Arsip Bulanan: Juli 2007

tikus-dadun.gif

Mouse = tikus. Semua orang tahu itu. Padahal tuh tikus-tikus udah ta’ baikin. Tapi dasar, yang namanya tikus emang tidak berprikemanusiaan. Eh, malem tadi mereka pada asyik menggelar pesta tikus di atap! sialan! ada yang joget-joget, mabok, ngedrugs, main kejar-kejaran, petak umpet, ada juga yang sex party sampe suara desahannya kedenger menggelikan. alhasil, insomnia saya kambuh. Jam dua pagi baru tidur.

mouse-dadun.jpg

Mouse = tikus. Ya, semua orang tahu itu. Tapi mouse PC saya yang kata orang udah out of date itu sepertinya memang sudah waktunya pensiun. Dia sudah tidak mau bekerja sebagaimana mestinya. Bahkan tiap kali digunakan, si komputer langsung ngehang! sialan! jadinya, saya belajar hidup tanpa mouse–setelah sebelumnya belajar hidup tanpa cinta. alah, lagi-lagi cinta. cape’ deh…

ya, doakan saya. semoga bisa kebeli mouse baru….

Seperti inilah semuanya berproses; tanpa melibatkan satu unsur kesengajaan, saya dan kamu berkenalan dengan tidak menyebut nama satu sama lain secara formal, kemudian tanpa penegasan pada kata ‘pertemanan’ kita berjalan di bawah bayang-bayangnya yang berada pada titik opacity yang minim. Sampai sekarang.

Bahkan kita tidak punya kebersamaan yang intensitasnya mengalahkan pertemuan antara bulan dan bintang-bintang. Dan hanya ada satu-dua nama kamu tertulis di sisa-sisa catatan harian saya yang sudah dipak rapi, menunggu tukang loak datang untuk ditukar dengan beberapa lembar ribuan-dari pada harus dibakar.

Sayangnya saya lupa kapan tepatnya hari itu dimulai. Hari di mana pertama kalinya saya melihat kamu bukan sebagai seseorang yang biasa-biasa saja. Hari di mana satu detik bersama kamu terasa lebih berarti dari kebersamaan berjam-jam dengan orang-orang selain kamu. Dan hari di mana saya tidak bisa pulang dengan hati yang tenang sebelum bisa melihat kamu. Baca Lebih Lanjut »

ujian-dun.jpg

Apa yang terlintas di benak setiap orang saat mendengar kata UJIAN? Entahlah. Tapi saya jawab: biasa-biasa saja.

Saya tidak merasa sok pintar. Tidak juga terlalu percaya diri; nilai A, minimal B sudah di tangan.

Saya hanya terinspirasi seseorang yang selalu tenang dalam menghadapi segala hal. Baca Lebih Lanjut »

 Saya merasa lega. Hari itu saya benar-benar mengucapkannya; cinta. Meski ternyata…

“Maaf,” cuma itu yang dia ucap. bukan-lagi-patah-hati.jpg

Ya, kata maaf yang terdengar lebih menyayat dari sebuah hujat.

Di ruang segi empat—berkertas dinding senyum indahnya ini, saya sempat jatuh meratap. Mengubur harap.

Belajar tegar.

Jatuh cinta adalah hal yang wajar. Mencintai bukan sebuah kesalahan. Bukan pula kekalahan jika akhirnya harus bertepuk sebelah tangan. Kekalahan adalah saat kita tidak berani berterus-terang.* * *

 

Saya tidak sedang berpikir dia sudah membacanya. Hari ini saya berusaha sebiasa hari-hari biasa. Takut bermimpi tentang saat-saat luar biasa. Saya hanya mencoba mengikuti alur realita.
Dia menghindar seperti biasa. Menjauh seperti yang saya kira. Saya membiarkannya karena tidak punya hak melarangnya. Saya juga bahagia seandainya telah terbiasa. Meski sulit, saya mesti bisa.
Tapi tiba-tiba dia beranjak menghapus jarak. Mendekat. Bahkan merapat. Saya sungkan menantang hadap. Hanya menggelagap. Saat mulutnya berucap, jantung saya hampir meloncat. Ups, saya tidak boleh terjebak! Baca Lebih Lanjut »

dun-in-green.jpg

Saya seorang laki-laki, bukan perempuan tapi seperti perempuan. Sebentuk kelamin berlabel laki-laki saya miliki, yang perempuan tidak punya. Serimba rambut hitam dominan di titik-titik tubuh dan setonjol buah khuldi yang—konon—Nabi Adam menelannya bulat-bulat hingga tertahan di tenggorokan—entah kerongkongan, menjadi ciri tersendiri bahwa saya seorang laki-laki. Suara saya bahkan lebih rendah dari sendawanya perut yang kenyang. Dan apa lagi? Argh, sepertinya tidak ada lagi.

