Kau datang tepat waktu saat menjemputku sore itu. Aku teramat bersyukur karena sedetik yang berarti itu benar-benar menyelamatkan hidupku. Cuaca memburuk dengan hujan dan angin yang nyaris membunuhku. Sejak dulu, dingin adalah musuh terbesarku, momok bagi paru-paruku. Tetapi saat itu kau–dan aku tahu, kecerobohanku sendirilah yang ternyata lebih berbahaya dari semua itu. Aku lupa membawa obat inhaler untuk asmaku. Sesuatu yang lebih penting dari kartu kredit itu bahkan baru kuingat saat aku benar-benar merasa kehabisan udara sore itu.
Kau lekas berlari dari mobil saat melihatku nyaris sekarat di lobi bank tempatku bekerja. Memberikan obat itu, kemudian kau menyelimutiku dengan sweater wol yang kaubawa dan kaulindungi dengan tubuhmu yang terguyur hujan. Malaikat menyeramkan dalam fantasiku telah terganti sosok yang tampan dan bersahaja sesaat setelah kurasakan napasku kembali normal.
Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menatap wajahmu. Begitu indah, pancaran sukmamu seakan memberiku sedikit bocoran deskripsi tentang surga. Kau pun selalu tak terduga. Kupikir, dari mana kau tahu aku melupakan sesuatu kemudian harus menanggung derita karenanya, sementara harimu cukup padat dengan segala aktifitas kantormu? Apakah tali batin kita sudah sedemikian terjalin? Bibirku nyaris mengucapkannya sampai kaubilang, “Si Bibi menelponku dari tadi siang karena ponselmu tak bisa dihubungi,” ah, ya, saking sibuknya bekerja, aku sampai mengabaikan ponselku hingga tak bernyawa. “Hari ini banyak meeting. Aku baru bisa ke luar beberapa saat yang lalu dan langsung pulang, kemudian menjemputmu,” lanjutnya, membuatku menyadari sesuatu.
Aku menyesal memikirkannya. Mestinya kunikmati saja saat-saat bersamamu tanpa perlu memerdulikan apa pun, termasuk apakah kau mencintaiku atau sebaliknya. Selamat, kau berhasil menghancurkan segalanya. Lagi.
Dan betapa ke-takterdugaan-mu itu pun masih dan selalu berakhir tak menyenangkan untukku. Seperti ketika kupikir kau sakit karena semalaman begadang demi menjaga dan mengkhawatirkanku yang terbaring lemah dalam kondisi demam berdarah, ternyata sakitmu justru karena keracunan makanan yang kaumakan di kantin depan kampusmu. Atau, ketika aku bahagia akhirnya kau memberiku sebuket mawar cantik malam itu dan kupikir kau sengaja membawakannya, dengan sangat menyesal harus kudengar pernyataan polosmu bahwa bunga itu “titipan” dari mamamu untukku.
Lantas, apakah keputusanmu untuk menikahiku-yang kupikir sebuah ketakterdugaan paling luar biasa yang pernah kaulakukan itu pun akan-atau telah-berakhir tak menyenangkan untukku?
Hujan membuat sore itu lebih kelam dari waktu yang sebenarnya. Sisa perjalanan pulangku akhirnya kuhabiskan dengan memandangi sisi jalan sebelah kiri. Betapapun, selalu ada bayanganmu di sana; kau yang tak bergeming, seolah kita akan mengalami kecelakaan mobil terdahsyat jika sekali saja kau menoleh ke arahku, menanyakan bagaimana keadaanku saat itu, bahkan jika kau mengecup bibir atau dahiku.
***
“Kenapa didiamkan saja? Tidak enak?” kau nampak kecewa; susu cokelat panas yang susah payah kaubuatkan tak kusentuh. Hanya kupandangi kepulan asapnya yang indah namun tak mampu kugenggam dan kumiliki, seperti dirimu. Dan aku dihantui kekecewaan ketika memikirkan alasan kenapa kau membuatkannya untukku.
“Baiklah, kubuang saja. Biar si Bibi yang membuat ulang untukmu.” Nampaknya kau tersinggung dan nyaris membawa mug putih bermotif hati warna merah itu ke arah dapur.
“Aku hanya menunggunya dingin,” tahanku.
“Percayalah, lebih enak diminum selagi panas, setidaknya ketika masih hangat.” Kata-katamu membuatku menatapmu. Ternyata kau tahu bahwa sesuatu yang mestinya dinikmati dalam keadaan panas dan hangat akan terasa tidak enak ketika sudah dingin. Ya, sama halnya dengan hubungan kita. Dan, percayalah, sikapmu yang dingin bahkan jauh lebih tidak enak daripada susu cokelat panas yang mendingin.
Kau tak mempertanyakan tatapanku yang begitu dalam, justru balas menatapku dengan reaksi yang pernah kutemukan pada keponakanku saat melihat orang asing di pinggir jalan. Aku tak sanggup melihatmu memperlakukanku seperti itu. Pelarianku adalah televisi yang berjejal sinetron stripping di malam hari. Cara ampuh untuk membuatmu pergi karena bagimu sinetron hanyalah tontonan basi. Ah, aku tak perduli. Apa pun yang kulakukan, sepertinya selalu salah di matamu, berseberangan dengan hatimu. Lagi pula, kini aku hanya sedang ingin sendirian. Di kamar ini. Berbaring sambil menikmati permainan yang paling mengasyikkan: mengganti-ganti saluran televisi sesuka hati. Sinetron A, B, C, iklan produk X, Y, Z hingga acara kontes menyanyi para selebiritis kurang terkenal yang membuatku muak. Oh, betapa munafiknya diriku yang memaki sekaligus diam-diam menikmati.
