Arsip Bulanan: Desember 2007

Akhirnya… perhelatan itu usai sudah. Setidaknya, ini berakhir untuk saya.

Tiba saatnya berpisah. Selamat tinggal, nenek tersayang, sepupu-ponakan tercinta, teman-teman terkasih, Ciakar termanis, kenangan terindah dan perempuan tercantik yang lagi-lagi tak berhasil saya jumpai. Entah kapan lagi saya bisa kembali pulang ke sini. Tidak yakin Lebaran tahun depan bisa kembali lagi. Bukan saya tak berhati. Justru sebab saya terlalu berhati, tak cukup sanggup menghadapi semua ini. Ah, sudahlah. Jika masih berjodoh, nasib tidak akan membawa kita kemana-mana.

Yup, selamat datang Bandung lagi. Tugas-tugas dan-beban itu menanti untuk lekas ditindaklanjuti. Segala permasalahan itu ancang-ancang menerkam-ya, bukan untuk dihindari, justru untuk lekas dihadapi. Dua hari ke belakang kiranya cukup me-refresh pikiran saya, memulihkan sedikit kekuatan saya. Semoga saya siap dan mantap menghadapi hari ini dan esok hari yang selalu dihantui ketakutan dan ketidakmenentuan. Dan semoga lekas-lekas tahun depan. Saya benci saat-saat sekarang!!!

Pulang. Pulang dari pulang.

Rumah kotor dan agak berantakan. Ada sisa-sisa makanan di meja makan-membasi.

Menghangatkan kembali komputer yang sudah dua hari tak terjamahi. Mengecek kembali tugas-tugas. Berniat menyelesaikannya, namun urung sebab badan masih lelah. Menyalakan winamp saja, mendengarkan lagu-lagu Melly. Menatapi screen saver foto-foto sendiri. Narsis. Biarin! Terlentang tanpa terpejam. Menerawang ke langit-langit. Mencari kenihilan. Merasakan kenihilan. Memikirkan kenihilan. Apa-apaan? Ya, biar saja begini. Orang lelah. Orang stress.

Beberapa SMS tiba. Menanyakan kabar kedatangan. Menagih tugas-tugas.

@#$%^&***

[Selasa, 18 Desember 2007 {sekitar pukul 5 sore}]

Adakah pernikahan merupakan eufimisme dari pelarian? Atau semacam jalan pintas? Ya, daripada terjebak dalam hubungan terlarang, terjerembab ke area perzinahan… atau bahkan sudah terlanjur-daripada harus menanggung malu…?

Hushhh… jangan berpraduga sekenanya! Khususnya bagi warga kampung ini (dan di tempat mana juga), pernikahan adalah sesuatu yang teramat sakral, cukup diagungkan dan dianggap sebagai peristiwa sejarah yang sangat penting dalam perjalanan hidup manusia. Alih-alih pernikahan adalah sunnah Rasul.

Memang benar, alasan sebagian orang tua lekas menikahkan anak-anak mereka, tak lain dan tak bukan sebab takut ‘kecolongan’. Apa pun alasannya, mestinya pernikahan memang diletakkan di satu tempat teristimewa.

Tidak terasa, waktu sedemikian cepat berlalu. Kemarin, saya dan kamu masih berebut mainan, makanan, gambar-gambar, chanel TV; bahkan bertengkar gara-gara aturan dan tata cara sebuah permainan. Seperti baru kemarin, kamu mengajari saya beberapa hal: bersiul, merokok, mendekati dan merayu perempuan, hingga bermasturbasi di kamar mandi. Bahkan terasa baru semalam, kamu memperkenalkan VCD porno untuk pertama kalinya kepada saya, dan mengajak menonton bersama.
Baca Lebih Lanjut »

Ada yang tak berubah, tetapi begitu banyak hal yang sudah nampak tak lagi sama.

Wajah rumah ini kian memucat. Tubuhnya kian rapuh. Pesonanya semakin memudar.

Nenek semakin kelihatan tua. Giginya yang rapi dan bagus sudah mulai tanggal sebab setahun lalu pernah jatuh tersungkur di pematang ketika mendapat giliran pengairan untuk sawahnya. Kulitnya semakin mengeriput dan rambutnya tinggal selembar dua lembar yang kehitaman. Semakin ringkih, rikuh dan melengkung. Tetapi untungnya beliau belum pikun.

