Hujan menurunkan perempuan bernama Hanny di depan pagar rumahnya dengan taksi kesekian di penghujung bulan. Pada saat yang sama, seekor anjing bernama Moshi melompat ke kandangnya karena suara halilintar. Dan seorang lelaki melongok dari ruang yang lain, memastikan perempuan itu lekas masuk sebelum lebih kuyup.
Moshi tak lantas ke luar ketika perempuan itu melintasinya dengan langkah lelah dan agak basah. Padahal ia tengah dilanda kesepian, dan kerinduan mendalam pada si perempuan yang lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Ah, ia merasa keberadaan sosok lelaki yang takut pada anjing itu tak berguna sama sekali. Hei, Moshi anjing yang lucu dan menggemaskan! Dan lelaki itu hanya mampu melihatnya dari kejauhan.
“Selamat malam,” perempuan itu tersenyum simpul sambil membelai rambut halus Moshi yang berwarna jingga muda karena terpaan lampu dalam kandangnya. Moshi menyahut dengan suara lembut dan gerakan kepala manjanya sebelum akhirnya tertidur pulas. Oh, hampir jam sebelas. Perempuan itu cukup tersentak seruan jam dinding yang seolah baru saja mengingatkannya akan perjalanan enam puluh kilometernya yang kali ini menghabiskan waktu satu setengah jam lebih. Arus lalu-lintas sepanjang Jakarta-Bogor malam ini lebih padat dari biasanya.
Membuka kulkas, perempuan itu akhirnya hanya meraih sebotol air mineral dan menuangkannya ke dalam gelas setelah berusaha mencari bengkuang yang seingatnya masih tersisa beberapa buah, namun ternyata sudah tak lagi berada di sana. Untuk mengobati kecewanya, ia pun berpaling pada lemari makanan dan menemukan sedadu tahu untuk sekadar menemani perjalannya ke dalam kamar.
Diam-diam, si lelaki berusaha menyalakan alat penyeduh kopi, hingga akhirnya ia dihampiri kesadaran bahwa keterasingannya dengan benda itu hanya membuatnya terlihat lebih bodoh dari yang seharusnya. Betapapun ia ingin berbuat sesuatu tanpa harus merusaknya, terlebih ia tak mau gegabah. Menyeduh kopi bukan lagi perkara sederhana untuk seseorang yang tak seberpengalaman dirinya, yang sedang berusaha menyuguhkan secangkir kopi istimewa untuk seorang pencinta kopi seberseleratinggi perempuan itu.
Si lelaki tahu bahwa perempuan itu menyukai kopi lebih dari apa pun, mencintainya lebih dari siapa pun. Ia tak perlu tahu kenapa, tetapi malam ini ia sangat perlu tahu spesifikasi kopi kesukaannya seperti apa. Menyesal ia tak pernah bertanya sewaktu mereka masih sempat saling menyapa. Dan rasanya sekarang sudah cukup terlambat untuk menyinggungnya. Lagi pula perempuan itu seperti tidak sedang ingin diusik.
Ya, ia nampak sangat lelah; dengan rutinitas dan pekerjaannya, dengan perasaannya. Begitu tiba di dalam kamar, ia langsung menjatuhkan dirinya pada tempat tidur besarnya yang penuh dengan bantal dan boneka. Menyingkirkan semuanya hingga terserak di lantai, kemudian mengambil posisi terlentang dengan dua tangan dibukakan, dan kaki yang menggantung di ujung ranjang. Matanya terpejam, bukan tidur, hanya melukis gelap yang di saat-saat tertentu terasa begitu hangat. Menajamkan telinga pada deras hujan di luar, pada teriakan-teriakan halilintar. Kepalanya menjadi sedemikian padat, serupa kotak yang nyaris kehabisan kapasitas muat. Perlahan ia merasakan dirinya mengeping dalam versi atom yang lebih kecil dari setiap detil bagiannya.
“Oh, Splinters,” desis lelaki yang masih mencoba menembus pintu kamarnya yang tak pernah terkunci itu, namun kerap sulit untuk dimasuki. Kemudian ia memutuskan kembali pada motivasi terbaiknya untuk tetap berupaya menciptakan secangkir kopi yang sempurna tanpa harus bertanya apa-apa, tanpa harus menunda lebih lama.
