Arsip Bulanan: Mei 2008

Entah mendapat bisikan dari mana, malam itu tiba-tiba saja saya didera keinginan untuk mengetahui nomor ponsel seseorang. Ya, seseorang yang cukup lama saya ‘idolakan’. Mendekati akhir Mei, seingat saya, pada tahun sebelumnya, tahun pertama ketika saya mulai mengenalnya, seseorang yang saya maksudkan berulang tahun. Tepatnya kapan, saya lupa.

Akhirnya saya bertanya pada seorang teman di seberang kota sana (yang saya pikir ia mengetahui nomor ponselnya), dengan jari malu-malu (ekspresi yang begitu sulit terdefinisikan dengan jari-jari tangan). Setelah semalaman menunggu, ternyata ia tidak tahu, tetapi sedikit memberi kepastian bahwa ia akan mencari tahu kemudian memberitahukan ulang.

Dan, akhirnya, ia berhasil. Thanks, temans. Baca Lebih Lanjut »

Jatuh Cinta, Ah…

Saya lupa kapan terakhir kali jatuh cinta. Bahkan kini rasanya sudah cukup sulit lagi mengidentifikasinya.

Apa itu jatuh cinta?

Suatu pagi saya terdampar di taman kota atas anjuran ibu saya. Tepatnya paksaan darinya. Yah, memang, tidur lagi setelah bangun dan sholat Subuh juga membuat badan saya pegal-pegal. Kuliah mumpung lagi libur. Dan, yah, memanfaatkan saat-saat menganggur.

Berlari kecil, mengitari taman kota berkerangkeng besi tinggi, melintasi pohon palem yang satu dengan yang lainnya, membuka sepatu dan berjalan di permukaan kerikil tajam untuk refleksi melancarkan peredaran darah, akhirnya saya lelah dan duduk di salah satu bangku besi. Menunggu keringat yang tak juga turun.

Tiba-tiba seorang gadis melintasi saya. Cantik. Menarik. Saya yakin, tidak hanya kaum lelaki saja yang membelalakkan mata ketika melihatnya. Beberapa ibu dan gadis lain yang kebetulan berada di sana pun nampak bereaksi lebih saat melihatnya. Desir-desir adrenalin yang tak bisa dibendung terasa naik ke kepala. Geliat-geliat rasa menebar ke seisi jiwa dan jantung berdetak lebih ribut dari ketika harus sprint mengejar garis finish waktu pertandingan lari di jam pelajaran olah raga kala SMA. Hahaha…

Apakah ini jatuh cinta? Baca Lebih Lanjut »

Syukurlah, entah kenapa dan bagaimana, hari itu saya merasa jauh lebih baik dari yang sebelumnya. Tentang rasa sakit ini, tentang kebimbangan ini, tentang hal-hal tak menentu ini. Yah, akhirnya saya bisa sedikit merasakan gema semangat SYUKUR dan IKHLAS yang pernah dibisikkan seseorang kepada saya. Pelan, namun bagaimanapun tak ada alasan untuk tidak mencobanya.

Oh, mungkin juga karena efek Kembang Sepatu yang dibawakan ayah saya dan temannya, yang entah kenapa begitu tersentuh tangan ajaib ibu saya, benda yang sewaktu kecil membuat saya merasa bak kupu-kupu yang senang menghisap madu manis pada bebungaan itu dapat kembali menemukan semangat, sedikit demi sedikit, meski efeknya tidak terlalu signifikan. Semangat merekalah yang menguatkan saya. Dan itu lebih dari segalanya untuk saya. Terimakasih semuanya…

Dan hari itu keadaan saya baik-baik saja. Tak ada keluh. Tak ada misuh-misuh. Ah, betapa nikmatnya bersimpuh pada pangkuan ibu sambil menggosok-gosokkan sesuatu di kepala saya. Kami berbincang tentang banyak hal, hingga bergosip tentang tetangga sebelah yang selalu bertingkah. Haduh, saya sudah berusaha menghindar tetapi memang bergosip itu sangat menyenangkan. Hahaha. Bukan gosip murahan, kok. Cuma sekadar lucu-lucuan. Yah, sama sajalah. Tapi yang terpenting momen-momen bersama ibu yang terasa begitu nikmat. Di balik sikap ketusnya menghadapi anak lelaki yang payah seperti saya, betapa ibu selalu dan selalu menyayangi saya. I love you, Mom. Baca Lebih Lanjut »