Kolam di belakang rumah sudah berubah menjadi kebun jagung dan singkong.

Di sekeliling pun tumbuh meranggas daun-daun hijau yang meninggi, menutupi pandangan ke seberang, ke arah rumah tetangga yang juga masih terikat saudara: rumah seorang gadis kecil, teman sepermainan yang kini kabarnya sudah menikah dan melahirkan seorang bayi perempuan mungil.

Ada juga rumah tetangga yang kini berganti penghuni. Sebab penghuni sebelumnya (tetangga yang dulu) satu sudah meninggal dan satu lagi gila, sementara anak-anaknya diungsikan ke rumah nenek-kakeknya di lain kampung.

Ada sebuah rumah tua yang nampak menyeramkan. Padahal dulu rumah itu selalu ramai dengan anak kecil yang bermain dan penghuninya yang cerewet. Bahkan pohon mangga dan jambu di sekeliling rumahnya sudah raib, menyusul kematian para pemiliknya. Yang satu meninggal sebab usianya yang menua. Dan satu lagi meninggal sebab tiba-tiba sakit kepala yang tak alang kepalang.

Sebuah rumah pun menghilang sebab salah satu pemiliknya meninggal. Hilang pula kolam-kolam ikan-tempat memancing sekaligus bermain bagi anak-anak kecil, tanaman-tanaman hias, tempat yang nyaman dan kerap dipenuhi banyak makanan. Hanya menyisakan sebuah kamar mandi umum yang hingga kini masih digunakan.
Baca Lebih Lanjut »

PASAR CIAWI
Tulisan itu nampak begitu menyentuh. Suasananya masih seperti dulu, tujuh-delapan tahun yang lalu. Bangunan-bangunan, toko-toko, ruko-ruko dengan bentuk dan nama yang masih sama. Saya heran, apakah semua ke-sama-an ini hanya nampak di mata saya saja?

Di sebuah toko busana, saya melihat kembali bayangan sosok itu: seorang anak lelaki yang untuk pertama kalinya membeli baju sendiri;

Ada juga seorang anak lelaki yang sebulan sekali mengunjungi toko kaset setelah berhasil mengumpulkan sisa uang jajannya;

Di toko elektronik, saya menemukan kembali dua orang lelaki yang berselisih dua puluh tahunan sedang berdiri mengamati walkman di etalase, yang akhirnya hanya membeli sebuah radio-fm kecil yang bisa dibawa kemana-mana;

Di halte itu pun muncul bayangan seorang anak lelaki berdiri dengan seorang anak perempuan menunggu angkutan pedesaan untuk pulang, usai pergi berenang kemudian berfoto di studio foto sebab si lelaki akan pergi ke (dan menetap di) Bandung esok harinya.

Dan selalu ada tubuh kecil berlari-lari ke dalam pasar, mencari sejongko pakaian muslim. Bukan untuk membeli, hanya sekedar ingin melihat seorang anak perempuan tercantik yang terkadang datang menemani orang tuanya berjualan. Padahal anak perempuan itu setiap hari dilihat dan disapanya di sekolah, di kelas yang sama. Tapi tak rela jika sedetik saja ia melewatkan kesempatan ekstra untuk bisa menatap wajah cantiknya.
Baca Lebih Lanjut »

Sedikit jengah; menempuh perjalanan berkilo-kilo meter dengan sepeda motor-dan seorang pengemudi yang belum terlalu gape. Alih-alih, santer terdengar kabar kecelakaan, terutama di “jalan ular”-jalan yang berliku-tajam.

Ah, mati kan bisa datang kapan, dimana dan pada siapa saja. Kekhawatiran yang bodoh. Jangan terlalu berlebihan, Dun! Percaya saja pada Tuhan. Dan yakinlah bahwa tidak seorang bapak pun yang tidak akan menjaga anaknya sebaik-baiknya. Bisikan-bisikan itu terus saja menyemangati.

