Arsip Bulanan: Februari 2008

Cinta benar, “Bila emosi mengalahkan logika; terbukti, kan, banyak ruginya?”

Apa gunanya penggalan kalimat dalam film “Ada Apa dengan Cinta?” itu? Toh ternyata, saya pun tak bisa menguasai emosi atas diri saya sendiri. Ya, mereka tak pernah tahu kalimat itu–dan tak pernah menonton(film)nya. Pantas, mereka langsung meledak ketika ‘tersunut’ lembaran soal ujian yang (bagi mereka) tidak pernah diajarkan.

Bukan masalah “Kita sebagai mahasiswa harus mencari–mengeksplorasi sendiri materi-materi kuliah yang tidak diajarkan dosen sepenuhnya.” Melainkan tentang “Hei, bukankah hari ini kita ujian jam 10:30 dan kenapa baru dimulai jam 11:10? Dan, hei, tahukah kamu bahwa ternyata penyebab keterlambatan itu adalah: sang dosen yang belum menyerahkan soal berhalangan datang karena, ehm, KESIBUKAN!” Baca Lebih Lanjut »

Seorang paman dan keponakan duduk di atas sepeda motor yang selalu berkecepatan normal, sedang, bahkan nyaris lebih lambat dibanding yang lain. Tak seorang pun tahu kecelakaan itu akan menimpa mereka, kecuali beberapa orang yang pada akhirnya harus menyesali ketidakperduliaannya terhadap FIRASAT dan PETUNJUK lewat mimpi: sang paman sendiri dan anak lelakinya yang selalu risau dengan mimpi-mimpinya.

Semalam sebelum perjalanan ‘sial’ itu, sang paman bermimpi tentang sebuah mobil cary berwarna merah dan ada beberapa lembar tisu berlogo perusahaan tempatnya bekerja, di sana. Dan sehari sebelumnya, ia mendapat firasat ‘lain’ lewat darah yang tiba-tiba mengalir dari mulutnya, juga perasaan-perasaan jengah dan lelah yang tanpa sebab.

Sementara anak lelakinya bermimpi tentang acara hajatan di rumah keluarga ibunya, di Tasikmalaya sana. Nampak ibu dari si anak yang akhirnya mendapat kecelakaan dan keluarga lainnya tengah bersibuk-ria dalam suasana hajatan–entah apa.

Kejadiannya berawal dari sebuah keinginan standar seorang pengendara motor yang gemas dengan tingkah bis penumpang yang selalu bertindak sebagai raja jalanan. Dalam sebuah tanjakan, Baca Lebih Lanjut »

Saya selalu lepas kendali ketika merasa menemukan seseorang yang sehati. Sisi-sisi yang tak seharusnya saya bagi, tak lagi memiliki keharusan untuk disimpan sendiri. Pada dasarnya, saya memang senang berbagi. Saya pikir, tidak semua orang memiliki kisah-kisah yang saya alami dan mereka akan ternganga begitu mendengarnya. Tetapi saya menyadari kelemahan saya dalam membuka suara. Saya tidak bisu atau gagu, melainkan hanya agak lemah berkomunikasi verbal. Sebut saya bodoh, tulalit, idiot ketika kita berhadapan dan membicarakan suatu hal. Saya akan banyak diam, menghemat suara, menghindari perdebatan. Lebih-lebih untuk sesuatu yang kurang saya paham. Dan itu berarti diantara kita tidak (atau belum) ada kecocokan. Sebab saya hanya menjadi seseorang yang berbeda ketika (merasa) berada di ‘habitat’-nya, bertemu orang-orang yang sepaham-sepikiran.

