Ada seseorang yang mengaku dirinya baik hati; selalu bersedia membantu dalam kesusahan. Begitu manis kedengarannya.
Ya, dia memang baik hati, suka membantu orang lain. Dia selalu bilang, “Ya” atau “Bersedia” atau hanya sekedar mengangguk saat orang lain minta bantuan padanya. Bahkan dia juga tidak pernah sungkan menawarkan jasa bantuan pada orang lain, sekalipun orang itu tidak memintanya. Ah, baik sekali!
Dan dia melakukan semuanya.
Tapi suatu ketika, datang seorang ‘Kawan’ padanya, meminta bantuan. Si Baik Hati mengiyakan, pertanda setuju akan membantu. Dan dia selalu bilang pada si ‘Kawan’ bahwa dia akan berusaha membantunya, mampu ataupun tidak, tetap akan membantunya.
Si ‘Kawan’ itu sempat menyimpan harapan bisa lega karena pertolongannya. Tapi kemudian si Baik Hati seakan ragu menolongnya. Dan kemudian dia seperti menyesal telah bilang, “Bersedia membantu”.
Dan diapun tidak melakukan sesuatu, kecuali hanya selalu bilang, “Saya akan membantu kamu.”
Betapa dia adalah orang yang baik hati, bukan?***