Tapi saya masih saja khawatir. Masalahnya, saya termasuk ‘pengantuk’ yang buruk: bisa-bisanya mengantuk saat naik motor. Dan rasanya konyol saja jika terjatuh dari motor hanya gara-gara ‘nundutan’ (ngantuk hingga tertidur). Maka, untuk menyiasatinya, saya bersenandung saat kantuk itu mulai menyerang dan berkonsentrasi pada satu atau beberapa hal sekaligus. Dan setelah diingat-ingat…

DAMN!!! SAYA LUPA MENGUNCI (PINTU) RUMAH!!!

Kunci itu masih tergantung di bagian luar; cuma bayangan itu yang bisa saya ingat.

Panik.

Huh, dasar pelupa!!!

Ponsel CDMA-bapak kebetulan habis pulsa. GSM-saya, hanya cukup untuk SMS-an saja. Di kanan-kiri jalan nihil penjual voucher. Beberapa wartel malah kami lewati begitu saja. Dan saya tidak yakin, orang-orang samping rumah berada di rumah jam-jam segini. Ah, bagaimana ini???

“Dasar ceroboh! Lain kali yang teliti sebelum pergi-pergi! Untung uwak belum ke mana-mana,” omel Uwak (tante) saat saya berhasil menghubunginya lewat wartel di kaki bukit. “Jangan bilang-bilang mama-mu soal ini. Bisa habis kamu!”

Ah, syukurlah.***

[Senin, 17 Desember 2007 {sekitar pukul 8 pagi}]

Adalah eufimisme dari pelarian; atas beban-beban, masalah yang kian menumpuk. Tak ada yang benar-benar berarti, sebenarnya. Hanya saja, semua ini terasa menyiksa. Ah, rasanya saya sedang sangat tak menentu.

Menghadiri pernikahan saudara; alasan terbaik untuk pulang. Meski ada atau tanpa saya pun acara itu tetap berjalan, saya merasa senang ingin pulang. Tidak saat lebaran-tidak semua keluarga datang, atau saat libur sekolah/kuliah. Sebab acara pernikahan, saya yakin semua keluarga akan berkumpul. Maka saya ingin ikut pulang.

Kangen pada nenek satu-satunya. Pada beberapa sepupu dan teman yang tangannya pernah mencoretkan kisah di diary saya, yang diarynya pernah saya penuhi dengan kisah-kisah hidup saya. Dan pada seorang perempuan yang sampai sekarang sulit untuk saya lupakan.

Sudah hampir dua-tiga tahunan saya tidak pulang. Buat apa? Di sana terlalu banyak kenangan yang membuat saya selalu ingin menangis setiap mengingatnya. Tidak berarti semua kenangan itu pahit. Justru semakin manis, kenangan itu semakin kuat mencabik-cabik seisi hati.

Tapi sekarang, di sini terlalu banyak beban.

Kebetulan ada acara pernikahan. Sedikit refreshing, merasa senang menemukan tempat pelarian.

“Ma, saya ikut (pulang),” mama terkejut senang mendengarnya.

“Teman, maafkan saya. Sepertinya saya akan meninggalkan kota dalam dua-tiga hari ini. Saya janji, semua urusan kita dan tugas-tugas (beban) saya akan saya selesaikan sekembalinya saya nanti,” entahlah, saya tidak tahu reaksi mereka. Marah, benci atau biasa-biasa sajakah? Saya tidak perduli.

Yang jelas, saya senang, akhirnya saya (ingin) pulang.***

[Minggu, 16 Desember 2007]

11old_boy__by_pizzadreams.jpg…ialah ketika seorang lelaki dan perempuan berjalan bersama, bergandengan tangan, bermesraan, berpelukan, berciuman, bercinta, kemudian menikah-ups, adakah siklus yang terbalik?

Saya masih dan selalu berpola pikir demikian ketika konsep NORMAL dalam berpasangan disebut-sebut. Sampai di beberapa minggu terakhir ini, pemikiran saya mulai berubah. Kenapa? Apakah saya juga sudah mulai tidak normal?

Hooo… jangan salah sangka. Salah-salah, saya yang menganggap Anda tidak normal. Hayooo… apa coba?

Yah, saya tidak mau banyak berhipotesis tentang kenapa ada hal-hal yang awalnya dianggap tidak normal, kini sudah hampir dinormalisasikan (seperti data-data yang didapatkan seorang perancang sistem informasi saja ^_^), bahkan dianggap wajar dan… ya, normal-normal saja.