Maka semuanya mengalir, deras. Bahkan terlalu luwes untuk ukuran seorang laki-laki. Menjadi begitu tak terkendali. Mana bisa menahan diri? Bayangkan ketika seorang pelukis disuguhi kanvas, kuas dan cat minyak bermerk, lengkap dengan objek lukisnya: seorang perempuan setengah (atau bahkan pure) telanjang. Apa yang akan ia lakukan? Ya, begitu juga dengan saya ketika seseorang mulai ‘memancing-mancing’, mengajak berbincang. Apalagi dari awal saya sudah merasakan adanya semacam ‘kedekatan’ dan ‘kecocokan’. Mungkin, sesuatu yang seharusnya menjadi rahasia akan saya katakan juga padanya. Sampai terkadang saya melupakan sang telinga yang jumlahnya lebih banyak dari mulut saya.

Setelah semuanya usai, barulah saya sadar bahwa mungkin ia menyesal mengajak saya berbincang. Lalu, istilah apa yang ia pakai untuk menyebut seorang laki-laki yang tak memberi kesempatan pada lawan bicaranya?***

[Senin, 18 Februari 2008 23:51:51]

Seharusnya saya tetap percaya bahwa fasilitas mimpi masih digunakan Tuhan sebagai media penitipan pesan. Mungkin karena selama ini saya merasa terlalu bodoh untuk meyakininya setelah banyak episode konyol yang terjadi akibat mimpi.

Dulu, saya pernah bermimpi ‘aneh’ dan berlanjut selama tiga kali berturut-turut:
1. Saya mimpi bertemu dengan kakek dan saudara perempuan yang sudah meninggal. Di sana, mereka memberi saya sebuah hadiah berupa baju berwarna putih. Tetapi kakek saya tiba-tiba melarang saya mengenakannya dan menyuruh saya pulang.
2. Saya mimpi masuk ke sebuah bangunan serba putih dan berlantai banyak. Awalnya saya menikmatinya sampai kemudian saya sadar: saya tidak bisa keluar dan di sana saya sendirian.
3. Saya mimpi mendapati KTP saya akan segera habis masa berlakunya pada 24 April 2006–sekitar sebulan dari jarak saya bermimpi.

Dari serangkaian mimpi itu, saya pun berkesimpulan bahwa saya akan MENINGGAL pada tanggal kadaluarsa KTP seperti yang disebutkan dalam mimpi terakhir. Walhasil, selama sebulan itu saya benar-benar paranoid. Dengan berwajah penuh harap-cemas, saya menceritakannya kepada keluarga dan teman-teman tercinta. Dan meminta maaf kepada mereka agar saya dapat PERGI dengan tenang.
Baca Lebih Lanjut »

 up_to_something_by_ginnyhaha.jpg
Kami menyebutnya Jujur-Berani; permainan yang cukup menantang mental dan nyali. Tidak membutuhkan peralatan apa-apa, kecuali hanya para pemainnya itu sendiri-dan kejujuran juga keberaniannya. Terakhir kali, waktu kelas 3 SMA saya melakukannya.
Peraturannya sedikit diubah; biasanya ada dua pilihan: jujur (menjawab pertanyaan) atau berani (melakukan tantangan), tetapi kali ini lebih ke JUJUR dan BERANI JUJUR.

Sore itu, sambil menunggu seorang dosen yang menjanjikan sebuah pertemuan di luar jam kuliah, seorang teman secara spontan mengusulkannya, “Kita Jujur-Berani, yuk!”

Kami berdelapan pun tak berpikir untuk menolak. Saya sendiri hanya ingin bernostalgia saja. Sedikit bersenang-senang mengisi waktu menunggu yang membosankan.

O iya, ternyata, permainan ini memerlukan sebuah BOTOL. Bisa saja, sih, tanpa botol. Hanya saja, atas inisiatif saya-yang selalu terinjeksi paham-paham dalam film yang saya tonton, biar kesan Truth or Dare-nya berasa, ya harus memakai botol.