Dan tanpa harus mengganggunya.
Betapapun si lelaki sadar akan posisinya di sana. Ia bukan siapa-siapa, tak ada hubungan apa-apa dengannya, bahkan sama sekali tak tahu apa-apa tentang perempuan bernama Hanny itu. Hanya karena si lelaki pernah sekali waktu ditegur olehnya dengan kata-kata yang akhirnya membuat dirinya berpikir dan belajar untuk lebih menghargai sesuatu. Si lelaki yang awalnya tak cukup menerima, sempat menjadi begitu sinis padanya hingga akhirnya menemukan pembuktian secara mandiri tentang sosok perempuan itu yang sebenarnya: Hanny yang rendah hati, bersahaja dan sangat inspiratif.
Ya, akhirnya, setelah bertahun-tahun jiwanya mendesir bagai pasir kering, si lelaki bagai menemukan sebentuk oase untuk mengaliri sungai nadinya, membasahi sudut-sudut matanya (dengan segala haru-biru yang diciptakan perempuan itu). Lelaki itu jatuh hati, teramat sangat, kepadanya. Bukan berdasar apa-apa, hanya karena ia menginginkannya; merasakannya.
Ah, saat ini si lelaki tengah tersipu dengan segala perasaannya terhadap perempuan itu, sambil berusaha keras menyeduh secangkir kopi untuknya. Hanya ada rumus 3:1 dalam benaknya kala menyendok serbuk kopi dan gula dari tempatnya. Ia bahkan tak tahu harus mencampurnya dengan apa lagi, atau berapa putaran sendok yang harus ia lakukan agar tercipta secangkir kopi sempurna di malam yang luar biasa ini. Lihat, di luar hujan begitu deras, dan ia tahu perempuan itu teramat sangat menyukainya. Ya, mereka sedang melakukan upacara perayaan untuknya. Para prajurit air langit yang selalu dirindukannya itu tengah bersuka cita melipurnya, selayak sahabat dan orang-orang terdekatnya yang turut berbahagia atas sebuah momentum istimewa: malam menjelang usia 25-nya kini.
“Terimakasih, Hujan,” untuk pertama kalinya, lelaki yang teramat membenci hujan itu bersikap ramah dan tulus pada fenomena alam yang menjadi musuhnya selama bertahun-tahun itu. Bahkan kini ia berharap hujan tak lekas surut hingga besok pagi, dan berhari-hari setelahnya sampai perempuan itu merasa cukup dan sejenak membiarkan jingga menyala di langit yang masih basah. Seolah-olah ia sedang belajar menyukai apa-apa yang disukai perempuan itu. Seakan ia melupakan segala egosentrisnya, demi perempuan itu.
Perutnya mendadak sakit sesaat setelah ia mencoba menyesap kopi hasil buatannya sendiri, sebelum disuguhkan kepada perempuan itu. Entah terlalu pahit atau manis, apa pun rasanya, lambungnya tak pernah bisa kompromi dengan zat-zat yang terkandung di dalam kopi. Dan satu-satunya hal yang paling ditakutkannya adalah kafein yang bisa saja berkolaborasi dengan insomnianya menjadikan malam ini lebih panjang dari yang seharusnya. Dan pada akhirnya, lagi-lagi ia akan kehilangan sinar matahari untuk tubuhnya keesokan hari.
Tetapi, yah, malam ini sebisa mungkin menjadi milik perempuan itu.
Dengan langkah tak percaya diri, akhirnya si lelaki beringsut ke arah kamar perempuan itu, membawa secangkir kopi rasa hati, racikannya sendiri. Sesaat ia tertahan di ambang pintu, mengintip dari sela-selanya yang terbuka; perempuan itu menitikkan air mata.
Duduk menghadapi layar lap topnya sekaligus menembus kaca jendela kamarnya, perempuan itu mengetikkan sesuatu, berjeda terawangan ke langit lepas kemudian mencuri rintik hujan pada sudut matanya, kembali mengetik, dan begitu seterusnya. Si lelaki tak kuasa melangkah, bahkan ia kehilangan energi untuk tetap memepertahankan diri; hatinya bertanya-tanya sunyi: apa yang terjadi?
