Arsip Bulanan: Agustus 2007

Sebenarnya, ‘berbeda’ adalah hasil diferensial [turunan] dari ‘sama’.

Karena pada dasarnya semua manusia sama: terbuat dari padu-padan jiwa dan raga. Manusia sendirilah yang cenderung saling mengkotak-kotakkan diri menjadi beraneka beda. Dan betapa perbedaan membuat hidup jauh lebih indah [bayangkan jika di dunia ini semua jenis kelamin manusia sama, atau semua warna terlihat sama, apa yang terasa?] Baca Lebih Lanjut »

Ternyata kedewasaan justru membuat kita jauh lebih kanak-kanak.

Sedianya perasaan itu bukan untuk disiakan, hanya sedikit disisakan jika suatu saat terasa masih dibutuhkan. Tapi nampaknya kamu menampiknya. Saya tahu, sikap kamu mengatakan lebih dari yang mulut kamu bilang.

Sekarang kita adalah dua orang yang tidak saling mengenal. Sekarang kita saling melupakan kenangan. Dan sekarang kita sedang mencoba berjauhan.

Lucu; seperti dua balita yang bermusuhan karena sebuah mainan. Kemudian berbaikan setelah mulai jengah dengan kemarahan masing-masing.

Tapi kita adalah seorang dua-puluh-tahun dan dua-puluh-satu-tahunan yang sedang “berjaga-jarak” dengan radius yang terukur lebih jauh dari rentang Merkurius dan Pluto, padahal kita berdua masih bernapas di atas Bumi tercinta ini. Dan hanya karena sebuah “perasaan”, kita menjadi dua orang yang tidak berperasaan.

Dan kita bukan balita yang lantas berbaikan, melainkan dua orang dewasa yang kelak saling mendendam.

Saya tidak tahu, entah sampai kapan saya dan kamu mesti selalu berjauhan; menghindari tatapan, dihantui “kecurigaan”, bahkan men-tabukan perbincangan—yang saya pikir bisa menjadi pemutus radius ini.***

Matahari berganti ketika sore itu saya melihat kamu diantara kerumunan orang dan kendaraan. Masa lalu dan masa kini tidak akan pernah sama. Begitu juga dengan kamu. Tapi saya masih mengenal kamu, dan perasaan ini selalu sama setiap saya menatap wajah kamu—yang kini nampak berubah.

Waktu berjalan dalam kehidupan kamu; siang dan malam membantumu menemukan arti sebuah perubahan. Sementara waktu seakan terhenti bagi hidup saya: stuck.

Hanya dalam hitungan tahun yang singkat, kamu dan saya seolah tidak pernah duduk satu bangku di kelas yang sama, di sekolah yang sama. Dan yang lebih parah, semua perubahan itu mulai merentangkan jarak dan membangun sekat diantara kita, saya rasa.

Matahari berganti ketika saya sadar bahwa kamu telah berubah. Ada ketakutan yang teramat sangat dalam diri saya: bilakah perubahan itu membuat kamu mem-‘bukan siapa-siapa’-kan saya? Dan bilakah perubahan itu hanya membuat saya semakin larut dalam rasa cemburu karena telah ‘terabaikan’ waktu?

Matahari berganti ketika kita bertemu kembali. ‘Berganti’ karena dulu kita pernah bersama—sebagai teman, bahkan sahabat—dalam keadaan yang terasa berbeda dengan yang kita rasakan saat ini, setelah bertahun-tahun terpisahkan.

Selamanya, masa lalu dan masa kini tidak akan pernah sama, dan matahari boleh saja berganti, kecuali perasaan ini.***

Saya semakin percaya bahwa takdir lebih mendominasi hidup manusia daripada selaksa kehendak dan segala hal yang dibuat-buat. Tapi bolehkah saya berpaling dari optimisme, memasrahkan segalanya pada takdir?

Mungkin jika saat itu saya tidak ‘begitu’, saat ini keadaannya tidak akan ‘begini’. Dan betapaTuhan selalu punya rencana dan andil besar dalam setiap episode yang harus kita lalui. Kita tidak akan pernah tahu sampai kita benar-benar menyadarinya.

