Arsip Bulanan: Juni 2007

hand1.jpg

DZIG!!!

Aku tak bisa menahan diri untuk menonjok mukanya yang menyebalkan. Hari ini, untuk yang kesekian kalinya kulihat Ben berdiri di taman. Masih dengan sejuta gelagat menyebalkannya. Semakin menggugah kebencian yang lama kupendam. Memang sukar kubilang, enyah saja ia dari pandanganku biar hidupku kembali tenang. Sebab sejak ia datang, duniaku hancur berantakan. Mestinya ia sadar, tak ada tempat yang layak untuknya kecuali tempat yang jauh, di antah-berantah sana. Dan kali ini aku berhasil mengukir kepalan tanganku di mukanya.

 

“Lo apa-apaan, Zack?” erangnya.

 

“Gue benci sama lo, Ben…”

 

DZIG!!!

 

Ben membalas tonjokanku beberapa saat setelah kubilang, aku benci jatuh cinta padanya.***

pdvd_005.jpg

Selalma bumi berputar, selagi musim berganti, masih ada harapan… 

Perempuan itu bernama Ambar. Hatinya kini sedang hambar. Jiwanya digantung seseorang, meski dia tahu bagaimana cara melepaskan diri.

“Kita jadi pergi nggak sih?” tanya seorang perempuan di sebelahnya yang nampak bersinar dengan rambut keemasan.

“Jadi,” jawab Ambar dengan mata setengah fokus pada seorang lelaki di kursi yang sedang sedikit berdiskusi. Lelaki yang setahun lalu pernah bersamanya, memproklamirkan diri sebagai kekasihnya. Lelaki yang terlalu pandai menutupi perasaannya hingga segala tingkahnya menjadi kejutan tersendiri. Seperti saat tiba-tiba dia ‘nembak’ Ambar. Begitu juga saat tak ada angin dan tak ada hujan, dia memutuskan hubungannya dengan Ambar.

Lelaki itu bernama Aidan. Hatinya kini sedang tak karuan. Jiwanya digantung seseorang, meski dia tahu bagaimana cara melepaskan diri.

“Dan, kamu ada ide nggak buat tema buletin kampus minggu depan?” seorang lelaki dengan tampang serius bertanya padanya.

“Hm, menurut saya…” jawab Aidan dengan mata setengah fokus pada seorang perempuan di sebelahnya yang membuat dadanya berdebar-karena perempuan itu terus menatapnya. Perempuan yang sejak tiga bulan lalu mulai menghiasi hatinya, mengisi kehampaannya. Perempuan yang terlalu pandai menutupi perasaannya hingga segala tingkahnya menjadi tanda tanya tersendiri. Seperti saat tiba-tiba dia bilang seharian itu mencari Aidan untuk meminjam sesuatu yang dia sendiri bingung menyebutkannya. Begitu juga saat tak ada angin dan tak ada hujan, dia marah tanpa sebab setelah melihat Aidan jalan berdua dengan Ambar di sebuah pusat perbelanjaan.

* * *

“Mbar, udah jam setengah empat nih!” perempuan berambut emas itu terus mengingatkan Ambar. “Tahu bakalan gini, gue suruh mereka jemput kita aja di sini.”

“Ok, kita pergi sekarang.” Ambar menguatkan hati untuk terus melangkahkan kaki. Ke luar. Menjauh dari seseorang untuk mencoba berdekatan dengan seseorang. Sementara hatinya masih sulit terpisah dari seseorang. Lelaki bernama Aidan itu. Yang meski sudah mengucap kata putus, Ambar masih menyimpan harapan besar padanya. Karena lelaki itu pernah bilang, “Saya ingin kita berpisah bukan karena saya nggak suka dan nggak sayang lagi sama kamu. Tapi justru karena saya sangat sayang sama kamu dan nggak mau nyakitin hati kamu.”

Dan karena memang di hari-hari setelah mereka menyatakan perpisahan pun mereka masih sering jalan bersama. Masih saling menelepon dan bersms-ria. Masih bisa berkunjung ke rumah masing-masing. Dan masih sempat pergi makan dan nonton berdua.