Cangkir kopi yang dibawanya bergetar dengan frekuensi yang mengencang. Sebelum semuanya berantakan, si lelaki lekas meletakkannya di meja terdekat dari arahnya. Kemudian ia duduk bersimpuh di depan pintu kamarnya seraya memanjatkan permohonan pada Sang Pemberi Kebahagiaan untuk lekas mengirimkan Paket Kebahagiaan Super Kilat sebagai kado ulang tahun untuknya. Berapa pun harganya akan ia bayar. Bagaimanapun, perempuan itu tak pantas bersedih, terutama di hari ulang tahunnya ini. Sebab, jika ujung sarung bantal dan punggung tangannya masih basah karena digunakan untuk menghancurkan tetes-tetes panas yang menyengat di sudut matanya, bagaimana mungkin si lelaki bisa jauh lebih bahagia darinya. Tidakkah ia tahu bahwa hidup si lelaki bisa dikatakan bergantung pada dirinya?
Ya, perempuan itu tak pernah tahu, dan tak perlu tahu apa-apa tentang diri si lelaki. Tak akan ada yang berubah pada dirinya hanya dengan satu fakta yang tidak penting itu, kecuali perempuan itu menyadari bahwa kebahagiaan hatinya bukan semata untuk hidupnya sendiri, melalinkan juga untuk hidup si lelaki, bahkan orang lain yang tidak dan belum ia ketahui.
Si lelaki tak bisa menahan diri untuk menghampiri perempuan itu. Tetapi, ah, ya, ia bukan siapa-siapa, bukan sosok yang berarti untuknya. Ia hanya seorang lelaki asing yang so’ ikut campur urusan orang lain. Seorang lelaki yang diam-diam mengintip dari balik jendela virtual dan berlama-lama singgah Di Sini, di istana cantiknya yang lebih sempurna dari replika surga yang pernah ditapakinya. Dan karena memang, bukan dirinyalah yang dinantikan perempuan itu pada malam ini. Entah siapa. Entah apa.
Tapi tak mengapa; si lelaki tak berharap lebih darinya. Hanya jika ketika ia merindukannya, perempuan itu masih tetap Berada Di Sini; masih menulis, ditemani bercangkir-cangkir kopi, menikmati hujan dan gerimis, jingga dan senja, aksara, cerita dan cinta.
Dan akhirnya si lelaki menyadari batas-batas emosionalnya cukup berakhir di sini, pada secangkir kopi yang dengan susah payah dibuatnya untuk sang perempuan yang tak pernah ingin beranjak dewasa itu.
***
Secangkir Kopi untuk Hanny
tiga sendok kopi dan sesendok gula, entahlah
formulasi yang tak cukup terpercaya
ada tetes gerimis dalam cangkirnya, mungkinkah
dari langit hatimu yang jingga
pahit, Han
semoga saya salah
maaf, hanya secangkir kopi berampas
cukup kamu pandangi saja
dan katakan bahwa kamu tak begitu menginginkannya
karena ada bercangkir-cangkir kopi yang lebih sempurna di sana
manis, Han
semoga dan selamanya
***
Selamat ulang tahun, Hanny-Splinters: You rock!***
Dadun,
Bandung, 29 Mei 2008 11:22:29

Awwwwww, cantik!!! I just love this piece *mwah mwah* Nanti hari Sabtu aku masukkan di blog-ku, yah hehehe. Thanks for the early birthday suprise
*hugs* aku suka tulisanmu ini, aku tunggu bukumu yang berikutnya, yaaaa!!! You rock! MAKASIH BANYAK, yaaa. I am sooo happy!
Ah, Hanny…. dirimu ini… T_T
[...] melompat ke atas tempat tidur, melakukan koneksi ke internet, dan membaca kembali sebuah bingkisan manis yang diterimanya lebih awal dari seorang teman. Ia tersenyum lagi ketika mengenali masa lalunya [...]