Jauh di lubuk hatinya, rasa itu masih sedemikian nyata melapisi setiap dinding polosnya. Hanya seruang hampa yang tak lagi membekaskan telapak kaki seseorang pada alasnya, dan pintunya yang tak terkunci menjadi lebih rapat dari yang seharusnya. Ia kerap memilih tempat lain bernama pengingkaran.
Malam itu, seseorang mengiriminya sebuah pesan, “Hi, apa kabar? Gimana skripsinya?”
Sesaat ia terdiam, lebih terhenyak dalam rangkaian abjad yang membentuk nama si pengirim pesan daripada pesannya itu sendiri. Dari riak di matanya, tersirat bahwa nama itu lebih dari sekadar “sesuatu”.
“Baik. Baru ngajuin proposal, mudah-mudahan diterima …” ia berhenti mengetik, sementara hatinya terus mendesak untuk mengirim pertanyaan balasan, semisal ‘kamu sendiri, apa kabar? Udah mulai nyusun skripsi?’.
Tetapi jempolnya terlalu cepat menjangkau tombol kirim dan ia tak lantas menyesalinya.
Kau tak merindukannya? Sedemikian habiskah perasaan itu hingga tak berbekas setitik debu pun?
Oh, ya, sudah lama ia tuli pada suara-suara tak berbentuk. Baginya, tak ada artinya lagi berjalan dalam komando suara hati yang sunyi. Ia sedang mengejar gelar si Keras Hati, dan sejauh ini dirinya masih terlalu payah dan menyedihkan.
Tiada lagi balasan, dan tak lama kemudian ia tertidur dengan tenang setelah menon-aktifkan ponselnya.
***
Ia yakin ini hanya mimpi.
Seorang lelaki dan perempuan duduk berhadapan dengan tangan menyiku pada meja yang penuh dengan kotak berwarna-warni. Si perempuan tersenyum, dan yang lelaki mengabadikannya sedemikian dalam di hatinya. Senyuman yang bertahun-tahun menghiasi hari-hari si lelaki yang baru pertama kali mengecap jatuh hati, sekaligus patah hati.
“Apa ini?” tanya si lelaki menanggapi banyaknya kotak misterius. Si perempuan tak menjawab, lalu membuka kotak berwarna putih. Sepertinya si lelaki cukup asing dengan sesuatu yang baru saja dikeluarkan si perempuan dari kotak itu. Sepucuk surat tak beramplop, bahkan hanya selembar kertas yang tercabut dari sebuah buku catatan pelajaran.
“Oh, Tuhan,” si lelaki terpekik mana kala membaca surat yang ternyata pernah ia tulis beberapa tahun yang lalu untuk si perempuan. Sebuah pernyataan: aku suka kamu.
Lalu si perempuan mengeluarkan surat-surat lainnya dari kotak yang berbeda. Setiap kotak berisi satu surat, dan ada sepuluh kotak dengan warna yang berbeda dan telah terbuka di meja. Si lelaki semakin terharu-biru mendapati dirinya sedemikian melankolis dalam setiap torehan kata-kata di setiap suratnya.
“Apalagi ini?” tanya si lelaki saat si perempuan mengeluarkan sebuah gambar dari kotak yang lebih besar. Sebuah sketsa wajah si perempuan yang bertanda tangan si lelaki di sudut kanan bawahnya. Tercengang, si lelaki bahkan baru ingat bahwa dirinya pernah piawai menggambar sketsa wajah, kemudian berhenti ketika hatinya hancur mendapati kenyataan bahwa ia tak bisa menggambar wajah siapa pun kecuali perempuan yang ternyata tak pernah punya perasaan apa-apa padanya. Dan ia berhenti demi dapat melupakannya.