* * *

“Dan, kalau gitu, hari Minggu nanti kita rapat di ruang redaksi buat ngebahas buletin minggu depan. Kamu mesti datang!” lelaki itu masih dengan tampang seriusnya.

“Ok, saya pasti datang. Tapi yang lainnya juga mesti datang.” Perlu digarisbawahi, yang Aidan maksudkan dengan ‘yang lainnya’ itu adalah perempuan yang kini nampak masih sedang menatapinya. Hatinya mulai sibuk berdoa agar perempuan itu bisa datang di hari Minggu nanti-jika dia nekat membolos dari gereja. Kemudian seperti biasa, Aidan mulai berspekulasi klasik: jika dia datang, berarti dia juga merasakan hal yang sama dengannya, dan sebaliknya.

Belakangan, Aidan senang melakukannya. Spekulasi klasik itu diberlakukannya dalam berbagai momen kecil sekalipun.

“Kalau saat saya kembali dari mushola ke ruang redaksi, dan dia masih ada di situ, padahal yang lainnya sudah memutuskan untuk pulang, berarti dia benar-benar menyukai saya. Tapi kalau enggak, berarti itu hanya perasaan sepihak saya saja.” Suatu hari Aidan sengaja berlama-lama di mushola, biar spekulasinya tidak asal-asalan. Dan saat dia kembali ke ruang redaksi, ternyata perempuan itu masih ada di sana. Baru beberapa detik setelah dia menyapa Aidan, dia memutuskan untuk pulang. Begitu juga di saat-saat yang lainnya.

* * *

Ambar akhirnya benar-benar pergi dengan temannya yang berambut emas itu ke sebuah kafe, menemui sepasang lelaki yang tengah menunggunya. Yang salah satunya bermaksud ‘mendekatinya’.

“Aku belum bisa kasih jawaban apa-apa. Tapi bukan berarti kita nggak bisa berteman dan jalan bareng.” Putus Ambar sedikit memberi harapan saat lelaki itu menyatakan maksudnya. Karena dia masih menyimpan harapan terhadap Aidan.

* * *

Aidan tersenyum dalam hati saat perempuan itu bilang kalau hari Minggu nanti dia pasti datang meski terlambat, seusai jam peribadatannya.

Kalaupun dia tidak datang, setidaknya saya masih punya harapan dengan Ambar yang selalu saya beri harapan. Batin Aidan.* * *

|Minggu, 24 Juni 2007 21:37:55|

 

tengadah.jpg

 

Maafkan saya, wahai langit. Sang bumi memaksa saya untuk terus menatapnya. Dalam setiap saya berjalan. Dalam setiap saya berbincang. Dan dalam setiap jantung saya berguncang.

Jangankan untuk menatapmu, menatap seseorang di hadapan pun, saya merasa segan.

Saya merasa tidak aman. Saya merasa tidak nyaman seandainya wajah ini saya tengadahkan.

Saya takut dengan mata mereka yang tajam. Menusuk-nusuk hati dan perasaan.

Saya tahu makna tatap mereka. Saya mengerti arti cibir itu. Saya juga paham tentang sebuah keengganan. Dan saya masih kurang terbiasa dengan tatap cela di mata mereka-yang tak terucap, namun sangat tersirat.

Tapi, sampai kapan saya harus seperti ini?

Tengadahlah! Tengadahlah, wahai wajah! Bukan lagi saatnya menjadi kaum terbawah yang hanya mampu melihat benda-benda di bawah sana. Bukankah segala keindahan dan kemuliaan itu ada di langit sana?

Maka tengadahlah! Tidak perlu takut dengan mereka. Bukan sebuah dosa besar menjadi seseorang yang tidak rupawan. Bukan sesuatu yang rendah menunjukan wajah yang apa adanya. Kecuali kamu menganggap dirimu sendiri rendah dengan segala kerendahan diri, bukan kerendahan hati.