Hujan menurunkan perempuan bernama Hanny di depan pagar rumahnya dengan taksi kesekian di penghujung bulan. Pada saat yang sama, seekor anjing bernama Moshi melompat ke kandangnya karena suara halilintar. Dan seorang lelaki melongok dari ruang yang lain, memastikan perempuan itu lekas masuk sebelum lebih kuyup.

Moshi tak lantas ke luar ketika perempuan itu melintasinya dengan langkah lelah dan agak basah. Padahal ia tengah dilanda kesepian, dan kerinduan mendalam pada si perempuan yang lebih sering menghabiskan waktunya di kantor. Ah, ia merasa keberadaan sosok lelaki yang takut pada anjing itu tak berguna sama sekali. Hei, Moshi anjing yang lucu dan menggemaskan! Dan lelaki itu hanya mampu melihatnya dari kejauhan.

“Selamat malam,” perempuan itu tersenyum simpul sambil membelai rambut halus Moshi yang berwarna jingga muda karena terpaan lampu dalam kandangnya. Moshi menyahut dengan suara lembut dan gerakan kepala manjanya sebelum akhirnya tertidur pulas. Oh, hampir jam sebelas. Perempuan itu cukup tersentak seruan jam dinding yang seolah baru saja mengingatkannya akan perjalanan enam puluh kilometernya yang kali ini menghabiskan waktu satu setengah jam lebih. Arus lalu-lintas sepanjang Jakarta-Bogor malam ini lebih padat dari biasanya. Baca Lebih Lanjut »

Kau datang tepat waktu saat menjemputku sore itu. Aku teramat bersyukur karena sedetik yang berarti itu benar-benar menyelamatkan hidupku. Cuaca memburuk dengan hujan dan angin yang nyaris membunuhku. Sejak dulu, dingin adalah musuh terbesarku, momok bagi paru-paruku. Tetapi saat itu kau–dan aku tahu, kecerobohanku sendirilah yang ternyata lebih berbahaya dari semua itu. Aku lupa membawa obat inhaler untuk asmaku. Sesuatu yang lebih penting dari kartu kredit itu bahkan baru kuingat saat aku benar-benar merasa kehabisan udara sore itu.

Kau lekas berlari dari mobil saat melihatku nyaris sekarat di lobi bank tempatku bekerja. Memberikan obat itu, kemudian kau menyelimutiku dengan sweater wol yang kaubawa dan kaulindungi dengan tubuhmu yang terguyur hujan. Malaikat menyeramkan dalam fantasiku telah terganti sosok yang tampan dan bersahaja sesaat setelah kurasakan napasku kembali normal.

Sepanjang perjalanan pulang, aku tak henti menatap wajahmu. Begitu indah, pancaran sukmamu seakan memberiku sedikit bocoran deskripsi tentang surga. Kau pun selalu tak terduga. Kupikir, dari mana kau tahu aku melupakan sesuatu kemudian harus menanggung derita karenanya, sementara harimu cukup padat dengan segala aktifitas kantormu? Apakah tali batin kita sudah sedemikian terjalin? Bibirku nyaris mengucapkannya sampai kaubilang, “Si Bibi menelponku dari tadi siang karena ponselmu tak bisa dihubungi,” ah, ya, saking sibuknya bekerja, aku sampai mengabaikan ponselku hingga tak bernyawa. “Hari ini banyak meeting. Aku baru bisa ke luar beberapa saat yang lalu dan langsung pulang, kemudian menjemputmu,” lanjutnya, membuatku menyadari sesuatu.

