Bahwa Saya Berbeda [bukannya aneh]

Sebenarnya, ‘berbeda’ adalah hasil diferensial [turunan] dari ‘sama’.

Karena pada dasarnya semua manusia sama: terbuat dari padu-padan jiwa dan raga. Manusia sendirilah yang cenderung saling mengkotak-kotakkan diri menjadi beraneka beda. Dan betapa perbedaan membuat hidup jauh lebih indah [bayangkan jika di dunia ini semua jenis kelamin manusia sama, atau semua warna terlihat sama, apa yang terasa?] Lanjut membaca

Saya, Takdir; Sekelumit Paradigma

Saya semakin percaya bahwa takdir lebih mendominasi hidup manusia daripada selaksa kehendak dan segala hal yang dibuat-buat. Tapi bolehkah saya berpaling dari optimisme, memasrahkan segalanya pada takdir?

Mungkin jika saat itu saya tidak ‘begitu’, saat ini keadaannya tidak akan ‘begini’. Dan betapaTuhan selalu punya rencana dan andil besar dalam setiap episode yang harus kita lalui. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita benar-benar menyadarinya.

Takdir, kausalitas dan satu set kartu ramal yang penuh misteri itu senantiasa bergulir diantara udara yang kita napaskan.***

Tentang si Baik Hati

Ada seseorang yang mengaku dirinya baik hati; selalu bersedia membantu dalam kesusahan. Begitu manis kedengarannya.

Ya, dia memang baik hati, suka membantu orang lain. Dia selalu bilang, “Ya” atau “Bersedia” atau hanya sekedar mengangguk saat orang lain minta bantuan padanya. Bahkan dia juga tidak pernah sungkan menawarkan jasa bantuan pada orang lain, sekalipun orang itu tidak memintanya. Ah, baik sekali!

Lanjut membaca

Tentang si Penerima Karma

Tahu rasanya bagaimana dicampakkan? Padahal dulu, kamu sendiri yang mencampakkan. Semua memang ada masanya. Mestinya kamu bisa lebih realistis karena perputara peran ini.

Ketika kamu me-reject panggilannya, menghapus semua SMS-nya, enggan menemuinya, mengingkari janji padanya, dan melakukan segalanya tanpa sedikitpun perasaan bersalah, mestinya kamu sudah dapat meramalkan bahwa hal serupa kelak terjadi padamu juga.

Lanjut membaca

Tentang si Seperti Perempuan

Dulu, dia selalu bersedih jika seseorang menyebutnya ‘Seperti Perempuan’. Bertahun-tahun dia coba bertahan, mencari cara menutupi keperempuanannya.

Mungkin karena dia sudah terlalu letih, semua yang dilakukannya tak lebih dari kesia-siaan. Dimana tak seorangpun yang berhenti menyebutnya ‘Seperti Perempuan’, padahal dia sudah berusaha menjadi laki-laki yang tidak seperti perempuan. Lanjut membaca