Maka tengadahlah! Separuh hidup saya sudah habis dengan menatap bumi yang itu-itu saja. Jika masih ada sisa, wajah ini senantiasa tertengadah. Masa depan tidak berada di bawah, tapi jauh di depan dan di atas sana. Jangan lagi perdulikan mereka yang hanya bisa mencela tanpa mampu mencerna makna apa-apa.

Tengadahlah! Karena hanya dengan itu, semuanya akan nampak lebih indah…* * *

|Sabtu, 23 Juni 2007 23:08:18|

poster.jpg

As long as I have been living, there has never been a day without you and there never will be…

Awalnya, menonton film ini membuat saya mengantuk berat. Alasan satu-satunya kenapa saya ingin dan tetap menontonnya adalah karena film ini dibintangi Song Hye Gyo yang selalu membuat saya tergila-gila padanya. Terlepas dari ceritanya seperti apa, saya tidak perduli. Yang terpenting adalah bisa “menikmati” kecantikan Song Hye Gyo selama lebih dari seratus menit.

Hingga menjelang tiga perempat bagian, saya mulai sedikit memutar otak, mencari tahu sendiri tentang ke mana arah cerita film ini sebenarnya. Dan sedetik setelah saya menemukannya, film ini benar-benar (baru) menunjukannya. Ternyata analisis saya benar.

My Girl & I berkisah tentang seorang pemuda biasa bernama Kim Su Ho (Cha Tae Hyeon-My Sassy Girl) yang belakangan hidupnya mulai berubah setelah seorang gadis paling cantik di sekolah yang bernama Bae Su En (Song Hye Gyo) menunjukan gelagat suka padanya. Hubungan mereka pun berjalan layaknya hubungan sepasang anak SMA yang sedang jatuh cinta, dan digambarkan tanpa konflik yang signifikan, cenderung datar.

Kakek Kim Su Ho yang seorang pembuat peti mati suatu hari bercerita pada mereka tentang cinta pertamanya yang “hilang”. Mereka berdua pun kerap membahas hal itu di hampir setiap kesempatan. Dan ternyata memang kisahnya memberikan pembelajaran tersendiri bagi keduanya. Tentang hidup yang terkadang kita anggap tidak adil, padahal sebenarnya Tuhan telah mengatur segalanya sedemikian rupa adanya. Tentang cinta yang tak harus selalu saling memiliki, namun tetap indah dalam segala bentuknya. Dan tentang kematian yang bukan sebuah akhiran. Raga seseorang boleh saja mati, namun tidak dengan pikiran dan jiwanya. Terutama cinta yang tidak pernah mengenal kematian.

Film ini dibuat dengan penuh kesabaran, sepertinya. Emosinya terbangun dengan sangat perlahan. Sepertihalnya saat kita sedang menyusun puzzle yang belum jelas gambaran utuhnya seperti apa. Film bergenre seperti ini cukup berisiko tinggi dalam meraih selera pasar. Bagi kebanyakan orang mungkin saja film ini terbilang garing dan monoton. Kalau bukan karena Song Hye Gyo, saya juga tidak akan menontonnya.

Tapi tentunya film ini tidak segaring yang kita bayangkan. Nuansanya benar-benar manis dan lumayan sendu. Juga membuat kita sedikit bernostalgia ke jaman-jaman SMA di mana cinta sedang berbunga-bunganya di hati kita. Ada hal-hal yang hanya akan kita rasakan tanpa mampu kita ucapkan. Dan itu benar-benar mengesankan. Seperempat akhirnya benar-benar penuh keharu-biruan. Memancing air mata. Lebih-lebih karena makna cinta yang digambarkan begitu dalam. Dan saat itu kita akan menyadari bahwa sesuatu yang tenang benar-benar menghanyutkan.

Di Korea sendiri film ini termasuk kategori Box Office. Sayangnya di Indonesia, khususnya di Bandung ini hanya beberapa (atau mungkin malah hanya satu-satunya) bioskop yang menayangkan film ini: Blitzmegaplex.* * *

copy-of-eurotriphahaha2-copy.jpgPulang. Sebenarnya saya ingin pulang ketika yang lainnya pulang. Sejujurnya saya ingin pulang sebelum hujan datang. Dan ketika beberapa teman ‘menghadang’ di pintu keluar, saya sudah ingin pulang. 

