuma pas waktu online doang. Aslinya gue introvert dan ngebosenin banget. Gue bingung, nanti kita mo ngomongin apaan, malah diem-dieman.”

Baca Lebih Lanjut »

Dalam situasi tersudut dan tertekan, kecenderungan manusia adalah menghindari kejujuran. Ya, tentu saja kejujuran yang jika diutarakan akan berdampak ancaman terhadap diri yang bersangkutan.

“Kalau hari ini hari jujur sedunia, apa yang akan kamu katakan padaku?” SMS dari seorang teman beberapa waktu yang lalu kembali terngiang.

Saya berpikir cukup lama waktu itu, kemudian berusaha menjawab, “Saya jujur, bahwa saya bukan orang yang jujur, setidaknya sampai saya menemukan efek terbaik dari kejujuran itu.”

Saat itu saya tidak sedang dalam kondisi tersudut dan tertekan, dan saya tidak sedang menghindari kejujuran. Bahkan ketidakjujuran yang saya miliki pun menjadi kejujuran tersendiri ketika saya mengungkapkannya. Dan karena memang saat itu saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan kejujuran lain, kecuali tentang ketidakjujuran itu.

Baca Lebih Lanjut »

Memang tidak ada hubungannya dengan kegiatan blogging yang saya jalani selama setahun pas ini. Anggap saja, ini sebagai bagian dari, katakanlah, trilogi postingan saya dalam rangka SETAHUN NGEBLOG ini.

Saya mulai aktif menulis sekitar Desember 2005, dan semakin aktif menulis, terutama cerpen, sejak bergabung dengan Kemudian.com, April 2007 hingga sekarang (Juni 2008). Dan selama perjalanan itu, alhamdulillah sudah cukup banyak cerpen dan sedikit puisi, juga sangat sedikit cerita bersambung yang saya hasilkan, dan saya publish sebagian besar di dengan review dan saran-kritik dari teman-teman sesama penulis di sana.

Berikut, daftar tulisan saya sesuai waktu posting di Kemudian.com:

Satu
Daster
Sepuluh Tahun
Surprise!!!
Cinta vs Realita
Di Kontrakan
The Amfoter
Semacam Cinta
Diamnya Dian
Elegi Mei
Dan Akhirnya…
Saya Tampan, kan?
Nihilatifa(1)
Gedung Enam Lantai(1)
Andai Kau Tahu itu, Anak-anakku
Saat Jena Bertemu Joni
e-love
2 istri 3 kekasih
Biar Aku Saja!
Nihilatifa(2)
e-love: Cinta Macm Apa?
Alasan
Cinta, Jangan Panggil Aku Cinta!
Kita Harus Menikah Dulu
Sayang, Kamu Terlalu Cantik
DZIG!
Cinta, Simfoni 3 Hati
Cinta, Bersemi di Awal Juli
Viurs
Jangan Nengok ke Belakang!
Lampu Teras Depan
Masih Tentang Cinta
Mug Hitam Alan
Eskapisme
Angka(1): Angga
Lelaki di Ruang Tamu
Angka(2): Nur
Bulan Kesiangan
Hilang
Estafet(7): Pre-Clues
Tertusuk
A Dudulz Story(4)
Pulang
Catatan Kecl Tentang Cinta
Lovaskeptika(1)
Lovaskeptika(2)
Lovaskpetika(3)
Kemudian Kami…
Tunggu Menunggu
The Phyton
Matahari Berganti
Biru-biru
Besok
Vacation
Terimakasih Banyak
Newbie
Malam Minggu Pertama
Ide-ide Edi
Foto di Dompetmu
Saya (hanya) Lelaki yang Bertanggung Jawab
Ini Terlalu Sulit (Membunuh Sang Presiden)
Saya Hanya Pemuda Desa Biasa
The “L”
Papa Baru (Om Dadun dan Toko Buku Kemudian)
Saya di PerkosaKata
Anu dalam Kepalaku
2. The Savior
Pesan
Satu Hari Sebelum Kita Berpisah
4. I’m Sorry, Niwa
Di Kebun Binatang ini …
Elegi Sebuah Rasa
Secangkir Kopi untuk Hanny
Coming Out (From The Closet)

#1. Sama Saya Saja
Entah kenapa, tiba-tiba terpikir frasa itu ketika saya harus mengetikkan judul (pertama kali) untuk blog ini. Sejak awal suka menulis, saya memang pencinta permainan kata. Ya, terlepas dari maknanya seperti apa, yang penting padanan katanya terasa pas dan unik. Dan, percayalah, ketika kata-kata itu sudah terangkai, dengan sendirinya makna itu akan datang, tanpa diundang. Sama Saya Saja, terdiri dari kata-kata yang didominasi huruf S dan A, hanya tinggal mengganti huruf ketiganya saja. Artinya sendiri, ya, sama saya saja, jangan sama orang lain atau siapa. Maksudnya, ya, kalau mau curhat, sama saya saja; mau bagi-bagi duit, sama saya saja; mau bercinta, sama saya saja (hehe, kidding). Tapi kalau mau pinjem uang, apa lagi minta uang, ya, sama bank atau orang tuamu saja. ;p