Diputarlah… dan kepala botol untuk pertama kalinya menunjuk kepada seorang lelaki-yang bertubuh lebih besar dari kami (lelaki) berempat;
Baca Lebih Lanjut »

to_dream_by_melanotelia1.jpgBagi saya, tidak ada kejadian yang tak bisa dikendalikan, kecuali ‘takdir mutlak’ dan (ber)mimpi.
Betapa Tuhan telah mengalokasikan –setidaknya- seperempat waktu dalam hidup kita untuk sesuatu yang bahkan tidak bisa kita kendalikan; ketika kita (seakan) benar-benar berjalan, melihat, mendengar dan bertindak sesuai skenario Sang Sutradara, tak ada improfisasi, tanpa negosiasi.

Saat itulah Tuhan benar-benar sedang ‘mempermainkan’ kita, lebih dari takdir. Atau, pernahkah ada mimpi yang bisa dikendalikan? Sejauh ini, sayalah yang selalu dikendalikannya.

Dan tidak ada kejadian yang paling berlebihan, kecuali (ber)mimpi. Di sana, saya melihat segala sesuatunya menjadi berkali lipat dari yang seharusnya.

Ada tawa sempurna dan bahagia yang luar biasa ketika harapan yang urung mengunjungi kenyataan menjadi tema yang harus kita mainkan. Bahkan ada celah-celah kenikmatan yang hanya dibukakan dalam kamar impian. Dan tidak mustahil ada pula kepedihan, kecemasan dan ketakutan yang super ekstrim dalam sosok-sosok menyeramkan, kejadian-kejadian mengerikan dan kekhawatiran yang selalu menghantui kenyataan, yang bergerak dengan kecepatan super-lambat sehingga kita merasakannya sedemikian dekat, sedemikian hebat.

how_we_write_by_fatty_666.jpg
Mana, mana buku catatan? Diktat? Modul? Hand out?
Di dalam kardus. Diantara tumpukan kertas-kertas entah apa. Ah, perlu setengah hari untuk menemukannya, dan kembali merapikan yang lainnya, yang ikut terseret, terserak, terobrak-abrik. Akan setengah mati, pastinya.Sudah lama saya tidak menyentuh rak. Terlalu sesak dengan kertas-kertas yang sebenarnya sudah tidak berguna lagi, hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk diloak setelah akhirnya saya bosan memikirkan apakah mereka akan saya pertahankan atau saya campakkan. Bagaimanapun, kertas-kertas di sana selalu melewati tahap penyeleksian yang super ketat sebelum akhirnya lolos ke Jakarta dengan tiket emas.—kayak proses audisi Indonesian Idol saja, ya?Besok mau ujian, ini malam masih sempat-sempatnya bermain-main dengan kata. Mau apa lagi? Saya rasa, ritual MENGHAPAL hanya cocok untuk anak sekolah saja. Lha, mahasiswa memangnya bukan anak sekolah? Tau, ah. Mahasiswa perlu PEMAHAMAN bukan HAPALAN, bukan? Tapi memang pertanyaan bahan ujian terkadang tidak pernah lepas dari soal-soal hapalan, seperti: “Apa yang dimaksud dengan ANU?”, “Sebut dan jelaskan apasaja si ANU itu!” atau bahkan ada yang banting soal dengan melempar multiple choice, sampai B-S alias Benar-Salah.Kreatifitas mereka dalam membuat soal masih perlu ditingkatkan (alah, alah, sok tahu, nih). Terkadang, setelah semalaman kita belajar mati-matian sampai mata belekan dan mulut ileran (belajar atau ketiduran, Dun?), tahu-tahu besoknya dihadapkan dengan soal super-standar. Begitupun sebaliknya; merasa leha-leha, santai kayak di pantai, eh, ternyata itu soal ujian susahnya naudzubillah.Ya, begitulah. Namanya juga UJIAN. Susah untuk diprediksikan seperti apa bentuk wujudnya. Tetapi, pastinya setingkat jauh lebih sulit dari sebuah kehidupan yang berjalan normal. Dan mana pernah kita tawar-menawar dengan UJIAN? Mau susah, mau supersusah, ya… hadapi sajalah. Memang, ‘persiapan yang matang’ akan mempermudah kita melaluinya. Tetapi, sedikit ‘pengalaman’ pun cukup penting. (Seperti ujian dalam kehidupan)