 Tukang gorengan di pinggir jalan mengundang kami datang. Seperti biasa, saya tidak tertarik untuk menjadi pelanggan. Seperti biasa, saya sangat bernafsu meminta pada teman. Melupakan rasa tidak nyaman; yang gratisan memang lebih nikmat kan? 

Menunggu teman di persimpangan jalan tidak lagi menjadi hal yang tidak menyenangkan. Cukup terbayar dengan dua potong gorengan yang ternyata harganya mahal. Ya, lima ratus rupiah untuk sebuah gorengan liliput dengan rasa standar yang sebelum tiba di perut sudah habis mengisi sela-sela gigi dan mulut. Ide siapa ini: terus berjalan tanpa memperdulikan angkot yang memanggil, berjalan sambil berbincang, berbincang sambil berjalan.

Dua perempuan, dua laki-laki dan seorang yang masih ragu mengklasifikasikan dirinya sebagai apa itu terus berjalan sambil berbincang dan berbincang sambil berjalan.  Ada saja yang menjadi bahan pembicaraan. Terutama soal makanan. Dari mulai gorengan yang menjamur di pinggiran jalan, mie bakso, batagor, kerak telor, sampai ke masalah sumur alias susu murni.

Ngomong-ngomong soal susu murni, saya jadi berpikir lain saat melihat sebuah tenda di pinggiran jalan sekitar BSM yang kurang lebih (persisnya entah apa namanya, saya lupa lagi) bertuliskan: Warung Rasa Susu Murni. Saya membayangkan ketika masuk ke tenda itu, si penjualnya yang ternyata ibu-ibu itu langsung memperlihatkan dua susunya yang berlainan rasa: kanan-coklat, kiri-stroberi. Oups… 

Kita ini manusia apa sebenarnya. Tidak perdulikah dengan sebuah fenomena alam yang luar biasa? Andai saja saya bisa mengabadikan momen itu dengan baik. Perubahan warna langit yang semula biru muda terang menjadi biru gelap hingga menghitam. Ah, sesuatu yang sangat indah namun sayang sering terabaikan. Tahu-tahu hari sudah malam. 

Kaki ini sebenarnya sudah lelah melangkah. Angin sudah mulai tak bersahabat dengan saya. Maka jaket hitam yang sebelumnya saya ikat di leher kini saya kenakan. Seberapa jauh lagi kita akan melangkah? Tapi tidak bisa dipungkiri malam ini memang indah. Bukan, bukan berarti saya lewatkan dengan seseorang yang indah menurut mata dan hati saya. Bukan sama sekali. Bahkan sudah lama saya tidak berpikir lagi soal itu. Sudahlah, jangan ingatkan saya padanya. Saya sedang ingin menikmati saat-saat luar biasa ini dengan mereka, teman-teman tercinta. 

Konyol. Benar-benar konyol. Jurus jitu melupakan sedikit kegalauan tentang usia kepala dua yang bagi saya cukup ‘mengganggu’. Ada baiknya memang kita merasa kanak-kanak selamanya. Cekikikan sambil menjorok-jorokan kepala seseorang, berlari berkejaran di trotoar, menelepon teman lewat telepon umum yang tidak penting, hingga saling mengerjai dengan berjalan di belakang salah satu dari kita lalu bersembunyi di balik benteng sambil tertawa puas melihat dia kebingungan mencari kita. Hmmm… sungguh momen yang LUAR BIASA!!! 

Sekali lagi, kita ini manusia macam apa sebenarnya. Tidak bisakah menghitung jejak langkah yang telah kita ambil? Untung ada penunjuk waktu yang memberi tahu. Tadi kita pergi sekitar setengah enam kurang, dan kini tiba di depan angkot yang benar-benar akan kita tumpangi ini sudah jam enam lebih lima belasan.* * *

coklat-stroberi.jpgBeberapa hari yang lalu, tepatnya Jumat 15 Juni 2007, saya seperti mendapat ‘bisikan’ untuk menonton film berjudul “Coklat Stroberi”. Tanpa mesti terlalu banyak pertimbanga, hari itu juga saya langsung pergi ke 21 terdekat. Saya sempat berbohong; bilang mau pergi kuliah. Padahal sebenarnya hari itu memang tidak ada jadwal kuliah. Dan saya sempat takut kebohongan itu akan berbuah petaka. Tapi untungnya malah berbuah bahagia.