Dan terakhir, si perempuan memberikan sebuah kotak berwarna hitam kepada si lelaki, tanpa membiarkannya terbuka. Bahkan ia melarang si lelaki untuk membukanya selama ia masih berada di sana. Sebelum akhirnya si lelaki bertanya kenapa, datanglah seorang pemuda lain menghampiri mereka. Wajahnya tak terlalu asing di mata si lelaki. Pemuda itu, sahabatnya kala SMA, dan saat itu pun ia masih bersetelan putih abu dengan badge OSIS warna cokelat di saku kirinya. Lantas, si lelaki menyadari bahwa perempuan yang duduk di hadapannya pun berseragam sama, bahkan dirinya sendiri pun masih mengenakan celana abu-abunya.
Sekilas pemuda itu tersenyum pada si lelaki, kemudian mengajak si perempuan pergi. Si lelaki merasakan badai mengamuk di dadanya, dan bola salju menggelinding semakin besar, bersiap hancur di matanya. Tetapi sebelum pergi, si perempuan sempat menggenggam tangan si lelaki sambil –akhirnya- berujar, “Terimakasih banyak untuk semua yang kaulakukan. Kau berhak mendapatkan yang lebih dari semua ini.”
Si lelaki tak bisa untuk tidak menangis. Ia tak perduli lagi pada tanggapan si perempuan yang kini meninggalkannya. Sudah terlalu banyak kepedihan yang ia pendam. Sebagai lelaki, sekali-dua kali saja menangis bukan sesuatu yang rendah dan memalukan. Justru ia sedang menunjukkan betapa seorang lelaki pun memiliki perasaan. Ya, meskipun perasaan tidak harus selalu ditunjukkan dengan air mata. Ah, tetapi selama ini si lelaki sudah terlalu banyak menunjukkan perasaannya dalam berbagai bentuk dan cara. Si lelaki merasakan pandangannya semakin berkabut dan kerongkongannya tercekik pahit tatkala melihat si perempuan dan pemuda itu berjalan menjauh dan hilang ditelan cahaya keemasan. Terlebih ketika akhirnya cahaya itu meninggalkan kristal-kristal berbentuk hati sebanyak bulir embun di pagi hari. Itukah cahaya dari sepasang insan yang saling mencintai?
Sendiri, si lelaki merasa terpuruk di tengah suasana asing yang hanya menampakkan meja-kursi tempatnya berada, sedangkan selebihnya buram seperti apa yang ia lakukan pada foto-fotonya dengan efek filter Motion Blur di Photoshop.
Sebuah kotak hitam yang masih tertutup mencuri perhatiannya. Tanpa menunggu terlalu lama, ia lekas membukanya.
“Oh, …” ia tercekat saat melihat apa yang ada di dalamnya.
***
Pagi itu ia tercenung memikirkan mimpinya semalam, sampai sebuah pesan datang saat ponselnya kembali diaktifkan, “Wah, pasti diterima dong proposalmu. Sukses deh. Aku sih boro-boro nyusun skripsi, kuliahku aja berantakan gara-gara kebentur pekerjaan. O iya, beberapa orang dari agency-ku dapat beasiswa modeling ke ITALI, dan salah satunya aku. Besok aku berangkat. Doain ya. I’ll be missing you. Hehe…”
Tak ada reaksi, ia bahkan menghapus pesan dari seseorang yang pernah menjalin kasih dengannya itu. Ya, mereka pernah menjadi sepasang kekasih. Hanya sebulan mereka berhubungan, lantas kandas begitu saja tanpa alasan yang jelas. Ia sedikit merasa berdosa pada orang-orang yang pernah dikecewakannya karena keputusan sepihaknya yang selalu tanpa alasan jelas itu. Gadis itu adalah perempuan terakhir yang dipacarinya; seorang model berparas oriental yang tak sengaja dipotretnya ketika berburu panorama untuk tugas kuliahnya. Mereka berkenalan dan tak lama kemudian saling tertarik hingga menjalin hubungan. Bagaimanapun, ia terlalu tampan untuk diabaikan, terlebih ia memiliki sisi-sisi melankolis dan romantis yang mampu memikat gadis mana saja. Ya, semuanya indah pada awalnya, tetapi sayangnya tidak pada akhirnya.