Tidak berarti juga saya sudah paham tentang segala hal dalam perkuliahan yang akan diujikan, BESOK. Dan nampaknya besok adalah ujian dua matakuliah yang benar-benar perlu banyak hapalan dan sedikit pemahaman. Coba saya ingat-ingat apa saja yang masih tersisa di kepala… Apa, ya? Hm…? dan coba, sejauh mana pemahaman saya tentang… tentang apa, ya?… Omong-omong, besok ujian bab apa, sih?

[Minggu, 03 Februari 2008 11:11:48 PM]

hujanlagihujanlagi1.jpg

Saya memang tidak pernah suka hujan. Apa istimewanya? Bahkan waktu masih bisa bugil di halaman tanpa sedikit risih pun, saya lebih memilih melukis hujan, sendirian, daripada bergabung dengan teman-teman bermain hujan. Apalagi, selalu tidak ada yang lebih sakti dari kata-kata Mama: “Jangan main hujan, nanti sakit!” Dan saya tidak pernah menyesal dengan keputusan menjadi seorang Anak Mami yang baik.

Seseorang bilang, ia sangat menyukai hujan. Ia tak pernah membeberkan alasan kecuali hanya sedikit pemaparan betapa indahnya hujan. Betapa dramatisnya langit yang gelap mengutus pasukan air untuk menusuk-nusuk bumi. Alangkah syahdunya angin membawa nuansa kelabu ke sekitar penglihatan, dingin yang menyayat, dan melodi air yang menimpa benda-benda. Bahkan ia sampai menangkap detil tentang wiper yang berdetak ke kanan-kiri, daun-daun yang menempel di pintu mobil, sampah-sampah yang meluap dari selokan.

Saya pernah mencoba untuk belajar menyukai hujan. Tetapi, sampai sekarang saya tidak (atau belum?) menemukan apa istimewanya hujan. Bahkan lebih banyak ‘kesukaran’ yang saya alami ketika hujan: sulit bepergian (sebab saya tidak punya kendaraan yang memungkinkan digunakan waktu hujan, dan jarak dari rumah menuju tempat pemberhentian angkutan umum pun cukup jauh), tidak kuat menahan dingin, hingga tidak bisa (baca: tidak berani) menyalakan TV, komputer dan beberapa alat elektronik lain yang KONON bisa rusak dan hancur gara-gara petir.

Baca Lebih Lanjut »

Merasa terlalu sibuk sampai mengabaikan hal-hal kecil yang tidak penting namun sangat berpengaruh, terutama untuk mencari titik persembunyian terindah, tempat kekuatan bersarang. Menulis. Berkontemplasi.

Tugas, laporan, quiz, UTS dan kini menjelang UAS. Ah, hiruk pikuk mahasiswa malas yang (belakangan mulai merasa) sangat terpaksa setengah mati menjalani hari-harinya. Merasa berdosa pada orang tua yang selama ini menghidupinya, namun diam-diam meledak dalam geliat seorang pembangkang. Setidaknya memang masih dengan cara-cara yang sopan.

Sudah. Hari ini saya sedang me-rehatkan diri dari seabrek-abrek ‘pekerjaan’ yang mempersulit hidup. Seharusnya pun bukan MS. Word yang saya aktifkan, melainkan VB.Net, Macromedia Dreamweaver, Adobe Premiere dan sudah sangat harus mendalami Server dan Networking. Tetapi…

Ah, mending saya menulis, lagi. Ternyata berbeda rasanya menulis di kertas dengan di komputer. Berbeda kenikmatannya. Entah apa.

Dan mulai harus kembali ‘membenahi’ tendensi kata-kata yang seakan hilang arah. Tak lagi indah. Hampa makna.

Welcome back for me.