Jujur, niatan saya memang untuk pergi nonton (catatan: nonton sendiri dengan duit sendiri—tetep pemberian orang tua). Karena seperti ada kesan kalau saya ini ‘cowok bayaran’ yang artinya pelit, ga mau rugi, ga mau keluar duit kalau jalan. Ya, untuk kasus-kasus tertentu hal itu memang berlaku. Tapi jangan selalu samakan saya dalam berbagai kesempatan, pliiiss!!! Saya juga manusia yang punya kemaluan besar. Jadi, niat saya kali ini memang pergi nonton sendiri dengan uang sendiri.

Memang dasar rezeki, tidak disangka dan tidak diduga, kasir loket bioskopnya itu adalah teman dekat sepupu saya. Singkat kata singkat cerita, saya mendapatkan free pass nonton Coklat Stroberi.

“Nanti kamu masuk Studio 5, jam 2.55, tempat duduknya C5!”

Semuanya berakhiran angka 5! Gerangan ada apa dengan angka 5? Perasaan, ramalan bintang saya minggu kemarin tidak menyebutkan angka 5 sebagai angka keberuntungan. (plis deh, hare gene maseh percaya ramalan bintang?!)

KEREN! Cuma satu kata itu yang bisa mewakili film Coklat Stroberi. Sumpah! Ga rugi nonton tuh film, ga rugi ngeluarin duit… eh, maksudnya kalau misalnya tadi bayar Rp. 15.000 juga ga bakalan rugi.

Ceritanya dimulai saat Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy) kelabakan membayar uang kontrakan. Pemilik kontrakan yang diperankan Tike Priatnakusuma itu akhirnya mengambil sikap, bahwa untuk meringankan beban biaya kontrakan mereka, perlu dimasukkan dua orang penghuni baru di rumah itu. Dan ternyata dua penghuni baru itu adalah Nesta (Nino Fernandez) dan Aldy (Mario Merdithian) yang menyimpan rahasia tersendiri. Konflik dibangun saat Key dan Nesta saling jatuh cinta dan Aldy yang cenderung posesif menyimpan kecemburuan mendalam akan kedekatan Key dan Nesta. Sementara Citra yang mati-matian mencari perhatian Aldy malah diabaikannya.

Lalu, Coklat Stroberi? Coklat itu mewakili sikap cowok yang maskulin dan umumnya macho. Sedangkan stroberi adalah tipikal cowok yang berhati pinky, lemah gemulai, dan cenderung feminin. Hingga muncullah pertanyaan: Lu Coklat? Stroberi? Atau Coklat Stroberi?

Film ini memberikan kita sedikit pelajaran tentang hidup. Maknanya lumayan dalem juga. Dan menariknya, gaya penyampaiannya cenderung lugas dan ringan sekaligus dibumbui candaan segar yang menghibur. Mesti nonton deh, baru ngeh. Lumayan, buat perbendaharaan pembelajaran tentang hidup. Jangan dilihat dari segi homoseksualnya. Tapi justru dari sisi-sisi kemanusiaannya. Ada hal-hal yang memang tidak tersentuh dengan kata-kata semata melainkan kepekaan rasa.

Tapi semenarik dan sekeren apa pun film ini, tetap Ada Apa dengan Cinta? juaranya. Dian Sastro emang The Best. Melly Goeslaw paling yahut!