Saya seorang laki-laki, bukan perempuan tapi seperti perempuan. Hanya perasaan yang lebih halus dari helaian kapas. Hanya hati yang lebih lunak dari spirulina yang selalu bersahaja dengan tenggorokan siapa saja. Hanya kepekaan yang lebih rentan dari kekerasan. Hanya (sedikit) keanggunan yang buat sebagian orang memuakkan. Hanya karena itu mereka bilang, saya seperti perempuan.

Saya seperti perempuan, karena saya seorang laki-laki, tidak perlu disebut seperti laki-laki.* * *

 

Akhir-akhir ini saya merasa sangat BODOH! Duduk di depan monitor, memandangi benda sebentuk segiempat terbuat dari paduan kaca dan mika. Terkadang berbincang dengan orang yang BODOH. Tapi tidak semuanya BODOH. Justru menunggu sesuatu yang BODOH adalah sebuah BODOH besar!

Menunggu e-mail BODOH dari seseorang yang BODOH! yang belum tentu mengerti. Belum tentu membacanya. Belum tentu… Akh, sudahlah…

Saya memang BODOH! Mengharapkan orang yang BODOH!

BODOH!

Argh, masa BODOH!

Saya sangat membencinya

Saya tidak ingin menemuinya

Apalagi hingga bertatapan dan berbicang dengannya

Apalagi hingga jatuh cinta padanya

Dan saya yakin dia lebih membenci saya

Dia tidak ingin sekali menemui saya

Apalagi hingga bertatapan dan berbincang dengan saya

Apalagi hingga jatuh cinta pada saya

TidakKami tidak akan bisa bersama

Karena kami tidak saling suka

Apalagi saling cinta

TidakSaya tidak pernah berharap

Ada IYA dalam tidak

Apalagi benci diganti CINTA

bbb-dadun.jpg

Ngaku-ngaku cinta sama Melly. Ngaku-ngaku ngefans berat sama Melly. Ngaku-ngaku nggak bisa tidur sebelum dengerin lagunya Melly. Ngaku-ngaku satu chemistry sama Melly, sehidup semati. Tapi mana buktinya? Jangan cuma bisa ngomong doang!

 

Kalau cuma sekedar punya semua seri album pertama sampai album terbarunya Melly, kalau cuma sekedar pernah lebih dari sekali menonton film yang soundtracknya dibikin sama Melly, kalau cuma sekedar pernah bikin tulisan tentang Melly, kalau cuma sekedar nggak pernah ngelewatin aksi Melly di TV, kalau cuma sekedar bisa bertemu sama Melly di dalam mimpi, nggak perlu ngaku-ngaku fans beratnya Melly kalau belum pernah ketemu langsung sama Melly! Padahal selalu ada kesempatan buat itu. Tapi kenapa selalu terlewatkan, bahkan sengaja di lewatkan?!

 

Dulu, sempat ada tour AAdC, terus konser Eiffel I’m In Love, ada lagi malam Valentine di Gasibu yang nampilin Melly sama BBB-nya, dan yang masih anget-angetnya, Melly sama BBB-nya ngegelar acara meet and greet film Bukan Bintang Biasa di Pasir Kaliki Square. Dan semua momen penting itu mesti terlewatkan begitu saja. Entah itu karena tidak tahu, tidak sengaja, tahu tapi malas datang karena beberapa alasan dan sebagainya.

 

Sayang sekali. Padahal kemarin, hari Sabtu tanggal 30 Juni 2007 lalu, Melly nongkrong di Bandung. Nggak cuma ngehibur dengan aksi panggungnya yang so pasti dahsyat abis. Tapi juga ngadain semacam press conference, tanya jawab seputar BBB dan filmnya. Duh, sayang banget yak! Coba aja Dun dateng ke sana. Wah, nggak kebayang deh seberapa senengnya. Bakalan Dun tongkrongin dari sebelum mereka datang sampe mereka bener-bener hilang (halllagh…) Sekalian mau daftar buat jadi anggota BBB yang baru (GubraG!!!). Dun taunya dari koran Minggu. Argh… sayang. Mesti gigit jari deh.

 

Tapi ga’papalah… yang penting Dun dah punya lagu-lagunya. Dah hafal lagi! (Hebat nyak!). Dan yang paling penting juga, entar tanggal 26 Juli 2007, Dun mesti dan wajiP jadi orang pertama yang nonton BBB di biosokop Bandung! (yakin???) ya… minimal, pas hari itu banget, Dun bener-bener bisa nonton (yakin???) ya… minimal banget banget banget, pas nomat hari Senennyalah (yakin???) Yup, ini bener-bener yakin!

 

Ada yang mau ikut??? Entar Dun bayarin. Tapi tetep, duitnya mah duit masing-masing… hehe J* * * (Minggu, 01 Juli 2007 21:10:22)