#2. Saya Seperti Perempuan
Sebuah imej, atau citra diri. Ya, buka-bukaan sajalah, sepanjang masa-masa sekolah dari SD sampai SMA, beberapa teman saya bilang (mengejek), Saya Seperti Perempuan. Sempat kesal dan sedih, kemudian saya menyadari bahwa mereka bilang Saya Seperti Perempuan karena memang saya seorang LELAKI. Dan berarti, jauh di dasar kesadarannya, betapa mereka mengakui bahwa saya seorang LELAKI. Toh jelas, kalau saya perempuan, mereka tidak akan bilang demikian. Ya, Saya Seperti Perempuan karena saya lelaki, dan tak ada perempuan yang seperti perempuan, begitu juga sebaliknya. Baca Lebih Lanjut »

Jujur, awalnya saya tidak begitu tertarik dengan hiruk-pikuk dunia maya. Bahkan saya sempat ogah-ogahan waktu teman saya mengajak ber-FS-ria hingga nge-blog. Buat apaan sih? Pikir saya, waktu itu. Satu-satunya hal yang terlintas ketika dihadapkan dengan kata “Internet” adalah… (tarik napas… tahan… lepas…) browsing hal-hal yang tidak jelas (baca: esek-esek alias Triple X ;p).

Keberhasilan pertama yang cukup membanggakan untuk orang se-gaptek saya adalah membuat akun e-mail di Yahoo!. Setidaknya, ada satu tambahan informasi ketika bertukar data identitas dengan seseorang. Berasa gaya aja, selain data-data standar berupa nama, alamat, nomor hape dan sebagainya, tiba-tiba di bawahnya ada alamat e-mail gitu. Yah, biarpun setelah memiliki akun tersebut, selama hampir berbulan-bulan alamat e-mail tersebut menganggur karena memang saya bingung bagaimana menggunakannya. (ye… tetep aje dudul).

Setelah memiliki alamat e-mail, Baca Lebih Lanjut »

Pada malam-malam panjang itu, ia terpasung dan membelah kepalanya sendiri. Ada kepingan CD dan DVD bajakan yang dibelinya dari Kota Kembang; American Pie 6 yang membuatnya bergidik, muak dan agak terangsang; American pie 7 yang membuatnya iba dan bosan. Kemudian ia menemukan draft cerpen dan novel perselingkuhannya yang mulai mengendap dan digerayangi rayap. Hasrat-hasrat yang masih berlabel haram. Cita-cita. Dan cinta terpendam.

Ranjangnya berderit-derit kala mereka bersenggama; ia dan keterjagaannya yang binal dan lebih menggebu-gebu dari sepasang pengantin baru. Sorot matanya bak mercusuar yang memata-matai penyusup pantai. Kafein telah menghitamkan hemoglobin dalam tubuhnya, hingga ia kehilangan warna merah untuk menyempurnakan lukisan tidurnya.

Tetapi, akhirnya beberapa butir Depresan berhasil membawanya pada gerbang bernama Twilight Zone. Suatu kondisi dimana dirinya tak lagi menyadari batas keterjagaan dan keterlelapan atau mimpi.

Sesaat ia menjelma Lelaki Mimpi.

Ia duduk, tetapi nampak seperti berdiri-ah, ya, begitulah yang terjadi dalam dunia mimpi, tak ada sesuatu yang pasti. Kursi-kursi tanpa kaki. Dinding yang setiap detiknya berubah warna dan pola. Gelap dan terang yang seolah nampak serupa. Tetapi ia benar-benar dihadapkan pada berlembar menu tentang mimpi aneka versi. Baca Lebih Lanjut »

03 - 06 - 08  = 21

Alhamdulillahirabbil’alamin …

Tiada yang tak patut disyukuri. Satu per sekian juta detik yang bahkan kerap tak termaknai dalam sisa-sisa kemarin yang nyaris terlupakan itu mengguratkan rasa tersendiri dalam ketersadarannya akan arti sebuah titik. Ya, titik. Sejangkau penglihatan yang memaknai dan menandai keberadaannya. Ia. Di sini, di dunia yang bernama semesta.

Di tengah harap-cemasnya menjadi DEWASA dan rasa takutnya menjadi TUA, ia belajar memahami masa KANAK-KANAKnya; mencoba mempertahankannya, dan pada akhirnya, mau tidak mau harus tinggal mengenangnya.

Karena bagaimanapun ia… sadar, bahwa 21 tidak sama dengan 12.

Ia kerap merisaukannya. Seperti ketika ia merasa benar-benar kehilangan semua masa-masa usia belasannya, untuk selama-lamanya. Bahwa menurutnya, masa itu berarti telah berakhir dan ia terlambat, bahkan sama sekali gagal akan segala hal yang ingin ia capai pada saatnya.

Padahal seharusnya, Baca Lebih Lanjut »