Nyambung ke Coklat Stroberi. Tadi waktu di angkot, ada seorang anak yang cukup menarik perhatian kita, para penumpang. Saya yakin, dalam benak masing-masing tumbuh sebuah tanya: anak ini laki-laki atau perempuan? Wajahnya imut, manis, dengan tekstur dan raut halus serta berwarna terang. Tubuhnya juga tidak kalah imut. Rambutnya hanya sedikit mengintip dari topi sweaternya yang lumayan besar hingga menutupi sedikit bagian bawah tubuhnya yang membuat sebagian orang bertanya-tanya, anak ini mengenakan rok atau celana? Saya sempat melihat waktu anak itu masuk dengan teman lelakinya yang nampaknya satu SMP dengannya, anak itu memakai celana biru, seragam sekolahnya. Tapi tetap tanya itu ada. Anak itu memang seperti anak perempuan. Dari cara bicaranya yang lembut, caranya memainkan ekspresi muka hingga cara duduknya yang merapat dan menyamping memberi tanda kalau dia seorang wanita.

Wallahu’alam… siapa dia. Yang jelas dia hanya seorang manusia dengan segala kurang dan lebihnya. Coklatkah, stroberikah atau coklat stroberikah dia, tentunya bukan urusan kita, apa lagi saya.

Tapi, dia itu sebenarnya laki-laki atau perempuan???* * *   

(Selasa, 19 Juni 2007 22:02:12)

melly.gif 

Jika teringat tentang dikau, jauh di mata dekat di hati. Tak terasa malam kini semakin larut, (a)ku masih terjaga. Mencintaimu: hati hampa kini terisi. Hanya kau pelipur laraku. Selama kau pergi tak ada lagi teman dalam sepiku.

Pertama kali aku tergugah dalam setiap kata yang kau ucap. Hatiku pun bergetar bagai terserang rindu. Di dekat engkau aku tenang, bersamamu aku senang. Inginku bersuara, merangkai semua tanya imaji yang terlintas: Seseorang itu-kah dirimu, kasih?

Ternyata aku cinta (kepadamu). Sinarmu menyilaukanku. Demi Tuhan, aku tergoda. Begitu kurasa berbeda setelah cinta ini kau sentuh. Dunia yang dulu sepi, kini t(e)lah berubah. Kutemukan kepingan hatiku yang hilang. Keyakinan semua tentang cinta kembali tumbuh di hati.

Aku tak bisa jelaskan mengapa bisa begini. Betapa rindu ini tak pernah mati. Jarak membentang tak urungkan niat menanti kekasih—setianya aku. Dahsyatnya perasaan cinta ini kepadamu. (Tapi) pernahkah engkau merasakan rindu sampai menggigil sepertiku kini?Menghitung hari: detik demi detik. Sampai kapan kau gantung cerita cintaku? Beri kepastian biar kulebur semua.

ininyadadun-128.jpgDeskripsi paling sederhana untuk seorang saya: bukan siapa-siapa. Semua orang tahu dia siapa dan saya bukan siapa-siapa. Karenanya mereka tidak mau tahu tentang saya.

Karenanya saya pun tidak mau tahu tentang mereka.

Karenanya saya mulai mencari tahu siapa saya.

Pada seorang wanita luar biasa saya bertanya, siapa saya. Adalah seorang manusia berkelamin pria, katanya. Saya juga bertanya pada seorang pria paling bijaksana, siapa saya. Adalah seorang manusia berkelamin pria, katanya. Ya, saya adalah ia. Itu saja.

Saya pun menjadi tidak begitu perduli siapa saya. Hidup ini sendiri adalah saya yang patut disyukuri. Lebih mesti saya perduli akan siapa yang menciptakan saya. Dialah Tuhan saya, Tuan saya, Majikan saya, Segalanya bagi saya. Dan Dialah satu-satunya yang paling layak dianggap Siapa-Siapa.

Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Kulit pembungkus diri ini, rangka penopang dan penggerak tubuh ini, otak dan syaraf pengendali jiwa dan raga ini bukan semata-mata milik saya. Posesifitas saya terlalu berlebihan jika menganggap semua itu punya saya. Karenanya saya tidak perduli siapa saya dan seperti apa wujud saya.

Karenanya saya hanya perduli dengan apa yang saya lakukan untuk diri saya dan orang-orang di sekitar yang menganggap saya bukan siapa-siapa.

Dan karenanya saya bangga menjadi saya yang bukan siapa-siapa.