Aku menyesal memikirkannya. Mestinya kunikmati saja saat-saat bersamamu tanpa perlu memerdulikan apa pun, termasuk apakah kau mencintaiku atau sebaliknya. Selamat, kau berhasil menghancurkan segalanya. Lagi.

Baca Lebih Lanjut »

Betapa Tuhan menciptakan manusia dengan kisahnya masing-masing. Masa lalu, saat ini dan masa depan telah sedemikian rupa diatur dan ditulis dalam takdir. Biarlah yang rahasia tetap menjadi rahasia-Nya. Dan karena manusia dilahirkan untuk menjalani hidup dan memaknainya. Hidup yang terkadang tak sesuai dengan kehendaknya, namun selalu memberikan sesuatu yang mau tak mau harus diterimanya.

Maka, hidup menjadi sesuatu yang harus dijalani, apa adanya, apa pun keadaannya.

Menjalani hidup adalah mensyukurinya. Mengeluh dan banyak bertanya justru tak akan memberikan apa-apa, kecuali kehilangan rasa cukup. Bukankah hidup itu sendiri adalah sebuah karunia dari Sang Maha Pemberi Hidup? Tidakkah hanya dengan hidup, kamu sudah merasa cukup?

Baca Lebih Lanjut »

Jika ia tak membalas SMS-mu, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: tidak ada pulsa, dan egosentrisnya sedang meruncing. Jia ia tak mengizinkanmu ke rumahnya pada hari bukan kuliah, sejak dulu hanya ada dua masalah besar padanya: ia tidak berada di rumah, dan egosentrisnya sedang meruncing. Dan jika ia terpaksa berdusta tentang sesuatu kepadamu, sejak dulu hanya ada satu masalah besar padanya: egosentrisnya sedang meruncing.

Ya, ia begitu egois.

Bahkan ia tahu karena egosentrisnya itu, beberapa orang terdekatnya merasa tersakiti. Tetapi ia bersikap tak perduli. Karena ia egois.

Jauh di dasar hatinya, ia sadar bahwa egois bukan sifat yang mencerminkan kepribadian positif seseorang. Bahwa egois adalah selalu memposisikan kepentingan diri sendiri di atas kepentingan orang lain. Bahwa dengan menjadi seseorang yang egois berarti telah membangun penjara untuk diri sendiri dan mengucilkan diri dari orang lain. Bahwa pada akhirnya, si egois tidak akan memiliki teman, sahabat, bahkan kekasih.

Baca Lebih Lanjut »

Lelaki itu masih berkutat dengan materi kuliah yang cukup terlambat dipelajarinya, bahkan dipahaminya. TERLAMBAT. Ia nyaris akrab dengan kata itu. Buku setebal 332 halaman yang ia pinjam dari perpustakaan kampusnya sejak tiga minggu yang lalu itu belum juga usai dipelajarinya. Entahlah, ia begitu ingin menguasainya, tetapi masih membiarkan rasa malas meninabobokannya. Lebih-lebih karena satu alasan klasik: ia sedang jatuh sakit. Lagi.

Tetapi ia tak pernah punya alasan untuk menolak birahinya membabi-buta dalam setiap kata-kata yang ia ketikkan di layar 14 inchi itu. Ia selalu yakin bahwa hanya dengan menulis-lah ia bisa merasa lega dan mampu mengatasi segalanya. Bahkan ketika tulisannya hanya berakhir di tong sampah atau di penjual gorengan saja, ia merasa sudah melakukan hal yang cukup signifikan untuk dirinya. Entahlah, hanya ia dan Tuhan yang paham akan maksudnya.

Mendadak monitornya berpendar-pendar lemah, seperti siaran televisi yang kehilangan sinyal siarnya. Ponsel tuanya berdering sekejap, pertanda sebuah SMS singgah.

“Maaf mengganggu. Cuma mau tanya; apa obat hati untuk dapat mengikhlaskan segala sesuatu?”