“Kupikir, bermain Play Station jauh lebih seru daripada mengacaukan remot TV.”
Suara itu …? Aku terkejut dan berusaha tak membalikkan tubuhku ke arahmu namun gagal.Ternyata kau masih di sini, duduk menyandarkan punggungmu pada tumpukan bantal sambil menatap lurus dan serius ke layar lap top-mu. Ah, aku jera memikirkan kenapa tiba-tiba kau seolah sedang mengubah kebiasaanmu. Kau memilih mengerjakan tugas kantormu di tempat tidur, di sampingku yang sedang melakukan aktivitas yang tidak kausukai dengan suara-suara mengerikan dari saluran televisi lokal yang kaubenci.
Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba aku harus mengecilkan volume televisi, bahkan hingga mematikannya. Dan aku semakin tidak mengerti kenapa tiba-tiba kau menatapku sedemikian dalam. Matamu yang dingin menajam dan perlahan terpercik kehangatan. Jantungku bereaksi, hingga payudara kiriku terasa ditendang-tendang dari dalam. Kau mendekat dan menghabisi sisa jarak diantara kita. Kedua tanganmu merangkum wajahku; secara perlahan namun pasti kau mendongakkannya ke wajahmu. Aku terpejam saat bibirmu menebar kehangatan di bibirku. Aku mendesah ketika hidungmu menghembus-hembuskan napas hangat di tengkuk, leher dan dadaku.
Oh, apa yang sedang kaulakukan? Kau tahu ini sangat dingin, tetapi malah melucuti pakaianku. Beberapa saat kemudian, kita berdua benar-benar polos telanjang seperti sepasang bayi yang baru dilahirkan di atas ranjang. Tetapi kau lebih mirip seorang petualang yang sedang berburu sesuatu dari tubuhku. Dan aku hanya sebidang tanah kosong yang tak punya apa-apa, kecuali cinta untukmu. Cinta yang berkali-kali telah kautemukan namun kerap kauabaikan karena cinta yang kauinginkan tak berada di diriku. Tetapi berada di dirinya, pada hati perempuan itu. Perempuan yang namanya kerap kausebut di sela-sela desahanmu kala kita bercinta.
Aku terlambat menyadarinya. Kini kita sudah setengah perjalanan menuju puncak kenikmatan bersama itu dan tubuh kita sudah cukup panas. Namun tak terelakan, tersisip ketakutan yang teramat sangat diantara rasa hangat dan nikmatku. Aku berharap sesaat menjadi tuli sekaligus tak perduli jika akhirnya kau mengucapkan namanya lagi.
Kau suamiku dan akulah istrimu, dan kita sepasang insan yang lebih direstui Tuhan. Setiap hari kita bersama, banyak waktu kita habiskan berdua, hampir setiap malam kupaksa kau bercinta, dan ya, kita adalah sepasang suami istri yang syah. Adapun ia, perempuan itu, betapapun kau mencintainya, ia tetap bukan siapa-siapa… Dengan berbagai cara, aku berusaha menenangkan diriku, mempertahankan kehangatan dan kenikmatan ini bersamamu.
Tetapi, hingga akhirnya kita saling menghempaskan diri dalam kelegaan dan desahan panjang, kau sama sekali tak menyebut namanya. Sulit kupercaya, tetapi memang inilah yang terjadi. Kau mulai berubah, kuharap.
Tetapi aku tetap tak bisa tidak menangis setiap kita selesai bercinta. Hanya kali ini, entahlah, mungkin aku terlalu bahagia. Untuk pertama kalinya selama enam bulan kita menikah dan bercinta hampir di setiap malamnya, kau tak menyebut namanya. Bahkan kau tak lantas meninggalkanku sendiri di ranjang setelahnya, seperti malam-malam sebelumnya. Kini kau di sampingku, memelukku dan sesekali mengecup keningku di tengah kelelahan kita.
Aku ingin berpikir bahwa kau sedang berusaha mencintaiku, menikmati saat-saat bersama seorang perempuan yang tak kaucintai namun harus kaunikahi karena keharusan yang dibebankan orang tuamu. Dan aku pun ingin menganggap keintiman yang baru saja kita lalui bukan lagi bentuk pemerkosaan atas diri kita masing-masing. Meski kulihat, matamu kembali dingin. Dan sikapmu selalu dingin.
Lalu tubuhku kembali menderita kedinginan dalam dekap hangat yang kauusahakan hingga kau terlelap dalam. Aku bangkit, berpakaian dan teringat akan susu cokelat panas yang tentunya sudah mendingin di atas meja samping tempat tidur kita. Manis, dan dingin. Tetapi masih cukup enak untuk dinikmati. Ya, seperti hubungan kita. Tidak ada yang terlambat untuk dinikmati, sekalipun hanya dingin yang tersisa. Yang terpenting adalah kita sama-sama berusaha untuk tetap menikmati kebersamaan kita. Aku tahu, kau selalu berusaha mencintaiku, dan kau tahu, aku selalu berusaha memahamimu sekaligus berpura-pura menganggap kau mencitaku. Dan meskipun kita sama-sama tahu bahwa kita hanya akan saling melukai satu sama lain dengan tetap bersama, kita tak lantas memutuskan untuk berpisah. Karena bagaimanapun kau tak bisa (baca: tak tega) meninggalkanku, dan kau tahu bawa kau dan perempuan itu tak bisa bersatu.
Ah, ya, aku benar. Perempuan itu memberimu pesan singkat tadi siang, “HARI INI AKU MENIKAH.” Kau lupa menghapusnya, atau sengaja membiarkanku membacanya?
Dan dingin pun semakin mengulitiku.***
Bandung, Rabu 21 Mei 2008 11:26:10
Tulis sebuah Komentar