Ketika HAM semakin dijunjung tinggi, setiap manusia semakin mendapat pengakuan dan dukungan atas segala hak asasinya, termasuk memutuskan untuk berpasangan dengan siapa. Ya, sebut saja hubungan sesama jenis lah contoh riil-nya. Baca Lebih Lanjut »

love_is_razorblade_kiss__by_bunnis-copy.jpg

Iseng-iseng nonton SILET, kebetulan sedang membahas tingkah-polah para pasangan selebritis muda yang kian pamer kemesraan. Mencuat ‘kasus’ vidio ciuman Tomi Kurniawan - Ratna Galih, pun Bams Samsons - Tyas Mirasih. Dan muncul pula beberapa nama seleb lainnya yang tidak kalah fenomenalnya, seperti Ayudia Bing Slamet, Bunga Citra Lestari (BCL), dan… whoeverlah… (*duh, rumpi banget deh gue^^)

Ngomong-ngomong soal vidio ciuman Tomi - Ratna, rasanya para paparazi infotainment kalah cepat dengan teman saya yang sudah lebih dulu mendapatkan vidio itu, sekitar dua tahun yang lalu. Ya, kalau tidak salah, waktu itu saya masih semester 1 atau 2. Teman saya datang ke rumah membawa sekeping CD berisi vidio-vidio ‘indah’, dan salah satunya ya vidio itu tadi^^ Tapi, tapi… kalau boleh saya beropini, cewek yang ada di vidio itu bukanlah Ratna Galih seperti yang santer diberitakan. Lebih mirip… model iklan salah satu produk lotion C****, episode Black and White. Hooo… this is just my prediction… -peace-

Baca Lebih Lanjut »

 

i_love_my_computer_by_yumekigaarainu462.png

Jujur, saya baru berkenalan dengan internet sekitar awal-awal kuliah, semester satu atau dua-an. Jaman SMA, beberapa teman sempat memperkenalkan saya dengannya, berikut mengiming-imingi ‘kenikmatan’ apa saja yang dihadirkan dan ditawarkan sang internet. Tapi waktu itu saya belum tertarik, semuanya bahkan terlihat blur, abu-abu, bahkan gelap bagi saya yang notabene seorang gagap-teknologi yang hebat (*halah, predikat yang ANEH!).

Pertama mulai suka, seorang teman mengajari saya (lebih tepatnya, saya yang memaksa dia mengajari saya) membuat e-mail kemudian friendster. Dan sejak itu, setiap ke warnet, saya hanya berkutat di friendster; meng-up load foto, mengedit dan mempercantik lay out friendster, berkirim pesan dan testimonial dan sebagainya. Yah, intensitas saya di warnet pun tidak terlalu sering. Paling, hanya sebulan sekali. Dan kalau ada tugas kuliah saja, saya baru searching di Google atau Yahoo! Lagipula, saya pikir tidak akan ada orang nyasar mengirimi saya e-mail.

Sampai suatu hari, Baca Lebih Lanjut »

the_time_we_had_by_tarip.jpgTernyata, mengubah kebiasaan itu tidaklah mudah. Tidur larut - bangun siang, sudah menjadi pola hidup yang melekat dengan saya, terutama saat liburan. Yah, sebenarnya ini termasuk jenis liburan yang ‘aneh’. Nanggung, soalnya. Sebab hari Jumat dan Sabtu nanti sudah harus masuk dan UTS dua mata kuliah yang tertunda. Dan di liburan ini juga mestinya diisi dengan mengerjakan tugas-tugas kuliah yang tertunda dan laporan Kerja Praktik yang ditunda-tunda, yang semakin mendekati dead-line; tanggal 10 Desember mendatang. Haaa…

Entahlah… sepertinya saya benar-benar tidak bisa mengontrol diri saya sendiri. Mestinya saya bisa memanage diri saya sendiri, memanage waktu yang saya miliki. Tapi… setan apa yang merasuki saya hingga harus seMALAS ini?!

Tidur… tidur… tidur… cuma itu yang ada di kepala saya. Itu pula yang saya lakukan. Selebihnya, menonton TV, bahkan memutar DVD pun terasa malasss berat. Makan pun baru dilakukan jika benar-benar sudah sangat kelaparan, malah sempat mesti menunggu sakit kepala datang dulu.

Baca Lebih Lanjut »