Lelaki itu berpikir sejenak, kemudian membalas, Baca Lebih Lanjut »

Jauh di lubuk hatinya, rasa itu masih sedemikian nyata melapisi setiap dinding polosnya. Hanya seruang hampa yang tak lagi membekaskan telapak kaki seseorang pada alasnya, dan pintunya yang tak terkunci menjadi lebih rapat dari yang seharusnya. Ia kerap memilih tempat lain bernama pengingkaran.

Malam itu, seseorang mengiriminya sebuah pesan, “Hi, apa kabar? Gimana skripsinya?”

Sesaat ia terdiam, lebih terhenyak dalam rangkaian abjad yang membentuk nama si pengirim pesan daripada pesannya itu sendiri. Dari riak di matanya, tersirat bahwa nama itu lebih dari sekadar “sesuatu”.

“Baik. Baru ngajuin proposal, mudah-mudahan diterima …” ia berhenti mengetik, sementara hatinya terus mendesak untuk mengirim pertanyaan balasan, semisal ‘kamu sendiri, apa kabar? Udah mulai nyusun skripsi?’.

Tetapi jempolnya terlalu cepat menjangkau tombol kirim dan ia tak lantas menyesalinya.

Kau tak merindukannya? Sedemikian habiskah perasaan itu hingga tak berbekas setitik debu pun?

Oh, ya, sudah lama ia tuli pada suara-suara tak berbentuk. Baginya, tak ada artinya lagi berjalan dalam komando suara hati yang sunyi. Ia sedang mengejar gelar si Keras Hati, dan sejauh ini dirinya masih terlalu payah dan menyedihkan.

Tiada lagi balasan, dan tak lama kemudian ia tertidur dengan tenang setelah menon-aktifkan ponselnya.

***

Baca Lebih Lanjut »

Apa yang diharapkan dari sebuah pertemuan?

Saya tidak akan lekas tidur hanya untuk memastikan jawabannya. Tetapi malam itu saya tidak bisa tidur karena justru saya tidak punya harapan apa-apa darinya. Hanya ingin bertemu, berkumpul dan melakukan segala hal yang bisa dilakukan di dunia nyata secara bersama-sama. Terlalu asyik membayangkan apa yang akan terjadi esok hari membuat saya tak juga terjerat mimpi.

***

Pagi itu, ponsel saya berdering-dering setiba saya di jok depan sebuah angkot, dan tepat ketika saya akan mengabari seseorang bahwa saya sedang dalam perjalanan. Hanya panggilan tak terjawab, lantas saya melanjutkan menulis pesan: “Angkotnya kosong banget, jadi ngetemnya lama.”

Memandangi suasana Pasar Simpang yang nampak lengang, dan menguping pembicaraan sopir angkot dengan seseorang di seberang ponselnya memberikan hiburan tersendiri di tengah suasana bosan dan perasaan bersalah terhadap seseorang yang sepertinya sudah menunggu di depan gerbang Kebun Binatang.

Terlepas dari ketakjuban saya pada seorang sopir angkot yang menggenggam ponsel high-tech saat mengemudi, ough, ia yang kira-kira sudah hampir berkepala empat itu nampak mesra memerlakukan lawan bicaranya. Saya jadi ingat ketika bagaimana adik saya menelpon kekasihnya: kamu lagi ngapain? Udah makan? Semalam tidur jam berapa? Oh, ya, aku baru aja sarapan…

Bagaimanapun, saya tepat duduk di sampingnya dan tak mungkin menutup telinga dan terpekik nyaring saat ia bilang, “Yang di rumah kayak biasa, cemberut aja kerjaannya. Dulu aku suka minta maaf biarpun itu bukan salahku. Tapi sekarang…”

Saya berusaha untuk mengalihkan perhatian sambil berjuang menolak kecurigaan: ia sedang berbicara dengan selingkuhannya. Dan, entah apakah ini sebuah kemujuran atau sebaliknya, akhirnya saya tiba di depan gerbang Kebun Binatang sesaat setelah ia bilang, “Kamu masuk angin? Emang semalam habis berapa rit? 10 rit? Ya udah, sekarang kamu mandi dulu, bersih-bersih lalu minum obat dan istirahat…” Mereka… Baca Lebih Lanjut »