Matahari berganti ketika sore itu saya melihat kamu diantara kerumunan orang dan kendaraan. Masa lalu dan masa kini tidak akan pernah sama. Begitu juga dengan kamu. Tapi saya masih mengenal kamu, dan perasaan ini selalu sama setiap saya menatap wajah kamu—yang kini nampak berubah.
Waktu berjalan dalam kehidupan kamu; siang dan malam membantumu menemukan arti sebuah perubahan. Sementara waktu seakan terhenti bagi hidup saya: stuck.
Hanya dalam hitungan tahun yang singkat, kamu dan saya seolah tidak pernah duduk satu bangku di kelas yang sama, di sekolah yang sama. Dan yang lebih parah, semua perubahan itu mulai merentangkan jarak dan membangun sekat diantara kita, saya rasa.
Matahari berganti ketika saya sadar bahwa kamu telah berubah. Ada ketakutan yang teramat sangat dalam diri saya: bilakah perubahan itu membuat kamu mem-‘bukan siapa-siapa’-kan saya? Dan bilakah perubahan itu hanya membuat saya semakin larut dalam rasa cemburu karena telah ‘terabaikan’ waktu?
Matahari berganti ketika kita bertemu kembali. ‘Berganti’ karena dulu kita pernah bersama—sebagai teman, bahkan sahabat—dalam keadaan yang terasa berbeda dengan yang kita rasakan saat ini, setelah bertahun-tahun terpisahkan.
Selamanya, masa lalu dan masa kini tidak akan pernah sama, dan matahari boleh saja berganti, kecuali perasaan ini.***