Arsip Bulanan: April 2008

Aku mengirimmu pesan
dengan tanda tanya di setiap ujungnya
Tanda tanya yang serupa kail
dan kau ikannya

Aku menghangatkan kembali kenangan dalam pesan
dengan kata “kemarin” di setiap jengkalnya
Kemarin yang gerimis
dan kau pelanginya

Dan, kau membalas pesanku
dengan caramu yang masih seperti waktu itu
Cara yang mengantarkanku pada hari ini
dan kau masih matahariku

Kita berbalas pesan, semalaman
Kita pernah berhubungan, lebih dari setahunan
Entah kenapa kau harus mengirimku pesan:
“Kamu siapa?”

[Bandung, 22 April 2008 16:07:12]

Niwa pikir, setelah pindah sekolah, keadaannya akan berbeda. Ternyata, justru jauh lebih parah. Pengawasan Joe semakin ketat. Belum lagi, ini, kotak berwarna merah yang dicurigai berisi makan siang. Seperti anak TK saja, gerutunya.

Sepanjang perjalanan dari gerbang, Niwa merasa tubuhnya dihujam ratusan pasang mata, dan telinganya memerah akibat suara-suara yang mengiringi setiap jejak langkahnya. Dan satu hal yang pasti: Niwa tahu, mata Joe tidak akan melepaskannya.

Dari dalam Mercy, Joe dengan alat semacam teropong kecilnya tersenyum saat Niwa mengacungkan jari tengah padanya dari jarak puluhan meter. “Anak nakal,” umpatnya. Joe sadar bahwa gadis itu sudah cukup dewasa untuk memahami hal-hal yang dulu tak dipahaminya. Itu berarti Niwa hanya perlu sedikit kebebasan untuk bergerak, dan kepercayaan atas kemampuannya menjaga diri. Ya, Joe mengerti gadis itu butuh privasi. Ia benar: ini hanya sekolahan, bukan hutan. Ah, ini saatnya ia sedikit bersantai dengan menyalakan sound system, mendengarkan lagu-lagu Rhoma Irama sambil menyesap rokoknya dalam-dalam. Tetapi ia terpaksa me-mute-kan kabin ketika harus mengangkat telpon, “Ya, ada apa Tuan?” Baca Lebih Lanjut »

Hilir mudik kereta mimpi
Di stasiun labirin aku berdiri
Berpikul kardus-kardus kenangan
Mengantongi keresek muntahan kepahitan

Kereta mimpi menggilas sepi
Berkomplot dengan pasar disesaki kaki
Saling melempar bising, mengadu gaduh
Lenguh orgasme bianglala dan angin yang bersetubuh

Seseorang yang duduk di sebelahku: tak henti mencumbu jendela
hingga dehidrasi
Yang di hadapanku: tak henti memotret
hingga segalanya terduplikasi
Dan yang berada di kepalaku: tak henti menciptakan kereta mimpi
yang di dalamnya ada aku sendiri yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi dan aku sendiri yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi dan aku sendiri
yang dalam kepalaku:
ada kereta mimpi
dan aku sendiri
yang dalam
kepalaku:
ada kereta
mimpi
dan aku
sendiri
yang
dalam

Sebuah kerinduan yang kuat memang bisa mengalahkan apa saja. Katakanlah saya hanya seorang anak rumahan yang cukup asing dan ngeri dengan dunia luar, dan semua orang terdekat saya mengetahuinya. Maka, saya harus bisa meyakinkan hati mereka bahwa perjalanan Bandung - Jakarta bukanlah perjalanan lintas negara atau bahkan lintas rimba yang berbahaya, terlebih, saya bukan lagi bayi lelaki yang selalu nyaman mendekap diri di balik selimut merah.

Dan, kerinduan itu akhirnya membawa saya pada sebuah tempat yang tak pernah terpikirkan sebelumnya, dan bertemu dengan orang-orang yang hanya bisa saya pikirkan sebelumnya. Dalam sebuah agenda, PERKOSAKATA2008.

Saya tiba di lantai tujuh Gedung Nyi Ageng Serang bersama seorang perempuan berkaos putih. Kami saling berpandangan saat sedang berjalan menuju tempat yang sama. Saya yakin, dia sedang berpikiran sama dengan saya: are you Kemudianers? Dia pun memperkenalkan diri sebagai Brown-yang setahu saya, dia adalah member senior di kemudian.com. Lalu kami mengisi daftar hadir, dan beberapa orang yang menerima kami di sana nampak menguatkan otot mata saat melihat saya. Baca Lebih Lanjut »