“Kau tahu, aku menyayangimu. Dan karenanya, aku tak mau melukaimu dengan tetap mempertahan diri kita pada hubungan yang kurasa tak cukup adil untukmu.”
Kata-kata itulah yang diucapkannya saat mengakhiri hubungannya dengan gadis itu. Entah apa maksudnya, terlebih tak ada sebab buruk apa-apa yang membuatnya lantas mengakhiri hubungan normal dan nyaris bahagia itu. Ia tipe lelaki setia, begitu juga dengan gadis yang awalnya memang dicap kerap berganti kekasih itu. Bahkan gadis itu menyatakan diri sudah berubah semenjak mengenalnya dan benar-benar jatuh menyanginya. Tetapi… ah, ia hanya tidak mau berdusta pada siapa-siapa.
Sungguh naif, ternyata ia masih sepenuh hati mencintai perempuan itu, perempuan yang selalu membuatnya jatuh hati sekaligus patah hati. Perempuan yang wajahnya tak bisa lepas dari penglihatannya, sekalipun dalam keterpejaman dan mimpinya. Perempuan yang seolah-olah merasuk ke dalam jiwa-jiwa gadis lain yang membuatnya serupa dengan dirinya, hingga ia, si lelaki berusaha mendapatkan kembali jiwanya pada raga mereka. Dan akhirnya ketika ia sadar bahwa “perempuan” itu satu-satunya di dunia, dan “mereka” hanya sewujud replikanya, ia pun memilih mundur dan mengakhiri cinta semu-nya.
Sejak mengakhiri hubungannya dengan gadis model itu, ia tak lagi bermain hati. Memilih sendiri dan menutup diri. Belajar menapaki hari ini dan menghapus masa lalu. Tetapi, bagaimanapun ia sadar perasaan itu tak akan pernah mati, bahkan hingga ia mati pun perasaan itu akan tetap hidup. Dan ia tak kuasa membunuhnya, hanya selalu berusaha menghindarinya bahkan mengingkarinya. Ia tak mau jatuh cinta lagi karena pada akhirnya, semua perasaannya tetap sama menuju “rasa” itu. Pada perempuan itu. Lagi.
Tetapi, mimpi semalam membuatnya kembali bimbang setelah beberapa waktu ia cukup tenang karena berhasil menghalau berjuta perasaannya. Kotak hitam itu berisi sesuatu sebentuk hati berwarna merah muda menyala memancarkan cahaya.
Bilakah itu berarti bahwa perempuan itu MENGEMBALIKAN sepenuh cinta yang pernah dan selalu diberikan lelaki ini padanya? Dan apakah itu artinya…
***
NOMOR YANG ANDA TUJU SEDANG TIDAK AKTIF ATAU BERADA …
Ia nyaris putus asa karena panggilannya tak juga tersambung. Ya, gadis itu mungkin sudah berada di pesawat. Betapa ia baru menyadari bahwa SMS yang didapatnya pagi tadi adalah SMS yang pending semalaman.
Baginya, salah besar pepatah yang bilang: “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali”. Terlambat berarti terhambat, atau bahkan sama sekali tamat.
Tetapi ia tidak serta-merta jatuh cinta, lagi, pada gadis itu hanya karena si perempuan mengembalikan semua cintanya dalam mimpi semalam. Ia hanya merasa berhutang satu SMS untuk sekadar mengucapkan selamat jalan.
Dan siang ini, ia kembali menyambangi buku sketsa yang baru saja dibelinya dan menggores-goreskan pensil di permukaannya. Berharap ada wajah baru yang bisa digambarnya, dan rasa baru yang mengisi rongga jiwanya, menghidupkan kembali kehidupnya.
Ah, masih wajah perempuan itu. Lagi.***
[Bandung, 17 Mei 2008 13:07:27]
Satu komentar
Angka 8
secara sama-sama ikutan kemudian.com 
Tulis sebuah Komentar