Takdir, kausalitas dan satu set kartu ramal yang penuh misteri itu senantiasa bergulir diantara udara yang kita napaskan.***

Ada seseorang yang mengaku dirinya baik hati; selalu bersedia membantu dalam kesusahan. Begitu manis kedengarannya.

Ya, dia memang baik hati, suka membantu orang lain. Dia selalu bilang, “Ya” atau “Bersedia” atau hanya sekedar mengangguk saat orang lain minta bantuan padanya. Bahkan dia juga tidak pernah sungkan menawarkan jasa bantuan pada orang lain, sekalipun orang itu tidak memintanya. Ah, baik sekali!

Baca Lebih Lanjut »

Tahu rasanya bagaimana dicampakkan? Padahal dulu, kamu sendiri yang mencampakkan. Semua memang ada masanya. Mestinya kamu bisa lebih realistis karena perputara peran ini.

Ketika kamu me-reject panggilannya, menghapus semua SMS-nya, enggan menemuinya, mengingkari janji padanya, dan melakukan segalanya tanpa sedikitpun perasaan bersalah, mestinya kamu sudah dapat meramalkan bahwa hal serupa kelak terjadi padamu juga.

Baca Lebih Lanjut »

Dulu, dia selalu bersedih jika seseorang menyebutnya ‘Seperti Perempuan’. Bertahun-tahun dia coba bertahan, mencari cara menutupi keperempuanannya.

Mungkin karena dia sudah terlalu letih, semua yang dilakukannya tak lebih dari kesia-siaan. Dimana tak seorangpun yang berhenti menyebutnya ‘Seperti Perempuan’, padahal dia sudah berusaha menjadi laki-laki yang tidak seperti perempuan. Baca Lebih Lanjut »

[BBB Oh... BBB]

bbb_poster_dadun.jpg

Si PENYENDIRI dan kedua pasang kekasih itu akhirnya bertemu kembali di depan studio 2, tempat dimana film akan diputar.

Kita tidak perlu lagi membicarakan tentang dua pasang kekasih dan si PENYENDIRI itu. Fokus utama kita adalah film yang mereka tonton: BBB The Movie!

Film dibuka dengan Let’s Dance Together; langsung membawa kita pada adegan CIUMAN antara Bella dan Raffi di dalam mobil, di pinggir jalan tol. Wah, sebuah opening yang MENYEGARKAN. Baca Lebih Lanjut »

[kencan macam apa?] 

Dua pasang kekasih dan seorang PENYENDIRI berada diantara hiruk-pikuk mal yang super-sibuk, dengan satu acara utama: NONTON. Si PENYENDIRI ternyata berhasil mengintimidasi mereka untuk menonton film yang sejak Kamis [26 Juli] lalu ingin ditontonnya: BBB The Movie! 

“Yakin gak bakalan tidur nonton tuh film?” tanya salah satu lelaki dari dua pasangan itu seolah telah menontonnya dan berkesimpulan bahwa film itu semujarab obat tidur. 

Si PENYENDIRI hanya tertawa, merasa yakin; mau tidak mau mereka pasti menyetujui ‘keputusan’nya. Karena bagi kedua lelaki itu, tidak terlalu penting film apa yang akan mereka tonton–Apa lagi yang lebih penting dari ‘kebersamaan’ dengan sang kekasih hati? 

Maka disetujuilah ide ‘gila’ menonton BBB The Movie! untuk pemutaran jam 19:00 WIB, sementara jam baru menunjukan angka 16 lewat sekian kala mereka bernegosiasi mengenai tempat duduk, dan membayar tiket di loket bioskop. 

Mereka punya waktu TIGA JAM untuk ‘merajut’ kebersamaan dan kemesraan, kecuali si PENYENDIRI yang mulai sibuk dan rikuh memikirkan apa saja yang akan dilakukannya selama itu. Baca Lebih Lanjut »